Rustam: Mantan Waiter Kapuas Palace Jadi Rektor Muda IKIP-PGRI Pontianak

Rektor IKIP PGRI Pontianak, Rustam.

Masa depan adalah misteri. Tak ada yang tahu jalan sukses seseorang. Sempat  jadi pelayan hotel, Rustam A Munif kini berada di puncak karier, sebagai Rektor IKIP PGRI Pontianak. Rustam menepuk jidat seakan tak percaya nasibnya seberuntung ini. Tak pernah bermimpi, apalagi merencanakan. Seperti air, semua mengalir begitu saja. Inilah jalan hidupnya.

Rustam dilantik sebagai Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (IKIP-PGRI) Pontianak, 21 Mei 2018. Ia menggantikan gurunya, Prof Samion, Ketua PGRI Kalbar sekarang.

Bacaan Lainnya

Sebelum menjadi dosen, lulusan SMEA 2 Pontianak tahun 1990 ini malang melintang dengan beragam pekerjaan.  Setahun lulus, ia bekerja sebagai karyawan perusahaan mebel PT Kurnia Jaya Raya di Tanjung Hulu. Pekerjaan buruh kasar itu dilepasnya ketika lolos jadi staf Tata Usaha (TU) SD Mujahidin Pontianak tahun 1993.

Namun gaji honor yang diterima, tidak mencukupi. Rustam muda putar otak. Ia lantas berinisiatif menyebar lamaran. Pertengahan 1994, ia diterima sebagai karyawan di Kapuas Palace Pontianak.

WAITERS – Rustam saat masih bekerja di Kapuas Palace antara 1994-2001. Saat itu, siang dilakoni sebagai staf TU SD Mujahidin, malamnya bekerja di hotel. ISTIMEWA

“Jadi siang di TU, malam kerja di hotel,” ujar Rustam kepada insidepontianak.com, Kamis (16/7/2020).

Di hotel, Rustam ditempatkan sebagai waiter. Melayani tamu. Prinsipnya tamu adalah raja yang harus dilayani dengan senyum, dan sepenuh hati.

“Sampai-sampai dengan tamu yang mabuk dan memaki kami, tapi kami tetap sabar melayani,” ceritanya.

Dari kerja di dua tempat itu, pundi rupiah dipakai untuk meminang sang istri, Agustina, tahun 1997. Sayangnya, tahun 2001, hotel tempatnya kerja tutup. Pailit (belakangan hotel tersebut dibeli pengusaha lain dan kembali berdiri). Walau sempat dibikin keteteran, Rustam yakin banyak rezeki di pintu lain.

Tugasnya di TU SD Mujahidin Pontianak masih dilakoni. Sang Kepala Sekolah, Ahmad Yani, mendorongnya kuliah S-1. Abang angkatnya itu tahu, Rustam punya potensi.

“Beliau berpesan saat itu, agar melanjutkan pendidikan S-1. Dia bilang kalau mau menempuh pendidikan jangan berpikir sudah tua, dan punya anak,” ceritanya.

Waktu itu, Rustam sudah 33 tahun. Dorongan keluarga buat niatnya mantap. Walau ada saja yang tak percaya, ia bisa menyelesaikan studi. Alasannya sepele, ketika sekolah dulu, Rustam anak nakal.

“Beberapa pihak tidak yakin kalau saya bisa selesai kuliah. Saya dulukan nakal,” ujarnya.

Kenakalan itu membawanya memilih jurusan Bimbingan dan Konseling (BK). Bayangan masa lalu, di sosok berbeda. Almamater biru Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Pontianak resmi dipakai 2003. Empat tahun setelahnya, lulus dengan predikat sangat memuaskan. Orang-orang heran.

LULUS – Rustam saat wisuda kelulusan profesi konselor tahun 2012. ISTIMEWA

Jejak Langkah

Rustam jadi dosen sejak tahun 2007. Tahun pertama lulus kuliah. Keberuntungannya seperti remah roti yang ditinggalkan orang tersesat, selalu berurutan. Kala itu, STKIP PGRI Pontianak tengah menjaring dosen muda.

“Saya akhirnya melamarkan diri sebagai dosen. Ikut tes bersama kawan-kawan,” ujar penulis dua jurnal internasional dan delapan jurnal nasional ini.

Dari sisi pengalaman, sudah ada. Ia matang di administrasi pendidikan, belajar dari tata usaha di SD Mujahidin hingga jadi bendahara. Sampai-sampai ketika jadi dosen, laporan keuangan Yayasan STKIP dia yang mengerjakan.

Walau sebenarnya, semua tak mulus-mulus benar. Saat tes, dia terganjal usia. Syarat memberi batas 35. Ia sudah 37. Di tengah kegalauan, tanpa sengaja bertemu pembimbingnya, Prof Asrori. Ditanyakanlah hasil tes dosen.

“Saya bilang gak lulus Pak, karena faktor umur,” ujarnya mengulang jawaban dulu.

Mendengar itu, Prof Asrori berinisiatif menghubugi Ketua STKIP. Toleransi diberi. Ada kemampuan yang tak boleh disiakan. Rustam A Munif pun jadi dosen kampus swasta tersebut.

SERTIJAB – Prof Samion saat menyerahkan estafet Rektor IKIP-PGRI Pontianak kepada RUstam, 21 Mei 2018. ISTIMEWA

Tahun 2017 Rustam masih Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial (FIPPS). Selang setahun, dia maju pemilihan rektor melawan Prof Hamid Darmadi. Banyak yang meragukan. Namun ternyata suara senat memenangkannya.

Latar belakang pendidikan rektor muda, jadi salah satu alasan ia diragukan. Dia baru strata dua. Belum lagi, kiprah rektor sebelumnya Prof Samion dirasa sulit di tandingi. Apalagi, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Termasuk peningkatan jumlah mahasiswa. Tapi siapa sangka, dari tangannya untuk pertama kali IKIP-PGRI bekerja sama dengan dua universitas luar negeri.

“Ada keraguan dari berbagai pihak, tapi saya berusaha bekerja maksimal untuk lembaga, terutama meningkatkan kualitas dan tata kelola PT (Perguruan Tinggi),  dan kerja sama dengan berbagai pihak mengembangkan IKIP,” katanya.

Rustam tak pernah punya cita-cita jadi rektor. Ia hanya ingin jadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Garis tangannya punya cara.

“Jika dihitung dengan matematik tak masuk akal. Saya jadi dosen baru 13 tahun. Saya tidak pernah berpikir menjadi rektor. Cuma gak tahu garis tangan mengantarkan saya menjadi rektor,” paparnya.

Dari Keluarga Sederhana

Rustam lahir di Pontianak, 18 Desember 1970. Anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya H Munif seorang PNS di Departemen Agama yang juga imam Masjid Raya Mujahidin Pontianak, dan pernah menjadi kepala sekolah Madrasah Aliyah. Sedang ibunya, Hj Badariah, seorang ibu rumah tangga dan guru ngaji.

Rustam besar di keluarga agamis. Salat tak boleh tinggal. Urusan mengaji, diawasi. Tak jarang, dia dimarah sang ayah karena malas salat.

“Tiap tiba waktu salat, kami tetap dipaksa agar salat lima waktu. Bahkan paling sering subuh hari disiram dengan air suruh kita bangun,” ceritanya sambil tertawa.

Beda dari ayahnya, sang ibu lebih kalem. Rustam diajari sabar dan disiplin dalam ibadah. Dari kisah-kisah itulah Rustam merawat kewajiban salatnya hingga dewasa.

Rustam kecil hidup sederhana. Uang jajannya Rp100 dari SD-SMA. Makan di rumah hal utama, jarang sekali jajan di sekolah. Ke mana-mana pun jalan kaki.

“Saya juga ingat betul. Kami tidak menggunakan sepatu, kaki ayam. Dulu juga gak pakai baju seragam. Belum ada waktu itu,” timpalnya.

Lulus SD, orang tua ingin Rustam masuk pesantren. Mengikuti jejak saudara lainnya. Namun ia kekeh menolak. Malah daftar di SMPN 13 Pontianak. Mau tak mau keluarga mengamini, dan dia lulus hingga lanjut di SMEAN 2 Pontianak.

POTONG TUMPENG – Rektor IKIP-PGRI Pontianak, Rustam memotong tumpeng Disnatalies ke VI tahun 2020. ISTIMEWA

Di sana jalannya tak mulus. Prestasinya tidak baik-baik betul. Di kelas 3, ada satu semester tak masuk kelas. Pasalnya, kedua kakinya patah akibat kecelakaan motor. Buah kenakalannya. Rustam sempat ditawari ujian tahun depan, namun tidak mau. Ingin tetap selesai tahun itu.

“Akhirnya begitu mau ujian saya ingat betul, saya ditandu dibawa pakai ambulans  ke ruang ketik sekolah. Jadi saya ujian di sana sambil baring tahun 1990,” ungkap penulis empat buku sepanjang 2016-2020 ini.

Nahas, hari terakhir ujian, ambulans yang biasa membawanya tak ada.  Akhirnya terpaksa menumpang becak. Terakhir, ia ujian di depan pintu gerbang sekolah.

“Itu pengalaman yang mengesankan buat saya. Tapi meski begitu nilai saya masih masuk 10 besar saat itu,” jelas Rustam.

Rustam menyuskuri pencapaiannya sekarang.  Di balik keberhasilannya, ia sadar  tauladan orang tua, guru maupun dukungan keluarga punya andil besar.

“Tidak ada anak di dunia yang sukses tanpa restu orang tua. Tauladan mereka menjadi bekal saya,” pesannya. (andi ridwansyah/abdul halikurrahman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *