Belum Tetapkan Tersangka Bansos Covid-19 Balai Transportasi, Kajati Sebut Masih Mengumpulkan Bukti

Kajati Kalbar, Jaya Kesuma.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kalimantan Barat hingga kini belum menetapkan tersangka dugaan korupsi Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19 yang terjadi Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XIV Provinsi Kalimantan. Saat ini, Kejati masih mengumpulkan bukti-bukti sebelum akhirnya menetapkan tersangka dalam kasus ini.

“Sampai saat ini kasusnya masih didalami. Kita masih mengumpulkan dokumen pendukung untuk menetapkan tersangka,” ujar Kajati Kalbar Jaya Kesuma, Rabu (22/7/2020).

Bacaan Lainnya

Kesuma mengatakan, beberapa waktu lalu tim penyidik beberapa telah mengambil sikap, atau kesimpulan. Namun, pihaknya meminta agar tim melengkapi bukti dan dokumen lain sebelum penetapan tersangka.

“Kita juga tidak mau gagabah menetapkan tersangka yang akhirnya justru menyulitkan kita menindak lanjutinya jika tanpa alat bukti yang cukup,” terangnya.

Kesuma memastikan akan menuntaskan kasus tersebut dengan cepat. Saat ini lima hingga tujuh saksi telah diperiksa.

“Target kita secepatnya karena itu adalah kerja yang harus diselesaikan cepat,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, pada 26 Mei 2020 Kejati Kalbar menyelidiki dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Covid-19 di Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) Wilayah XIV Provinsi Kalimantan Barat. Bantuan dengan nilai Rp177 juta yang berasal dari Kementerian Perhubungan itu, diduga tidak diserahkan 100 persen kepada masyarakat terdampak Covid-19.

“Kami melakukan penelitian beberapa tempat dan di satker bersangkutan ternyata ada kejanggalan, dan bantuan tidak 100 persen diserahkan kepada masyarakat,” ungkapnya dalam rilis pers di Kantor Kejati Kalbar, Selasa (26/5/2020).

Bantuan paket sambako dengan nilai Rp250-300 ribu per paket itu, rencananya akan dibagikan kepada masyarakat di Desa Rasau Jaya, Kubu Raya. Namun, bantuan tersebut diduga baru disalurkan sebanyak 10 persen. Kejati memeriksa enam saksi termasuk dua terduga pelaku berinisial D dan B, yang tak lain adalah Kepala Satuan Kerja (Kasatker) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Selain itu, penyidik juga menyita paket sembako yang baru dibeli setelah ada temuan pihak Kejaksaan. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *