Catatan Hari Anak Nasional 2020: Meresapi Kembali Makna “Terlindungi”

CERIA - Kegembiraan anak-anak di Sekolah Alam Terpadu Cerlang, Jl Johar nomor 82 Pontianak. CERLANG

Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2020 bertajuk tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan tagline #AnakIndonesiaGembiraDiRumah. Membaca deretan kata-kata tersebut, terlintas beberapa pertanyaan, satu di antaranya adalah, apa makna sesungguhnya dari kata “terlindungi” terhadap anak-anak? Apakah hal tersebut hanya sebatas fisik atau juga psikis.

Pertanyaan selanjutnya yang masih berhubungan dengan tagline itu adalah apakah kita sebagai orang dewasa, sudah dan akan terus menumbuhkan kegembiraan pada anak-anak? Dua pertanyaan ini layak menjadi renungan demi meresapi kembali makna teman Hari Anak Nasional tahun ini.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata terlindung merujuk kepada tiga arti. Pertama, tertutup oleh sesuatu sehingga tidak kelihatan (tidak kena panas, angin, dan sebagainya). Kedua, artinya tersembunyi (di balik sesuatu). Ketiga, artinya diselamatkan (dari bencana dan sebagainya).

Ketiga arti tersebut menyiratkan makna bahwa upaya perlindungan yang diberikan bertujuan untuk menghindarkan anak dari dampak negatif.

Jika kita melakukan upaya perlindungan terhadap anak, maka semestinya berlandaskan pemahaman tentang suatu kondisi yang akan berdampak positif. Apabila dikaitkan dengan kondisi saat ini, maka perlindungan bagi anak dari penyebaran Covid-19 dibangun atas pemahaman tersebut. Contohnya, anak diminta untuk belajar di rumah. Upaya tersebut seringkali malah mendatangkan juga dampak negatif terhadap anak.

Perlindungan secara fisik agar anak agar tidak terinfeksi Covid-19 dilakukan dengan cara mengenakan sejumlah alat pelindung diri, pembatasan fisik, dan lainnya. Upaya-upaya perlindungan tersebut cenderung lebih mudah diukur dampaknya dalam jangka pendek. Lantas bagaimana dengan perlindungan terhadap dampak negatif bagi psikologis anak selama masa pandemi Covid-19?

Mari kita lihat data tentang jumlah pengaduan kasus anak di Kalimantan Barat. Ternyata angkanya mengalami peningkatan selama masa pandemi Covid-19.

Sejak Januari hingga Juli tahun 2020 Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat mencatat 185 pengaduan masuk. Angka tersebut lebih besar jika dibandingkan jumlah kasus tahun 2019 yaitu 150 pengaduan.

Dalam kurun waktu sebulan, yakni Juli 2020, KPPAD Kalbar menangani 32 kasus. Pengaduan tersebut terdiri dari pengaduan langsung sebanyak tujuh kasus, dan non pengaduan 25 kasus. Dari jumlah tersebut, terdiri dari pengaduan kejahatan seksual berjumlah 17, anak terlantar satu pengaduan, kekerasan fisik satu pengaduan, hak kuasa asuh empat pengaduan, perlindungan khusus satu pengaduan, penelantaran ekonomi satu pengaduan, anak berhadapan dengan hukum tujuh pengaduan.

Melihat data-data tersebut, kasus yang dialami anak-anak Kalimantan Barat jumlahnya meningkat pada masa di mana anak sebagian besar anak berada di rumah. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menilai bahwa rumah tangga menjadi rentan di masa pandemi. Penyebabnya adalah banyak anggota keluarga yang harus tinggal di rumah dalam waktu lama, kemudian masalah ekonomi akibat kehilangan penghasilan dan persoalan lainnya. Selain itu pada masa belajar di rumah, orangtua dan anak berpotensi mengalami depresi karena metode pembelajaran secara daring yang dirasa membebani.

Demi melindungi anak dari dampak negatif bagi psikologisnya selama masa pandemi Covid-19, perlu penguatan peran orangtua dan keluarga. Sehingga rumah benar-benar menjadi tempat yang menggembirakan bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Pola asuh yang menerapkan komunikasi dengan prinsip berpusat pada anak, akan membangun kemampuan orangtua lebih mengenali karakter, potensi, minat, dan bakat anak.

Di tengah metode pembelajaran online yang pada umumnya dikeluhkan menjenuhkan bagi anak, marilah orangtua menjalankan peran penting sebagai guru utama menerapkan cara belajar yang membahagiakan bagi anak. Pendekatan “Bermain Adalah Belajar” sangat menarik untuk dikembangkan orangtua bersama anak. Depresi akan menjauh tatkala orangtua dan anak menjalin kedekatan, mengembangkan kreativitas di rumah, dan menumbuhkan semangat saling belajar.

Keluarga Indonesia, mari lindungi anak dan jangan lupa berupaya menumbuhkan jiwa anak yang gembira meski saat ini kita tengah menghadapi tantangan di masa pandemi Covid-19. (*)

 

Penulis:
Dian Lestari, Ketua PKBM Sekolah Alam Terpadu Cerlang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *