Pengakuan Pengguna Jasa Prostitusi Pelajar di Kota Pontianak, Berawal di Michat Berakhir di Hotel

INTEROGASI - Kapolresta Pontianak Kota, Kombes Pol Komarudin menginterogasi MN, pengguna jasa prostitusi pelajar ketika rilis pers, Jumat (24/7/2020).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kasus prostitusi online yang melibatkan pelajar atau anak di bawah umur di Kota Pontianak membuat berbagai pihak prihatin. Dengan mudahnya, mereka dijual kepada pria hidung belang melalui aplikasi MiChat. Tarifnya pun beragam. Mulai dari Rp300 ribu hingga Rp1 juta untuk sekali kencan.

MN (24), warga Pontianak pengguna jasa yang diringkus Polresta Pontianak Kota mengaku berkenalan melalui MiChat.

Bacaan Lainnya

“Awalnya saya cari di aplikasi MiChat. Saya pilih dulu orangnya, saya tanya dia open buka kamar, dengan harga Rp300 ribu,” terangnya.

MN pun lantas berkomunikasi dengan Bunga (bukan nama sebenarnya). Selanjutnya mereka komunikasi via WhatsApp. Dia meminta dikirimi foto-foto Bunga. Sampai akhirnya janjian kencan di sebuah hotel di Kota Pontianak.

Dari foto yang dikirim, MN mengaku tak curiga bahwa Bunga masih anak di bawah umur.

“Dari foto kita gak kelihatan masih anak-anak,” jelasnya.

Setelah itu, MN bergegas menuju hotel yang sudah disiapkan Bunga. Sesampainya di sana, dia membayar uang tunai sebesar Rp300 ribu sebelum kencan.

“Tapi permainannya belum selesai dia bilang sudah, gak mau lagi. Jadi saya merasa tertipu permainannya belum selesai. Dia bilang udah gak mau lagi. Saya merasa tetipu uangnya sudah sama dia,” pungkasnya.

MN diamankan Kepolisian Resor Pontianak Kota bersama empat muncikari kasus prostitusi pelajar di Pontianak. Mereka memanfaatkan aplikasi MiChat untuk komunikasi. Dua pelajar korban ekploitasi seksual kasus ini pun sudah dapat penanganan.

Uniknya, dari empat muncikari, tiga di antaranya juga masih di bawah umur.

Kapolresta Pontianak Kota, Kombes Pol Komarudin mengatakan terungkapnya kasus ini, berawal dari laporan orang tua korban yang heran anaknya tidak pulang. Dari sanalah polisi melakukan penyelidikan.

“Kita dalami melalui sarana komunikasi, kita coba intai melalui aplikasi yang cukup familiar di kalangan milenial yakni MiChat,” kata Komarudin dalam rilis pers di Mapolresta Pontianak, Jumat (24/7/2020).

Dari penyelidikan, petugas akhirnya mengamankan lima tersangka, yang terdiri dari seorang pengguna jasa, dan empat tersangka lainnya yang menjajakan dua korban. Kelimanya diamankan di kamar Hotel Ibis, Jalan Ahmad Yani di Kota Pontianak, Jumat (17/7/2020).

“Kelimanya adalah AZ dan MF pacar korban. Sementara dua orang lainnya yang turut menjajakan. Sementara satu orang yang menggunakan jasa atau konsumen berinisial MN,” terangnya.

Komarudin mengatakan, sindikat prostitusi di bawah umur ini melancarkan aksinya dengan berkerumun dan berkelompok dalam sebuah hotel. Modusnya berpacaran, lalu mereka juga menjual pacarnya kepada pria hidung belang.

“Mereka adalah sindikat, berkerumun pacar-pacaran dan menjual pacarnya sendiri, dengan tarif Rp300 ribu sampai Rp1 juta,” terangnya.

Sebelum beraksi, para muncikari menyewa kamar di beberapa hotel di Kota Pontianak. Setelah itu menawarkan kepada konsumen melalui aplikasi MiChat.

“Setelah ada respon, dan calon konsumen datang ke hotel, di sinilah mereka melakukan aktivitas seksual. Sementara rekan mereka menunggu di luar,” jelasnya.

Tersangka terancam dengan pasal
81 ayat 2 karena melakukan hubungan badan dengan anak di bawah umur dengan ancaman hukuman 15 tahun dan denda Rp15 miliar.

“Sementara pelaku yang melakukan ekploitasi seksual yang menjajakan, menawarkan, kami jerat dengan pasal 88 dengan ancaman hukuman 10 tahun dan denda Rp200 juta,” pungkasnya. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *