PN Pontianak Dituding Main Mata atas Hilangnya Dua Barang Sitaan di PT Steadfast Marine

AKSI - Aksi yang digelar puluhan eks karyawan di depan Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Rabu (29/7/2020).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Dengan penuh emosi, puluhan karyawan eks PT. Steadfast Marine kembali menggelar aksi Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Rabu (29/7/2020) pagi. Mereka menuding PN Pontianak bermain mata dalam kasus hilangnya dua barang sitaan yang dititipkan di perusahaan galangan kapal tersebut.

“Pengadilan ini main mata, sudah jelas, bukti sudah ada, Pengadilan datang ke perusahaan untuk apa?” tanya salah satu massa aksi.

Bacaan Lainnya

Dia pun mempertanyakan mengapa sampai dua barang sitaan yang sudah disita Pengadilan bisa hilang. Hal tersebut dinilai tak masuk akal, apalagi berpindahnya barang tersebut tak diketahui petugas di sana.

“Ini kan lucu, lucu,” ungkapnya.

Mereka pun mempertanyakan penegakan hukum yang terkesan terbang pilih dalam kasus itu.

“Maling ayam saja ketahuan kandangnya, ini maling besar-besar tidak tahu,” terangnya.

Massa juga mendesak PN Pontianak bertindak objektif dan tidak melindungi pengusaha. Hingga kini, sejumlah massa masih menunggu di depan PN Pontianak, sementara beberapa perwakilan mereka bertemu dengan perwakilan Pengadilan.

Diberitakan sebelumnya, 55 eks karyawan PT. Steadfast Marine sudah berjuang empat tahun mencari keadilan pascamendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak tanpa pesangon tahun 2016 silam. Perjalanan panjang mereka tempuh, sampai peradilan tertinggi dijalani. Bahkan dua di antara mereka berpulang lebih dulu sebelum merasakan ujung.

“Tahun 2016 kami semua di-PHK karena tak terima dikontrak berulang-ulang. Aturan Disnaker dulu lebih dari tiga kali maka menjadi karyawan tetap atau di-PHK. Nyatanya kami tetap dikontrak padahal lebih dari tiga kali, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun tetapi kontrak terus,” kata David salah satu eks karyawan PT. Steadfast Marine, kepada insidepontianak.com, Kamis (11/6/2020).

Akibat PHK sepihak itulah, buruh las di perusahaan galangan kapal tersebut menuntut hak mereka dengan melapor ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Tak ada titik tengah, kasus berproses di Pengadilan Perselisihan Hukum Industrial (PHI) sampai inkrah di Mahkamah Agung (MA) dan 55 eks karyawan menang di akhir tahun 2019.

“Kami dipertemukan lagi dengan perusahaan tapi perusahaan masih ngotot, kemudian dilakukanlah eksekusi dan  penyitaan empat aset untuk membayar pesangon 55 pekerja,” terangnya.

Empat aset tersebut yakni satu crane merek Cobelco CC05 kapasitas 100t dan satu crane berkapasitas 50t, satu mesin pemotong plat besi merek Huanheng tipe procut, dan satu mesin pemotong plat besi tipe GS. Empat barang tersebut selanjutnya dilelang dengan harga Rp4,3 miliar. Sementara Rp2,7 miliar dari hasil penjualan harus dibayarkan ke karyawan sebagai ganti rugi pesangon.

“Tapi dua hari lalu, saat calon peserta lelang hendak membeli, mendapati dua crane di antara empat barang yang hendak dilelang telah hilang. Padahal jelas barang ini tidak boleh digerakkan,” jelasnya.

Pascahilangnya dua barang sitaan tersebut, puluhan eks karyawan PT Steadfast Marine mendatangi Pengadilan Negeri Pontianak, Kamis (11/6/2020) pukul 11.30 WIB. Mereka meminta pertangungjawaban pengadilan, sampai akhirnya kasus itu dilaporkan pengadilan ke Polresta, Selasa (23/6/2020). Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai kasus itu. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *