Sentuhan Hutama Karya Bikin Ekonomi PLBN Entikong ‘Bergairah’

MELINTAS - Dua orang warga Indonesia berjalan menuju gedung utama PLBN Entikong, Sanggau yang selesai dipermak PT Hutama Karya beberapa waktu lalu. MUHLIS SUHAERI/INSIDEPONTIANAK.COM

Kebijakan Presiden RI, Joko Widodo merombak total bangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, empat tahun silam, tidak hanya mengubah wajah fisik perbatasan semata. Di balik itu, ada titik balik yang diharapkan oleh pemerintah. Yakni menghilangkan stigma PLBN bukan lagi sebatas pintu perdagangan ilegal, melainkan bagaimana menggairahkan aktivitas ekspor hasil bumi dari masyarakat perbatasan.

Irwandi (37) misalnya. Warga Desa Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, merasa beruntung, menjadi warga perbatasan. Meski kerjanya sebagai petani lada tetapi ia dekat dengan jaringan pasar. Terutama pelaku usaha dari negara tetangga, Malaysia.

Bacaan Lainnya

Balai Karangan, tempat tinggal Irwandi berjarak sekitar tujuh kilometer dari PLBN, tepatnya di Kecamatan Entikong. Wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Kuching, Malaysia.

Lantaran jarak tempuh yang dekat ke PLBN, Irwandi juga memiliki akses pembeli lada dari Malaysia. Lebih tepatnya dari daerah Tebedu. Sekitar 15 menit dari PLBN menggunakan kendaraan.

“Karena kami warga perbatasan, dan sering bolak- balik masuk Tebedu. Saya cukup banyak kenal dengan penadah-penadah lada dari Malaysia,” kata Irwandi, kepada insidepontianak.com.

Alasan ia menjual lada ke Malaysia, karena mereka berani memberi penawaran harga lebih tinggi dari pengusaha lokal. Di Malaysia, lada putih kualitas terbaik dihargai RM 70 atau senilai Rp224 ribu per kilogram, sedangkan di pasar lokal hanya dihargai Rp160 ribu hingga Rp175 ribu per kilogram untuk kualitas sama.

Setiap kali turun ke Tebedu, ia membawa 50-100 kilogram lada, dengan keuntungan bersih Rp3-5 jutaan.

Di perbatasan Entikong, selain lada, banyak komoditi pertanian lain yang bisa dijual ke negara tetangga. Misalnya karet, kakao, pisang dan padi.

PERBATASAN – Batas dua negara, Indonesia dan Malaysia di PLBN Entikong. MUHLIS SUHAERI/INSIDEPONTIANAK.COM

Data sistem otomasi perkarantinaan atau IQFAST pada 2017- 2019, sertifikasi eksportasi komoditas pertanian melalui PLBN Entikong, sebanyak 333 dengan jumlah komoditas 16 jenis, tahun 2018 sebanyak 495 dengan jumlah komoditi delapan jenis dan periode Januari hingga pertengahan bulai Mei 2019 sebanyak 900 dengan jumlah komoditi 65 jenis.

Artinya, jenis komoditi pertanian yang diekspor dari perbatasan ke Malaysia meningkat delapan kali lipat.

Peningkatan itu terjadi semenjak kebijakan pemerintah menjadikan perbatasan negara sebagai etalase sekaligus pusat ekonomi baru di Kalimantan Barat. Tepatnya pada saat Presiden RI, Joko Widodo meresmikan gedung PLBN Entikong, Rabu, 21 Desember 2016.

Dalam pidatonya, ia menginginkan Entikong menjadi pusat ekonomi baru yang modern. Apalagi kota itu berada di pusat perbatasan lintas negara Indonesia-Malaysia.

“Kita memang ingin ada kegiatan ekonomi besar. Di sini akan ada pasar modern, bukan mal. Di sini nanti usaha-usaha kecil dan usaha mikro bisa berjualan,” kata Presiden Jokowi saat meninjau Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu, 23 Maret 2016.

Jokowi menginginkan pos perbatasan di Indonesia menjadi kebanggaan.

“Kita harus menunjukkan perbatasan adalah jendela, halaman muka kita, dan orang masuk ke negara kita merasakan bahwa ini negara besar,” katanya.

Sentuhan Hutama Karya

PLBN Entikong merupakan satu dari tiga pembangunan ulang PLBN di Kalbar. Ada tiga lokasi dilakukan pembangunan ulang. Yaitu PLBN Entikong di Kabupaten Sanggau, PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, dan PLBN Nanga Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. Dua lainnya, PLBN Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang dan PLBN Sungai Utik, Kabupaten Sintang, mulai dibangun tahun 2020.

PLBN Entikong sejak dulu merupakan jalur lintas batas yang paling ramai dan utama. Perbatasan ini terletak di ujung Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Di bagian depan setelah gapura terdapat ornamen Dayak. Ada juga Monumen Garuda yang jadi tempat favorit masyarakat berfoto.

DIPERIKSA – Warga negara Indonesia yang pulang dari Malaysia melalui PLBN Entikong diperiksa petugas, Kamis (24/4/2020). Pembangunan PLBN membuat sarana dan prasarana pengamanan dilengkapi. BP3TKI PONTIANAK

PLBN Entikong dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya. PT Hutama Karya (Persero) diberikan kepercayaan pemerintah untuk memoles dan mempercantik PLBN dengan mengembangkan kawasan seluas 73 ribu meter persegi dengan nilai proyek senilai Rp420 miliar.

Proyek yang dibangun meliputi bangunan utama PLBN, bangunan pemeriksa kargo kedatangan dan keberangkatan, monumen garuda, check point pelintas, serta check point pemeriksaan kargo.

Adapun lama pengerjaan sejak Agustus 2015 hingga Desember 2016. PLBN Entikong merupakan lintas batas orang dan barang batas negara. Fungsinya meliputi keimigrasian, kepabeanan, karantina, keamanan, dan lain-lain.

PLBN Entikong berhadapan dengan Pos Imigresen Malaysia. Bangunan PLBN memasukkan unsur arsitektur lokal, ornamen dan elemen dekoratif khas warga lokal. Misalnya saja bisa dilihat pada bagian atap PLBN, terlihat sekali sebagai adaptasi bentuk Rumah Panjang dan Perisai Suku Dayak.

Viktorius Dunand, Kepala PLBN Entikong menjelaskan, bangunan PLBN Entikong dibuat dengan memasukkan unsur lokalitas dari bangunan masyarakat lokal. Yaitu bangunan Rumah Betang atau Rumah Panjang.

“Di depan PLBN terdapat motif selamat datang. Ada perisai. Ada keterbukaan. Motif di dinding, artinya, menebarkan kebaikan untuk pelintas,” ujarnya.

Perisai merupakan simbol pertahanan NKRI yang melindungi. Corak dan warna cerah kuning diterapkan pada bagian dinding dan elemen relief pada bagian pintu gerbang. Seperti juga pada bangunan PLBN lainnya, sirkulasi udara, pencahayaan, sangat diperhatikan dalam pembangunan PLBN Entikong. Hal itu bisa dilihat dengan adanya pencahayaan yang dibuat secara alami, melalui pola bukaan dan penggunaan material transparan.

Luas lahan PLBN Entikong sekitar delapan hektare dengan luas bangunan 19.493 meter persegi. Pembangunan Zona Inti PLBN Entikong, terdiri dari Bangunan Utama, Pos Lintas Kendaraan Pemeriksaan, dan Bangunan Pemeriksaan Kargo.

Ada bangunan utilitas berupa Rumah Pompa dan Power House, Monumen, Gerbang Kedatangan dan Keberangkatan, Jalan, Lansekap, serta Alur Pedestrian.

Pada pembangunan selanjutnya, ada penambahan area parkir, bangunan PLBN, mess pegawai, klinik, masjid, hingga pasar tematik. Pemerintah juga sudah menganggarkan pembangunan terminal barang dan penumpang.

Di PLBN Entikong juga menyiapkan pemeriksaan kesehatan terhadap pelintas batas. Seumpama sedang terjadi wabah, misal flu burung, Zika, atau MERS-CoV, pemeriksaan kesehatan bakal difungsikan bagi para calon pelintas batas Malaysia-Indonesia. Alat suatu alat pendeteksi suhu tubuh yang bakal berfungsi membantu pekerjaan petugas.

PERIKSA – Petugas memeriksa setiap pelintas di PLBN Entikong untuk menghindari penjangkitan penyakit dari luar. Alat pemindai ini jadi salah satu kelengkapan setelah PLBN selesai dibangun. KKP KELAS II PONTIANAK

Terdapat juga bagian karantina. Fungsinya, memeriksa hewan atau tumbuhan yang dibawa pelintas batas. Setiap hewan peliharaan atau lainnya, harus dilengkapi surat-surat. Bahkan, PLBN juga dilengkapi Ruang Detensi untuk pelintas batas ilegal, lengkap dengan jeruji besi sebagai ruang isolasi.

Hingga saat ini, lebih banyak orang Indonesia dari Indonesia yang berangkat ke Malaysia. Biasanya mereka bekerja di Malaysia. Ada juga yang liburan atau malah berobat di beberapa rumah sakit di Sarawak.

PLBN Entikong sudah dibuka sejak 1989. Sejak itu sudah ada Bea Cukai, Imigrasi dan PLBN. Artinya sudah terpadu sejak dulu hingga tidak ada perbedaan. Bagi Kalbar bukan sesuatu yang asing, khususnya di Entikong sudah terpadu.

Ini tinggal menentukan sarana dan prasarana sudah dari dulu. Institusi pendukung sudah berjalan. Hanya saja pengelolaannya yang beda. Awalnya perbatasan dipegang oleh kabupaten. Setelah itu dipegang Dinas Perhubungan Provinsi. Lalu, di bawah Badan Pembangunan Perbatasan dan Daerah Tertinggal Provinsi (BP2DT). Sekarang di bawah Badan Nasional Pembangunan Perbatasan (BNPP) Pusat.

Mirip Kandang dan Jalur Ilegal

Jauh sebelum PLBN direnovasi total. Wajah bangunan PLBN, jauh dari terkesan megah. Bahkan kawasan ini punya stigma sebagai areal penyelundupan ilegal.

Pada sebuah kesempatan, Presiden RI Jokowi, pernah menyindir. Bangunan PLBN Entikong lebih mirip seperti kandang ketimbang gedung layanan keimigrasian batas negara.

“Dua tahun yang lalu, Desember. Saat saya ke Entikong, yang namanya gedung imigrasi, karantina, bea cukai seperti kandang. Betul-betul seperti kandang,” kata Joko Widodo.

Mantan Kapolda Kalbar 2014-2016, Komjen Arief Sulistyanto, bahkan berkata, Entikong rawan terjadi penyelundupan barang. Pada saat itu Pos pemeriksaan Entikong belum dilengkapi dengan perangkat pemindai untuk kendaraan besar. Akibatnya, isi mobil dengan muatan besar yang keluar-masuk tidak bisa terpantau. Tak aneh jika narkotik bisa dengan mudah diselundupkan ke dalam kendaraan yang sarat muatan tersebut.

Termasuk aneka penyelundupan, dari ribuan botol minuman keras, puluhan suku cadang mobil, barang elektronik, mainan anak-anak, makanan, minuman, airsoft gun, hingga gula rafinasi.

“Sekarang pengawasan lalu lintas di PLBN  sudah sangat ketat,” Viktorius Dunand, Kepala PLBN Entikong.

POS – Pos Pol Perbatasan di PLBN Entikong masih berupa bangunan sederhana pada tahun 2009. MUHLIS SUHAERI/INSIDEPONTIANAK.COM

Masalah narkoba di Entikong kecil sekali karena alat cukup lengkap, petugas Bea dan Cukai terlatih dan lengkap. Bahkan alat mobil X-Ray yang mendeteksi apa yang dibawa dalam suatu mobil juga ada. Namun, alat itu belum dioperasionalkan karena belum lengkapnya SDM. Selain itu, karena sinar dan efek dari radiasi alat itu cukup tunggi, karenanya harus ditambahi dulu peralatannya sehingga tidak membahayakan bagi petugas.

“Pembangunan PLBN dan jalan di perbatasan berdampak pada ekonomi masyarakat. Apalagi dengan dibangunnya pasar,” kata Dunand.

Perbatasan menjadi jalur lintas ekspor dan impor. Komoditas dari Indonesia, biasanya berupa komoditas ternak, ikan dan hasil laut lainnya, dan beras. Impor umum masih terbatas dengan kuota 600 ringgit per bulan bagi dua warga di kecamatan yang berada di perbatasan, yaitu Kecamatan Sekayam dan Entikong.

Saat ini pemerintah sedang menggodok UU tentang ekspor-impor di perbatasan. Bila awalnya aturan itu hanya untuk wilayah di Entikong saja, ke depan dengan aturan yang baru, bisa digunakan untuk seluruh wilayah PLBN di seluruh Indonesia.

Pihak dari Bea dan Cukai setuju saja dengan aturan yang baru.

Pemerintah dua negara sedang menyelesaikan pembangunan jalan di depan perbatasan dua negara. Tinggal direalisasikan saja. Ada bukit tepat di batas RI-Malaysia. Akses dari jalan rencana akan dibangun jalan khusus yang langsung menuju dry port RI ke Inland Port Malaysia. Jaraknya sekitar 5 km.

“Kalau kita ingin meningkatkan taraf hidup masyarakat di kawasan perbatasan yang belum menikmati pembangunan, harus lebih banyak memperluas akes jalan di perbatasan. Banyak sekali akses yang lebih dekat ke Malaysia,” ujarnya.

Wahyu Widayati, staf di kantor Camat Entikong, mulai kerja di Entikong sejak tahun 2000. Saat itu kondisi bangunan di perbatasan Entikong masih kecil, sempit, ruang parkir tidak memadai.

“Saat ini kondisi semakin bagus. Tidak malu lagi sama warga negara tetangga, Malaysia. Wibawa pemerintah kelihatan karena bangunan yang bagus, luas dan tertata rapi. Bangunan yang sekarang jauh lebih bagus dari bangunan PPLN Tebedu punya Malaysia,” kata Wahyu.

Bangunan saat ini megah, orang Malaysia melihatnya jadi segan. Tidak memandang sebelah mata lagi. Dulu parkiran menyatu antara mobil dan motor di luar. Sekarang ini, mobil dan motor di parkir rapi dan tempatnya luas.

Warna bangunan juga disesuaikan dengan kondisi warga lokal di perbatasan. Cat bangunan lebih dominan krem, dan menonjolkan nuansa daerah asli.

“Kearifan lokal lebih tampak, etnis penduduk lebih nampak. Yang lama juga ada tetapi tidak dominan,” ujarnya.

Jalan raya sekarang sangat lebar dengan dua jalur. Yang lama hanya ada satu jalur dan sempit.

“Dulu Jalan Tanjung – Entikong memang sudah bagus karena jalan negara, tetapi sekarang lebih bagus lagi 96 km,” ujarnya.

KEBANGGAAN – Seorang warga Pontianak berfoto di depan monumen Pancasila PLBN Entikong, Sanggau, Januari 2020 lalu. Pascadibangun ulang, kemegahan PLBN jadi salah satu daya tarik masyarakat. MUHLIS SUHAERI/INSIDEPONTIANAK.COM

Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Amin Muhammad menilai, keberadaan PLBN Entikong Kalimantan Barat menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tinggal di perbatasan.

“Ada rasa kebanggaan khususnya masyarakat perbatasan, apalagi kondisi PLBN sudah bagus dan cantik. Dulunya banyak orang Pontianak dan Kalbar nyebrang ke Malaysia berfoto-foto ke sana, sekarang mereka nyerang ke sini,” kata Amin.

Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan roda ekonomi masyarakat. Mereka masuk ke Indonesia membeli barang-barang terutama hasil bumi. Di sisi lain, keberadaan PLBN Entikong juga mendorong perbaikan infrastruktur di wilayah  perbatasan.

“Ekonomi warga perbatasan terangkat karena PLBN Entikong dipermak. Ini bentuk dukungan pusat untuk menjadikan perbatasan beranda terdepan Indonesia,” katanya.

Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontianak, Andreas Acui menyebut PLBN Entikong punya posisi dan nilai strategis. Terutama dalam mendukung perekonomian masyarakat.

“Semakin banyak pintu keluar masuk barang, maka semakin mudah juga kita menyalurkan barang produksi kita ke luar negeri,” kata Acui.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *