Kurban: Sejarah Luar Biasa dan Biasa

SEMBELIH - Warga binaan Rutan Sambas menyembelih kambing kurban sumbangan warga di Rutan Sambas, Jumat (31/7/2020).

Dalam Iduladha 1441 Hijriah yang masih memendam pandemi yang berkepanjangan ini, tetap terdapat peluang celah untuk pintu kesadaran demi menjaga akal sehat (common sense). Dalam situasi apa pun, kesadaran sangat diperlukan sehingga berpotensi tetap berjalan di atas rel semestinya sesuai kenormalan umum. Termasuk, memaparkan sikap kenormalan baru (new normal) melalui kesadaran itu yang diturunkan (derivatif) kemudian.

Momentum menjadi arah yang tepat untuk mencari celah agar kesadaran muncul untuk memandu. Momentum yang dirasa tepat untuk ditangkap dalam geliat Iduladha adalah sejarah, yang sebenarnya tidak sekadar informasi, tetapi pengetahuan yang dapat dijadikan dasar untuk proses dialektika atau sintesa. Dikarenakan didalamnya terdapat perbandingan terhadap pemikiran yang dipengaruhi oleh konteks kekinian.

Bacaan Lainnya

Momentum yang digulirkan Nabi Ibrahim, Siti Hajar istrinya, beserta Nabi Ismail putranya merupakan sejarah luar biasa memberikan pengaruh secara pandemik ke seluruh jagad dunia. Ditambah, momentum tersebut di dalamnya terdapat situs kejadian yang dijadikan ritual ibadah haji yang ternyata tetap dilaksanakan di masa tanggap darurat pandemi dengan penerapan protokol kesehatan ketat, termasuk pembatasan jamaah calon haji oleh pemerintah setempat.

Sejarah luar biasa karena momentum yang digulirkan Nabi Ibrahim tertulis abadi di dalam kitab suci Alquran  surat al-Saffat 101–107. Oleh karena itu, celah semakin terbuka lebar untuk mendapatkan kesadaran demi memandu akal sehat sebab ragam pengetahuan didapat melalui multitafsir para penafsir (mufassirin). Kepasrahan sebagai kesadaran atas kehendak Allah merupakan salah satu celah saja.

Nabi Ibrahim pada gilirannya harus pasrah atas perintah Allah untuk menyembelih putranya Nabi Ismail yang telah beranjak dewasa. Meskipun diterpa oleh bisikan godaan tetap tidak mengubah pendiriannya demi kepasrahan kepada Allah. Pada akhirnya, semua itu merupakan ujian yang harus ditempuh oleh Nabi Ibarahim sebagai hamba-Nya dan diganti dengan hewan sembelihan besar dan dijadikan penanda syariat Islam sampai sekarang.

Berbekal dari sejarah luar biasa Nabi Ibrahim dapat dijadikan landasan juga untuk menumbuhkan sejarah biasa yang setiap orang mengalaminya. Sejarah biasa karena dampaknya hanya terbatas pada diri-sendiri, tidak berdampak massif atau pandemik sebagaimana sejarah dunia, seperti sejarah Iduladha. Memperhatikan sejarah pada dasarnya juga diperingatkan oleh Allah di dalam surat al-Hashr ayat 18:

ٓيأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ٰۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Apa yang telah diperbuatnya dapat dipahami sebagai sejarah sebab memang kejadian menyejarah merupakan kejadian yang telah diperbuat. Meskipun di dalam tafsir dipahami sebagai amal saleh yang diperbuat menjadi bekal di akhirat kelak. Menariknya, diikuti berikutnya dengan  hari esok dalam dimensi keduniawian maka sejarah merupakan landasan yang akurat untuk menyongsong hari esok kelak agar ada arah yang jelas.

Sejarah biasa yang dialami setiap individu pasti berbeda satu sama lain karena yang dialami dan rasakan sangat beragam. Ada yang lurus-lurus saja, sedikit berkelak-kelok, berlika-liku, dan bahkan naik-turun seperti roller coster. Akan tetapi, intinya sama semua bahwa keragaman sejarah itu merupakan informasi sekaligus pengetahuan acuan kerangka untuk langkah berikutnya. Bermodal pengetahuan tersebut maka arah langkah dapat ditujukan untuk lebih baik dari sebelumnya.

Melalui momentum Nabi Ibrahim tidak hanya bertumpu pada dimensi ritual semata, tetapi dimensi sejarah untuk dijadikan pengetahuan yang akan terus berkembang melalaui proses semestinya. Beranalogi (qiyas) pada sejarah individu yang di dalamnya terdapat pengetahuan untuk memicu pengetahuan lanjutan dengan kontekstualitasnya melalui proses yang semestinya. Di sisi lain, pengetahuan adalah penting yang berasal dari sejarah.

Sudut Rumah, 020820

 

Penulis:

Khairul Fuad, peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *