Angeline Fremalco: Penjaga Misi Pembangunan Hulu Kalbar

Ketua Komisi I DPRD Kalbar, Angeline Fremalco. FANSPAGE ANGELINE FREMALCO

Lelaki renta itu tiba-tiba tumbang. Ia terkena serangan jantung, usai mondar-mandir antar minum untuk massa. Padahal, acara kampanye baru saja dimulai. Buyar. Angeline Fremalco segera menghentikan orasi politiknya. Ia merasa bertanggungjawab. Warga itu segera dilarikan ke Puskesmas. Namun nyawanya tak selamat. Ajal menjempunnya di jalan.

Peristiwa kampanye di Kabupaten Landak itu, menjadi catatan pilu sepanjang  kampanye Angeline dalam perjuangan Pileg 2019 lalu. Sampai sekarang, ibu tiga anak itu masih tak bisa melupakan insiden tersebut. Matanya berkaca-kaca saat bercerita kepada Insidepontianak.com akhir Juli lalu.

Bacaan Lainnya

“Kampanye yang paling buat saya syok,” katanya.

Peristiwa itu, praktis jadi pintu masuk lawan politik menjegal. Omongan miring muncul. Menyudutkan. Bahkan isu itu terus digiring agar Angeline disalahkan. Namun perempuan kelahiran Mandor, 17 September 1983 itu tak hirau cibiran orang.

Sebagaimana orang-orang, dia pun tak ingin peristiwa itu terjadi. Yang penting baginya ketika itu, tetap bertanggung jawab. Semua diurus sampai pemakaman.

RESES – Angeline Fremalco rajin turun ke akar rumput untuk menyerap aspirasi masyarakat dan menjaga pembangunan tetap selaras dengan kebudayaan daerah. FANSPAGE ANGELINE FREMALCO

Kejadian itu membawa pesan khusus bagi Angeline. Mengajarkan nilai-nilai perjuangan. Semangatnya semakin terpacu memenangkan Pileg lima tahunan itu.

“Saya melihat, orang yang setua itu, serenta itu, dan sudah sakit, tapi masih semangat untuk hadir di kampanye saya. Saya lihat antusias itu, kepada saya. Dan harapan mereka kepada saya besar. Ini yang memacu saya,” katanya.

Gerakan di akar rumput makin gencar. Kurang lebih 250 lokasi didatangi. Jumlah itu dua kali lebih banyak dari jumlah desa di seluruh Kabupaten Landak, yakni 156 desa.

“Berarti, satu desa lebih dari satu kali saya datang berkampanye. Berarti per dusun juga,” sebutnya.

Kerja keras politisi PDI Perjuangan tersebut membuahkan hasil. Bahkan sangat memuaskan. Angeline meraup 76.497 suara. Tertinggi di DPRD Kalbar.

Namanya pun sempat diprediksi masuk bursa Ketua DPRD Provinsi Kalbar priode 2019-2024 utusan PDI Perjuangan. Namun ternyata meleset. Angeline duduk di DPRD Kalbar sebagai Ketua Komisi I.

Berkat Bimbingan Ayah

Bagi Angeline, karier politiknya kini berkat bimbingan sang ayah, Cornelis, mantan Gubernur Kalbar dua periode dan mantan Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar. Ia merasa beruntung, jadi anak tokoh politisi ulung. Tak masalah cibiran orang yang mengaitkan keterpilihannya dengan nama besar sang ayah.

Prasangka seperti itu menurutnya tak bisa dilarang. Sebab setiap orang punya sudut pandang dan cara berpikir masing-masing.

INSPIRASI – Angeline Fremalco (tengah) berfoto bersama ayahnya, Cornelis (kanan) dan ibunya Frederika Cornelis (kiri). Keduanya merupakan sosok inspirasi bagi Angel. FANSPAGE ANGELINE FREMALCO

“Itu bagaimana menyikapi saja. Kita mau lihat sisi negatifnya atau sisi positifnya? Kalau saya sih, mengambil sisi positifnya saja. Saya sangat beruntung menjadi anak dari Dr Cornelis, MH. Seorang tokoh politisi ulung. Dan saya menganggap itu suatu berkah. Bukan suatu beban,” katanya.

Namun, ia menggarisbawahi. Apa yang diraihnya, bukan semata mendompleng nama besar sang ayah. Tetapi, ada proses perjuangan besar dan panjang yang dijalani. Jauh sebelum Pileg dan tak semua orang tahu.

“Walaupun latar belakang saya pengusaha, tapi saya sudah lama di partai politik. Sebelum calon dewan pun, saya sudah sering turun kampanye. Jadi tim sukses. Ngadain baksos turun kampung. Turun lapangan. Jadi, politik bukan suatu hal yang baru bagi saya,” ungkapnya.

Angel terjun politik aktif, atas panggilan jiwa. Tidak ada arahan dari sang ayah. Apalagi didikte untuk kepentingan ‘politik dinasti’. Ia memastikan hal itu tidak pernah terjadi.

“Jadi, kalau orang beranggapan bahwa, Bapak mendikte dan menggembleng anaknya secara khusus di politik, itu salah besar,” katanya.

Ia menegaskan bukan ingin meneruskan dinasti politik Cornelis. Namun, tujuan khusus yang memaksanya berada di parlemen Kalbar saat sang ayah sudah tak berkuasa.

Perjuangan membangun kampung halaman, menjadi misi Angeline duduk di DPRD Provinsi Kalbar. Ia tak ingin Landak dianaktirikan. Bukan tanpa alasan. Menurutnya, sewaktu transisi Gubernur baru Sutarmidji, dari Gubernur lama Cornelis, terbukti sejumlah anggaran pembangunan yang dicanangkan di Kabupaten Landak dicoret. Semua tender dibatalkan, setelah Sutarmidji resmi dilantik sebagai Gubernur terpilih.

Angeline menganggap, hal itu buntut konstelasi politik saat Pilgub 2018. Di mana sang kakak, Karoline Margret Natasa yang berpasangan dengan Suryatman Gidot jadi rival utama Sutarmidji-Ria Norsan.

“Kekhawatiran saya adalah, jika kami kalah dalam konstelasi politik ini, maka perjuangan ini akan terhambat. Kami merasa daerah perhuluan Kalbar masih perlu banyak sentuhan. Yang mana dalam 10 tahun bapak jadi Gubernur, itu belum terselesaikan,” katanya.

MAKAN BERSAMA – Angeline Fremalco makan bersama warga yang jadi konstituennya di Landak beberapa waktu lalu. FANSPAGE ANGELINE FREMALCO

Semangat itu yang mendorong Angel masuk parlemen. Ia ingin jadi penjaga yang konsisten dalam mengawasi pemerintah agar melakukan pemerataan pembangunan tanpa tebang pilih.

“Saya putuskan ikut dalam perjuangan. Walaupun mungkin, tidak semaksimal jika menjadi kepala daerah. Tapi saya pikir, dengan menjadi DPRD, saya bisa menyuarakan daerah saya. Kampung halaman saya,” ucapnya.

Besar dengan Nomaden

Angeline Fremalco sempat tumbuh di pedalaman Landak. Keluarganya harus ikut sang bapak, yang bertugas sebagai camat. Pindah-pindah wilayah sesuai penugasan Kepala Daerah.

“Dulu Bapak itu camat di Menjalin. Pernah juga camat di Manyuke,” katanya.

Politisi 37 tahun itu pun menamatkan sekolah dasarnya di SDN 01 Menjalin. Sebelumnya juga sempat bersekolah di SDN 01 Mempawah, saat ayahnya masih bertugas di Kantor Bupati Kabupaten Pontianak yang sekarang sudah menjadi Kabupaten Mepawah setelah pemekaran Kabupaten Kubu Raya.

Cornelis sangat selektif memilihkan anak-anaknya sekolah yang baik. Sehingga saat SMP, Angeline didaftarkan ke SMP Gembala Baik Pontianak. Ikut kakaknya yang duluan masuk.

“Mungkin beliau paham (bagaimana fasilitas sekolah di kampung). Jadi waktu SMP kami sudah sekolah di Pontianak. Walau Bapak waktu itu tugas di daerah,” katanya.

Demi bisa sekolah di tempat yang baik, ia dan Karol harus pisah dengan orang tua. Mereka pun dititipkan ke tantenya sampai tamat SMA.

Daftar kuliah, Angel pilih masuk Universitas Tanjungpura. Ambil Fakultas Hukum. Beda dengan sang kakak, yang lebih memilih kuliah di Fakultas Kedokteran.

“Bapak boleh pilih jurusan apa saja dan di universitas mana saja. Saya ambil Fakultas Hukum Untan aja,” ucapnya.

Alasannya sederhana. Ia berpandangan, lulusan Fakultas Hukum punya ruang lingkup kerja yang luas. Benar saja. Saat lulus, Angel malah memilih berbisnis dan jadi pengusaha dan terjun ke politik aktif.

Ia tidak memilih jadi advokad. Apalagi PNS, ia sama sekali tak pernah tertarik. Padahal bapaknya seorang birokrat. Pernah jadi Bupati Landak sebelum jabat Gubernur Kalbar.

“Menjadi pengusaha bagi saya punya ruang yang fleksibel. Karena kita yang atur waktu sendiri,” katanya.

JELASKAN – Angeline Fremalco yang juga Ketua Baguna PDI Perjuangan Kalbar membagikan masker dan menjelaskan protokol kesehatan terkait Covid-19 kepada warga Pontianak beberapa waktu lalu. FANSPAGE ANGELINE FREMALCO

Salah satu usaha yang digelutinya adalah ritel Pertamina. Sampai jadi dewan pun, ia masih menekuni usahanya. Sebab menurutnya, gaji dewan pasti tak cukup untuk membiayai semua kebutuhan keluarga dan konstituennya.

Namun bukan berarti jadi dewan hanya kerja sampingan. Angelin punya prinsip, apa pun yang digeluti, totalitas adalah kunci. Sesuai pesan sang ayah. Termasuk akan sunguh-sungguh di dunia politik aktif yang kini dijalani.

“Saya sudah memutuskan di politik, saya tidak mau setengah-setengah. Bapak selalu mendidik kami untuk berprinsip. Kalau sudah memutuskan sesuatu, jangan mau digoyang dengan apa pun. Jangan mau terombang ambing. Jadi hidup ini harus punya perinsip,” katanya.

Apalagi menjadi politisi. Dinamika pekerjaannya sangat dinamis. Penuh tekanan. Penuh retorika. Sehingga jika tak memegang prinsip yang menjadi keyakinan, akan mudah terbawa arus kepentingan.

“Saya merasakan di sini (DPRD).  Sebagai politisi, memang harus punya prinsip yang kuat. Prinsip itu penting sekali dalam menentukan tindakan kita,” ujarnya.

Restu Suami Nomor Satu

Menjadi politisi perempuan tidak mudah. Tantangannya banyak. Terutama bagi waktu untuk keluarga. Apalagi bagi seorang ibu seperti Angeline yang punya tiga anak. Anak-anak harus tetap dapat perhatian. Sedang pekerjaan kedewanan super sibuk.

“Tidak gampang bagi waktu antara kerja politik dan keluarga,” katanya.

Hal itu makin terasa ketika pandemi Covid-19. Anak tertuanya kelas VII SMP. Yang kedua, kelas V SD. Paling kecil kelas satu SD. Belajar daring sedikit ribet. Karena orang tua juga harus rutin komunikasi dengan guru.

“Saya akui agak keteteran sekarang. Pernah pada saat rapat dengan guru, saya lupa buka WhatsApp Grup. Tahu-tahu anak saya ketinggalan satu Zoom kelas,” akunya.

Perempuan yang terjun di dunia politik kata Angel, harus dapat restu suami. Itu suatu yang penting. Tanpa restu suami, kerja-kerja politik yang waktunya tak menentu akan sulit dijalani.

“Dan bagaimanapun, kodrat kita sebagai wanita, suami sebagai kepala keluarga. Kalau kamu jalan tanpa restu suami juga pasti sulit. Ridho dari suami itu peting,” ujarnya.

Sebagai politisi perempuan, Angeline sangat kagum dengan kiprah politik Megawati. Ketua Umum PDI Perjuangan itu, inspirasinya terjun ke dunia politik. Menurutnya, Presiden Indonesia kelima itu merupakan sosok politisi perempuan yang berkarakter dan berprinsip.

“Role mode saya Ibu Megawati. Karena beliau seorang perempuan yang sukses di bidangnya. Beliau seorang fighter. Tapi, role mode politik pribadi saya, ya Bapak saya. Beliau lah yang menjadi tolak ukur dan acuan saya dalam bertindak,” katanya.

Tipe Apa Adanya

Angeline Fremalco politisi berkarakter apa adanya. Ramah. Suka baca. Tapi bukan bacaan berat atau yang terlalu serius. Ia suka baca komik. Waktu zaman SMA, juga suka baca novel. Penulis kesukaannya, Jhon Grisham.

“Itu bacaan zaman kuliah. Novel Jhon Grisham itu seru. Karena banyak cerita kasus hukum juga. Ceritanya seperti sangat dekat dengan kehidupan kita. Menarik dan seru,” sebutnya.

Dalam bekerja, ia tipikal orang yang sungguh-sungguh. Tak kenal istilah ‘setengah-setengah’. Dunia usaha membentuk karakternya jadi pribadi profesional dan disiplin. Di dunia politik, ia juga kritis terhadap hal-hal yang mengganggu logikanya.

Dalam karier politik, Angeline masih punya target besar lain yang akan diperjuangkannya. Baginya, capaian yang didapat hari ini baru sekadar permulaan. Prestasi politik di keluarganya menjadi motivasinya ke depan agar terus berusaha lebih baik.

BERBINCANG – Angeline Fremalco berbincang dengan pengunjung di RSUD Soedarso Pontianak beberapa waktu lalu. ANGELINE FREMALCO

“Saya ini, hidup di lingkungan keluarga politik yang hebat. Bapak saya, Bupati Landak dua periode, Gubernur Kalbar dua periode. Sekarang DPR-RI. Kakak saya pernah DPR RI. Sekarang Bupati Landak. Kayaknya, di keluarga, jabatan saya yang paling rendah. Karena itu, saya masih punya target ke depan,” sebutnya.

Politik sudah jadi jalan hidup seluruh keluarganya. Ia tumbuh dengan melihat kampanye Cornelis. Tak heran semua melekat di kepala. Baginya, politik adalah wadah tepat untuk mengabdikan diri, berbuat sesuatu yang besar untuk kepentingan rakyat. Stigma politik itu kotor buatnya, tidak berlaku umum. Semua kembali ke pribadi masing-masing.

“Tinggal kita aja bagaimana memilihnya. Politik itu tidak kotor. Justru di sinilah inti dari kita bermasyarakat. Bagaimana kita bisa membantu banyak orang melalui kebijakan-kebijakan,” jelasnya.

Angeline Fremalco memastikan konsisten dengan prinsipnya, bekerja semaksimal mungkin di parlemen. Ia berjanji akan selalu menjadi wakil rakyat yang berpihak kepada rakyat. Terus kritik kebijakan tak pro rakyat. Totalitas menjaga misi pembangunan hulu Kalbar, jadi kalimat yang menggambarkan karakternya keseluruhan dalam bertindak. (abdul halikurrahman)

View this post on Instagram

Bagi Angeline, karier politiknya kini berkat bimbingan sang ayah, Cornelis, mantan Gubernur Kalbar dua periode dan mantan Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar. Ia merasa beruntung, jadi anak tokoh politisi ulung. Tak masalah cibiran orang yang mengaitkan keterpilihannya dengan nama besar sang ayah. Prasangka seperti itu menurutnya tak bisa dilarang. Sebab setiap orang punya sudut pandang dan cara berpikir masing-masing. “Itu bagaimana menyikapi saja. Kita mau lihat sisi negatifnya atau sisi positifnya? Kalau saya sih, mengambil sisi positifnya saja. Saya sangat beruntung menjadi anak dari Dr Cornelis, MH. Seorang tokoh politisi ulung. Dan saya menganggap itu suatu berkah. Bukan suatu beban,” katanya. Namun, ia menggarisbawahi. Apa yang diraihnya, bukan semata mendompleng nama besar sang ayah. Tetapi, ada proses perjuangan besar dan panjang yang dijalani. Jauh sebelum Pileg dan tak semua orang tahu. Baca selengkapnya di insidepontianak.com atau klik tautan di bio @insidepontianakcom. #insidepontianak #pontianak #kalbar #beritapontianak #beritakalbar #bengkayang #DPRDKALBAR #PDPIP #angelinefremalco

A post shared by insidepontianakcom (@insidepontianakcom) on

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *