Anggota DPRD Ketapang Kecewa Pelayanan PDAM

ilustrasi.

KETAPANG, insidepontianak.com – Anggota DPRD Kabupaten Ketapang, Anthoni Salim sesalkan pelayanan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kabupaten Ketapang yang hingga saat ini tidak dapat memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Pelayanan yang buruk ini dilihat dari kualitas air PDAM yang beberapa pekan belakangan tidak layak. Kotor dan berwarna cokelat.

“Masyarakat kerap mengeluh soal pelayanan air dari PDAM ini, bahkan seminggu air yang dialirkan sangat tidak layak digunakan untuk apa pun,” katanya, Selasa (4/8/2020).

Antoni mengatakan, di rumahnya sejak sepekan belakangan air PDAM yang mengalir bukan lagi berwarna cokelat. Sudah kehitamhitaman.

“Ini bukan baru terjadi, tapi sudah sering terjadi. Tidak hanya di kediaman saya tapi pelanggan lain. Harusnya pihak PDAM mengevaluasi persoalan-persoalan ini untuk melakukan perbaikan-perbaikan,” mintanya.

Antoni menilai, persoalan semrawut pelayanan air PDAM sama kacaunya dengan penentuan direktur definitif PDAM yang sampai saat ini tanpa kepastian. Padahal proses rekrutmen telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu.

“Ini juga menjadi persoalan, karena tanpa adanya direktur defenitif tentu ada kebijakan-kebijakan atau hal prinsip yang tidak bisa dilakukan oleh pejabat sementara, sedangkan PDAM usaha yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak,” tuturnya.

Dia berharap selain persoalan pelayanan air yang layak diterima pelanggan, proses rekrutmen direktur PDAM definitif cepat selesai.

“Jadi direktur yang terpilih nanti harus benar-benar yang memiliki kemampuan serta sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan,” mintanya.

Sementara itu, Plt Direktur PDAM Ketapang, Juta mengatakan air keruh memang jadi persoalan lama. Penyebabnya beragam faktor.

“Termasuk karena adanya pipa yang pecah akibat galian proyek dalam kota, kemudian akibat hujan hulu yang mengakibatkan air gambut naik yang kita kesusahan mengelolanya. Sebab bahan kimia pengelolaan kita untuk bahan baku biasa, sedangkan gambut harus spesial,” terangnya.

Penyebab lain, kondisi pengolahan PDAM sudah sangat lama dan berusia. Perlu peremajaan.

“Listrik padam juga menjadi penyebab air keruh pada tekanan pertama air didistribusikan, namun keruhnya biasa tidak lama berkisar 15 menitan,” tuturnya.

Juta menambahkan, persoalan lain yang mengakibat air keruh yakni jaringan pipa seluruh Ketapang yang belum pernah dibilas. Pihaknya terkendala biaya.

“Biayanya mencapai miliaran namun untuk pembilasan harus runut dengan pengolahan kita yang perlu direnovasi. Kendalanya anggaran, terlebih tahun 2020 akibat Covid-19,” tutupnya. (fauzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *