Penanggungjawab Pangkalan di Sungai Pinyuh Akui Jual Gas Melon ke Pengecer

ANTRE - Antrean gas subsidi di SPBU Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah. Sebelum menjual ke warga, pangkalan lebih dulu memberikan jatah gas melon kepada pengecer, Sabtu (8/8/2020).

MEMPAWAH, insidepontianak.com – Penanggungjawab pangkalan gas elpiji bersubsidi di SPBU Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Taufik membenarkan bahwa pihak pangkalan menjual gas melon kepada pengecer, Sabtu (8/8/2020).

Menurut dia hal itu tidak menyalahi aturan Pertamina. Dia menegaskan bagi masyarakat yang merasa keberatan atau protes terhadap hal itu dipersilakan melaporkan kepada pihak terkait atau datang langsung ke pangkalan.

Bacaan Lainnya

“Bagi yang keberatan silakan (melapor), yang tidak suka silakan. Inikan sudah diomongkan sejak kemarin, ribut-ribut juga bukan baru ini sudah sejak kemarin,” tegasnya.

“Sekarang saya tanya, yang keberatan itu darimana, siapa yang keberatan, pangkalan menjual ke pengecer itu sudah benar seperti itu, tidak masalah,” katanya.

Warga Sungai Pinyuh yang melakukan protes terkait aktivitas pangkalan yang menjual ke pengecer lebih dulu ketimbang pengantre, menurut dia tidak masalah.

“Sekarang tunggu dulu, orang yang makai inikan yang kita kasih dulu, kita tunggu selesai dulu, itu sudah sistem penjualan pangkalan,” sebutnya.

Taufik memastikan, harga jual yang diberlakukan oleh pangkalan kepada para pengantre dan pengecer sama.

“Tidak ada perbedaan harga, adapun kurang lebih lima ratus perak itu biasa, karena tidak ada kembalian,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sales Branch Manager Pertamina Wilayah I Kalimantan Barat, Farid Akbar menegaskan pihak pangkalan tidak boleh menjual kepada pengecer. Apalagi mendahulukan pengecer daripada pengantre.

“Kirimkan videonya ke saya, itu jelas tidak boleh,” ujarnya.

Sebelumnya, gerak-gerik mencurigakan pangkalan nakal di Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah terekam kamera warga. Sabtu (8/8/2020) pagi, di salah satu SPBU di Kecamatan Sungai Pinyuh warga sudah mengantre demi mendapatkan gas melon. Namun ketika datang, truk Pertamina berkapasitas 560 tabung tidak langsung didistribusikan kepada warga.

Dalam video warga yang diterima insidepontianak.com, terlihat aktivitas bongkar muat gas melon pada salah satu pangkalan di Sungai Pinyuh. Gas subsidi yang diturunkan dari truk Pertamina dimasukan lagi ke dalam dump truk lain.

Di samping antrean yang mengular di luar gudang pangkalan, terlihat pintu tertutup rapat, dan beberapa orang diduga pengecer dan calo membawa lebih dari satu tabung berkumpul di dekat truk Pertamina. Mereka diberi gas melon lebih dulu sebelum gas dijual kepada warga yang mengantre.

“Warga sudah antre dari pagi, begitu gas datang saya lihat sendiri dibongkar muat lagi ke dalam dump truk lain,” kata warga Sungai Pinyuh yang merekam video, Suyanto (36).

Sebagai masyarakat yang membutuhkan, dia merasa dirugikan. Pangkalan sengaja mendistribusikan gas bersubsidi kepada pengecer.

“Pengecer jual pasti lebih mahal, apalagi dalam situasi saat ini, gas sedang langka, pangakalan tidak boleh begitu. Pertamina dan pihak terkait harus mengontrol distribusinya di lapangan,” katanya.

“Saya tidak mempermasalahkan kalau pangkalan mau jual ke pengecer, cuma saya juga tahu regulasinya, sekarang jual ke pengecer itukan sudah tidak boleh, apalagi sekarang lagi susah dapat gas,” tambahnya.

Selain itu Suyanto jua memprotes aktivitas bongkar muat pangkalan yang mencurigakan. Di mana gas melon dimasukkan lagi ke dalam dump truk lain dan diduga akan dibawa ke lokasi yang lain.

“Tujuan mereka apa, sebagian dari gas itu dimasukkan lagi dalam dump truk, tentu saja menimbulkan pertanyaan masyarakat itu gas mau dibawa ke mana kalau tidak dijual ke warga sekitar,” katanya.

Dia berharap Pemerintah dan Pertamina melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi gas bersubsidi. Sebab di beberapa lokasi pangkalan lain di Sungai Pinyuh, dia juga menemukan indikasi penyelewengan distribusi.

“Dari video semua orang pasti sudah tahu lokasinya di mana itu, dan nama agen juga sudah jelas, sebenarnya kejanggalan seperti itu tidak hanya di situ saja, di tempat lain juga ada tapi tidak sempat terekam kamera,” pungkasnya.

Sementara itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja (Disperindagnaker) Kabupaten Mempawah berjanji akan menindak tegas jika memang agen atau pangakalan tersebut terbukti melakukan penyelewengan distribusi.

“Kalau bisa foto mobil agen atau pangkalannya dan mobil yang diduga pengecer, kirimkan ke saya. Nanti saya lakukan pendalaman, jika terindikasi penyalahgunaan akan dilakukan penindakan,” kata Kasi Metrologi, Pengawasan dan Perlindungan Konsumen, Hendri Kurniawan.

Hendri menjelaskan, harus ada foto atau video nama jelas agen atau pangakalan yang dimaksud agar memudahkan Disperindagnaker melakukan tracking lokasi dan melakukan kroscek di lapangan.

Sanksi tegas kepada agen dan pangakalan nakal yang terekam kamera warga tersebut kata Hendri, bisa berupa pencabutan izin, dipidanakan, atau penghentian suplai gas elpiji dari Pertamina.

“Foto jelas nama agen atau PT dan nama pangkalan, sanksi tegas bisa berupa pencabutan izin dan bisa juga pidana, kemudian kewenangan Pertamina tidak mendistribusikan gas ke pangkalan tersebut,” pungkasnya. (yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *