Bruder Petrus Van Hoof Ubah Sampah Jadi Kompos, Hasilkan 50 Karung Sebulan

JELASKAN - Bruder Petrus bercerita kepada Sekda Sintang, Yosepha Hasnah ketika berkunjung ke pengolahan kompos tersebut di Jemelak, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Sintang, Senin (10/8/2020). PROKOPIM SINTANG

SINTANG, insidepontianak.com – Sampah organik di tangan Bruder Petrus Van Hoof disulap jadi barang bernilai. Dalam tujuh bulan terakhir, sebanyak 52 kubik sampah diubahnya jadi 1.500 karung pupuk kompos.

“Jadi kalau dibagi dalam tujuh bulan, maka kami sudah menghasilkan rata-rata sekitar 50 karung pupuk kompos dalam sebulan,” kata Bruder Petrus bercerita kepada Sekda Sintang, Yosepha Hasnah ketika berkunjung ke pengolahan kompos tersebut di Jemelak, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Sintang, Senin (10/8/2020).

Bacaan Lainnya

Satu karung yang setara 30 liter dihargai Rp25 ribu. Dengan areal luas, Bruder Petrus siap membantu Pemda Ketapang mengolah sampah organik mereka. Seperti sampah-sampah yang berasal dari pasar.

“Saya mengharapkan di pasar sayur, bisa disediakan kontoiner khusus sampah organik. Atau paling tidak sudah dipisah-pisah sampahnya. Pupuk kompos yang kami olah, setelah jadi. Kami selalu cek pH-nya. Kami ada alat untuk cek pH, kalau belum bagus untuk tanaman, kami akan berikan kapur. Kayu, ranting dan daun juga bisa kami olah menjadi pupuk kompos. Siapa tahu pas ada pemangkasan pohon, kami siap tampung untuk diolah menjadi kompos,” terangnya.

Camat Sintang, Siti Musrikah menjelaskan sampah di wilayahnya saat ini sudah menjadi persoalan serius. Dia pun mengerahkan lurah untuk belajar mengolah sampah pada Bruder Pit–sapaan akrab Bruder Petrus. Guru sudah didapat, perkara alat dan kebutuhan lain tinggal dianggarkan melalui Dana Alokasi Umum masing-masing kelurahan. Kompos yang dihasilkan sendiri bisa jadi penambah ekonomi warga.

“Hal utama yang dilakukan adalah warga Sintang sudah harus memilah sampah sebelum membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Sampah plastik, kertas dan rumah tangga atau organik dipilah dengan baik. Tadi kami sudah melihat secara langsung proses pengolahan sampah dari awal sampai menjadi pupuk kompos dan bisa dijual. Saya sudah pesan, kalau lurah dan LPM ingin belajar secara lebih mendalam, silakan datang sendiri ke sini,” tambah Siti Musrikah.

Sementara Sekda Sintang, Yosepha mengatakan pengolahan kompos juga masuk dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat kelurahan dan sebagai salah satu upaya mengatasi permasalahan sampah di Kecamatan Sintang. Dia sangat mendukung masyarakat yang berkarya mengatasi persoalan sampah.

“Ke depan lurah dan LPM akan berupaya agar masyarakat atau rumah tangga bisa langsung memisahkan sampah plastik dan organik. Nanti akan ada kerja sama dengan Bruder Pit dalam mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Setelah pupuk jadi, kelurahan bisa mengambil pupuk ke sini. Tentu ada hal-hal yang harus dibahas dan disepakati. Kita ingin sekali memanfaatkan sampah yang sangat banyak menjadi sesuatu yang berguna seperti menjadi pupuk kompos,” terang Yosepha Hasnah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *