Bebby Nailufa: Pemimpin Kreator Masa Depan

Anggota DPRD Pontianak, Bebby Nailufa.

Saya teringat lagu ‘Seperti Rahim Ibu’ dari Efek Rumah Kaca di menit kedua puluh lima berbincang dengan Bebby Nailufa. Walau mungkin punya konteks berlawanan, hal itulah yang terus-menerus diulang: menjadi seorang perempuan pemimpin partai, harus bisa melahirkan kader-kader terbaik.

Bebby, perempuan pertama yang memimpin DPD Golkar Pontianak. Dia menang aklamasi di Musda X Golkar Pontianak di Gedung Zambrud Khatulistiwa, Pontianak, Minggu (2/7/2020).

Bacaan Lainnya

View this post on Instagram

Bebby masuk Golkar usia 25. Meneruskan pesan yang dilahapnya tiap hari di meja makan. Doktrin karya kekaryaan dari sang ayah, Moh Naib Tappi—kader Golkar, mantan anggota DPRD Kalbar tahun 1999-2009. Saat itu dia sudah menikah. Punya anak dua. Paling kecil usia setahun. Namun panggilan untuk mengembangkan jiwa kepemimpinannya tak bisa ditepis. Bebby remaja aktif di Paskibra dan Pramuka. Sering baca puisi dan biasa tampil di muka umum. Sesuatu yang jadi bekalnya di kemudian hari. “Dari kecil doktrin karya kekaryaan, doktrin Golkar itu sudah kuat. Di meja makan Bapak sering bercerita, kalau ada konflik dengan kawan-kawan, dinamika politik. Sehingga terekam, jadi ada motivasi secara tidak langsung, saya menggantikan beliau,” katanya. Cerita-cerita di meja makan itu tertanam dalam benak. Bahkan ketika zaman ringtone, suara semangat Bebby meneriakkan ‘Hidup Golkar!’ jadi pembuka panggilan masuk di ponsel ayahnya. Baca selengkapnya di insidepontianak.com atau klik tautan di bio @insidepontianakcom. #insidepontianak #pontianak #kalbar #beritapontianak #beritakalbar #golkarpontianak #golkarkalbar

A post shared by insidepontianakcom (@insidepontianakcom) on

Ketika saya bertemu dengannya Minggu (9/8/2020), dia tengah melihat permak Sekretariat DPD Golkar Pontianak di Jalan Sutoyo. Cat diperbarui. Warna kebanggan, kuning terang. Parkiran dibongkar. Kepemimpinannya membawa semangat baru bagi rumah kader tersebut.

“Gedung ini ibarat rumah, pohon beringin tempat berteduh kader Golkar. Setelah membentuk kepengurusan, keluarga baru, rumahnya juga harus diperindah. Semua gotong-royong kader,” cerita Bebby.

SERAHKAN – Ketua DPD I Golkar Kalbar, Maman Abdurrahman menyerahkan pataka Golkar ke Ketua DPD II Golkar Pontianak 2020-2025, Bebby Nailufa yang baru saja terpilih dalam Musda X Golkar Pontianak, Minggu (2/8/2020). ISTIMEWA

Pesan dari Meja Makan

Bebby masuk Golkar usia 25. Meneruskan pesan yang dilahapnya tiap hari di meja makan. Doktrin karya kekaryaan dari sang ayah, Moh Naib Tappi—kader Golkar, mantan anggota DPRD Kalbar tahun 1999-2009.

Saat itu dia sudah menikah. Punya anak dua. Paling kecil usia setahun. Namun panggilan untuk mengembangkan jiwa kepemimpinannya tak bisa ditepis.

Bebby remaja aktif di Paskibra dan Pramuka. Sering baca puisi dan biasa tampil di muka umum. Sesuatu yang jadi bekalnya di kemudian hari.

“Dari kecil doktrin karya kekaryaan, doktrin Golkar itu sudah kuat. Di meja makan Bapak sering bercerita, kalau ada konflik dengan kawan-kawan, dinamika politik. Sehingga terekam, jadi ada motivasi secara tidak langsung, saya menggantikan beliau,” katanya.

Cerita-cerita di meja makan itu tertanam dalam benak. Bahkan ketika zaman ringtone, suara semangat Bebby meneriakkan ‘Hidup Golkar!’ jadi pembuka panggilan masuk di ponsel ayahnya.

“Jadi saya menganggap partai ini warisan, karena cinta jadi ada keinginan membesarkan, memberikan semuanya, materi, ide, waktu,” katanya.

Ketertarikan berkecimpung di politik makin menjadi ketika abangnya, Nugroho Henray Ekasaputra gabung Golkar tahun 2002. Tahun 2005, Bebby resmi masuk. Jadi bagian di lembaga swadaya partai di tingkat provinsi.

“Saya ingat betul saat TOT di Asrama Haji, disuruh baca ikrar Panca Bhakti tanpa harus melihat teks,” ceritanya.

Dari sana, dia didorong jadi master of ceremony (MC) tiap acara Golkar. Termasuk saat Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla datang ke Kalbar. Bebby diminta membawa acara yang dihadiri Wakil Presiden Indonesia tersebut.

“Tanpa saya sadari, itu jadi bekal dan pembelajaran politik, mengendalikan suasana ketika kedatangan Wakil Presiden,” katanya.

Terbiasa terlibat di beragam kegiatan kepartaian, dia pun masuk kepengurusan Golkar Kota Pontianak di tahun 2008. Jadi bagian biro perempuan.

“Pak Zulfadli jadi Ketua Golkar Kalbar kalau tidak salah umur 39, waktu jadi MC saya yakin bisa seperti dia, padahal Bapak saya waktu itu senior,” katanya.

Proses 15 Tahun

Bebby Nailufa mengetuai DPD Golkar Pontianak di usia 40 tahun. Lima belas tahun semenjak pertama kali bergabung di partai beringin. Sebuah jalan panjang yang dipersiapkan matang.

Awal terjun di politik, dia tak ujuk-ujuk jadi anggota legislatif. Pertama kali nyaleg DPRD Pontianak tahun 2009 untuk daerah pemilihan (dapil) Pontianak Kota dengan nomor urut enam, Bebby terjungkal. Nama besar orang tuanya tak jadi garansi. Dia mencari basis suaranya sendiri.

“Waktu itu Bapak maju DPD. Orang tahu anak Pak Naib, tapi susah untuk cari teman Bapak untuk pilih karena dianggap perempuan tidak bisa di politik, anak kecil, jadi saya benar-benar cari pemilih akar rumput,” katanya.

SERIUS – Bebby Nailufa serius mendengarkan perkataan warga dalam resesnya pertengahan 2017 lalu. FACEBOOK BEBBY NAILUFA

Pileg 2009 jadi ladang ilmu. Insting politiknya belum bermain. Belum bisa menyeleksi tim. Klik belum didapat. Tapi dari sana, semuanya dimulai. Istri Joko Sularso ini pun mempelajari semua. Terjun ke akar rumput jadi agenda utama. Basis di Gang Beringin didapat. Hasilnya, 1.737 suara di Pileg 2014 mengantarkannya jadi anggota DPRD Pontianak.

“Mungkin awalnya orang melihat wajah saya keibuan, tidak tegas, tapi itu tadi, kita harus membuktikan. Berikan karya terbaik kepada masyarakat. Sebagaimana doktrin karya kekaryaan,” sebutnya.

Akan tetapi, hambatan bukan hanya ketika pemilihan. Duduk di kursi dewan, Bebby seperti gelas penuh. Merasa berisi dan kuat menjaga idealisme. Kaku di pergaulan.

“Saya sempat ditolak, awal masuk dewan, sehingga pembicaraan sedikit menyinggung itu reaktif. Tapi akhirnya saya belajar kalau seperti ini saya tidak akan diterima di pergaulan. Akhirnya saya berubah tanpa harus menghilangkan idealisme tadi. Bagus-bagus sampai sekarang, tapi akan wajar kalau ada yang suka dan tidak suka,” jelasnya.

Realistis dan menikmati proses jadi kuncinya. Termasuk ketika menyiapkan diri jadi Ketua DPD Golkar Pontianak. Keinginan itu sudah ada sejak 2015. Namun waktunya belum tepat.

Di tahun itu, Heri Mustamin—Ketua DPD Golkar Pontianak—jadi Wakil Ketua DPRD Pontianak. Di tingkat DPD Golkar Kalbar, Adang Gunawan dan Ria Norsan bertarung di pemilihan.

“Saya lihat itu bukan momen tepat, karena tidak mungkin saya sebagai anggota DPRD merebut itu, ada etika dan kesantunan yang harus dijaga. Saya tidak ingin menciptakan konflik,” katanya.

BERPUISI – Bebby Nailufa saat membacakan puisi di salah satu acara di tahun 2018. Membaca puisi merupakan salah satu kegemarannya sejak sekolah. FACEBOOK BEBBY NAILUFA

Akan tetapi, bukan berarti di Musda X Golkar Pontianak Juli lalu tanpa pesaing. Walau akhirnya terpilih secara aklamasi, jauh sebelum musyawarah daerah, lobi dan komunikasi politik sudah berjalan. Kala itu Sekretaris DPD Golkar Kalbar, Mansur yang juga anggota DPRD Pontianak berniat maju pencalonan.

“Sekarang Pak Mansur punya keinginan, saya juga, tapi saya bilang mari kita maju sama-sama, kita lakukan proses politiknya,” katanya.

Komunikasi politik dijalankan Bebby. Berpaut di atas, berpijak di bawah. Di DPD Golkar Kalbar, dia masuk gerbong pendukung Maman Abdurrahman—yang menjadi kandidat melawan Ria Norsan. Di tataran kecamatan dan organisasi sayap, dia pun bergerak. Komunikasi itu berbuah manis. Maman Abdurrahman jadi Ketua DPD Golkar Kalbar, Bebby Nailufa terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Pontianak.

“Seperti yang dikatakan Ketua Maman Abdurrahman yang mengedepankan musyawarah mufakat, hal itu yang kami lakukan,” katanya.

Dukungan Keluarga

Di keluarga, Bebby tak sendiri gagal dalam Pileg 2009. Ayahnya, Moh Naib Tappi pun tak duduk di DPD RI. Wejangan dari sang ayahnya menguatkannya. Seorang perantau dari Makassar yang jadi ‘orang’ di tanah Kalimantan. Berjuang dari nol sampai punya perusahaan besar seperti PT Sempadi dan jadi wakil rakyat.

“Walau begitu, Bapak selalu tidak mau jadi ketua. Organisasi apa pun. Posisinya di wakil terus. Katanya jadi ketua itu berat,” kisahnya.

TANDA TANGAN – Ketua DPD II Golkar Pontianak, Bebby Nailufa menandatangani pakta integritas Golkar disaksikan langsung Ketua DPD I Golkar Kalbar, Maman Abdurrahman di Gedung Zambrud Khatulistiwa Pontianak, Minggu (2/8/2020). ISTIMEWA

Cerita-cerita itu terjahit baik di kepala Bebby. Gagal bukan berarti selesai. Dia ingin membuktikan pada sang ayah, anaknya bisa jadi ketua partai. Dan di sinilah semuanya dimulai.

Bebby anak terakhir dari empat bersaudara. Hingga kini, hanya abang paling tua, Nugroho Henray Ekasaputra yang masuk dunia politik. Dia aktif sebagai Wakil Ketua Kaderisasi Golkar Kalbar, meski tak jadi anggota legislatif. Sama seperti dua saudaranya yang lain, bergerak di beragam bisnis. Henray sendiri merupakan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Kalbar.

“Mas Henray tidak ada basis kuat, tapi tidak semua yang terjun politik harus jadi dewan, karena doktrin karya kekaryaan itu, kita harus berkarya di semua lini kehidupan,” kata ibu tiga anak ini.

Sebenarnya, ada sejumlah partai yang menaksir Henray. Namun keluarga ini sudah diskusi jauh hari. Karier siapa yang paling berpotensi.

“Sebenarnya semua (saudara) ada jiwa (politik), cuma di Golkar aturannya saudara sekandung tak boleh beda partai, kalau ada partai lain tidak bisa jadi ketua partai. Jadi kami rembuk siapa yang berpotensi dia yang didorong. Semuanya matang dari awal, dipersiapkan saling mendukung,” ceritanya.

Tidak hanya di saudara sekandung, suaminya pun turut mendukung. Empat tahun menikah, Bebby direstui mengaktualisasi diri di organisasi politik. Apalagi saat itu sudah beranak dua dan yang paling kecil usia setahun. Praktis, bagi waktu jadi harga mati.

BERMAIN – Bebby Nailufa mencoba menggunakan timbangan anak di salah satu kegiatan di Kantor Camat Pontianak Kota 2018 lalu. FACEBOOK BEBBY NAILUFA

Memimpin Layaknya Ibu

“Saya akan bangga ketika melihat AMPG yang dilantik jadi kader terbaik dan berperan di semua lini masyarakat, itulah peran seorang ibu,” kata Bebby berapi-api.

Di saat itulah, Bebby kembali mengulang peran pemimpin perempuan melahirkan kader terbaik, dan doktrin karya kekaryaan. Atau yang maknanya kurang lebih ‘kerja-kerja-kerja’ namun untuk versi lama.

Golkar kadung melekat di hatinya. Dia jadi saksi bagaimana partai itu tumbuh. Dari masa aktif almarhum ayahnya hingga dirinya sekarang. Ada bagian yang hilang: keluarga yang sama-sama besar dari teduh rimbun beringin.

“Kita adalah keluarga sekasur, sedapur, sesumur. Anak-anak kita harus diberikan doktrin karya kekaryaan, kita punya wadah, punya rumah, ayo bergabung bersama membesarkan,” ajaknya.

Sebagai pemimpin partai, dia menganggap dirinya seorang ibu. Orang tua untuk para kader muda. Orang tua tidak selalu berarti yang terbaik. Namun barang tentu menginginkan anak-anak mereka tumbuh melebihi orang tuanya.

“Ketua tak boleh dilebihi itu salah,” katanya.

Kalimat itu berlaku untuk apa pun. Mulai dari sumbangan, prestasi, bahkan elektabilitas ketika pemilihan nanti. Jika seorang kader melebihi ketuanya, menurutnya justru menunjukkan keberhasilan pemimpin menciptakan masa depan.

MENGAJAR – Bebby Nailufa saat menjadi dosen tamu di FISIP Untan beberapa waktu lalu. Sebagai politisi, dia tidak segan berbagi pengalaman pada anak muda. FACEBOOK BEBBY NAILUFA

“Kadang orang tidak mau, hanya mau besarkan diri sendiri. Contohnya kalau ada kader mau pasang bilboard tanpa muka saya, silakan. Mereka justru harus lebih besar dari saya. Tapi harus menunjukkan jati diri mereka sebagai kader Golkar,” katanya.

Keterpilihannya sebagai Ketua DPD Golkar Pontianak pun disebut bukan berarti, dia yang terbaik. Hanya perkara takdir membawanya jadi jembatan perangkul semua jaringan dari struktur partai. Golnya, membesarkan Golkar.

Begitulah caranya menghidupkan Golkar. Menghangatkan suasana rumah, mendorong keluarga berprestasi.

“Ketika pemimpin diambil perempuan, dia adalah pemimpin dan seorang ibu, yang menciptakan kader-kader untuk menjadi penerus ke depan. Saya menganggap tugas saya adalah menciptakan kader-kader terbaik partai ini untuk bisa merebut kejayaan,” katanya.

Namun dengan catatan, nama baik harus dijaga. Barang yang mudah retak itu, bisa bikin orang lain binasa. Apalagi bagi politisi perempuan. Mereka punya beban ganda bernama stigma. Sedikit dekat dengan norma. Politik masih dianggap bukan dunia mereka.

RAPAT – Kesibukan Bebby Nailufa sebagai anggota DPRD Kota Pontianak. Dalam kerja legislatif, tak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. FACEBOOK BEBBY NAILUFA

“Bukan adil tidak adil, tapi begitulah norma di masyarakat. Tapi perempuan hebat kalau bisa jadi pemimpin karena mereka banyak yang diurus,” katanya.

Salah satu target Bebby, meningkatkan partisipasi perempuan di politik. Termasuk di kursi legislatif. Golkar Pontianak di Pileg 2019 berhasil mendapat dua kursi politisi perempuan. Jumlah itu, minimal tambah satu di Pileg mendatang.

“PR saya, karena mewakili perempuan, memberi semangat kepada mereka, kalau Bebby Nailufa saja bisa, kenapa yang lain tidak,” katanya.

Strategi sudah disiapkan. Jika dibeberkan, khawatir diadopsi lawan. Bebby meyakinkan, semua sudah jalan. Dua hal yang jadi incaran, melahirkan kader terbaik, dan mengikis anggapan miring perempuan di politik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *