Marak Prostitusi Anak, Polresta Pontianak Usulkan Regulasi Penerimaan Tamu Hotel dan Indekos

INTEROGASI - Kapolresta Pontianak Kota, Kombes Pol Komarudin menginterogasi MN, pengguna jasa prostitusi pelajar ketika rilis pers, Jumat (24/7/2020).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Polresta Pontianak berencana mengusulkan regulasi terhadap penyedia jasa penginapan baik hotel dan indekos di Kota Pontianak sebelum menerima tamu. Langkah ini menyikapi maraknya kasus prostitusi anak di beberapa hotel berbintang.

“Kita berencana mengusulkan regulasi terhadap para penyedia hotel dan kos-kosan. Regulasi itu mengatur tentang siapa saja yang boleh menyewa, syaratnya apa saja, dan bagaimana pengawasannya,” ungkap Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Komarudin, Rabu (12/8/2020).

Bacaan Lainnya

Komarudin mengatakan telah berkoordinasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Mereka juga mendukung dan tidak ingin, hotelnya dicap sebagai hotel tempat esek-esek.

Bukan tanpa sebab, berdasarkan data Polresta Pontianak, ada 18 kasus berkaitan anak-anak di tahun 2020. Satu kasus diantaranya kekerasan, sementara 17 lainnya masalah persetubuhan dan ekploitasi. Komarudin pun meminta dukungan dan peran serta pengusaha hotel agar melakukan pengawasan, terhadap hal-hal yang tidak lazim.

“Anak-anak yang masih di bawah umur, keluar masuk hotel kan bisa dilihat. Jangan sampai itu kita anggap biasa, ini masalah kita bersama,” terangnya.

Sebelumnya, kasus prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Pontianak masih marak terjadi. Terbaru, Polresta Pontianak kembali mengungkap lima kasus. Dari pengungkapan ini, delapan pelaku berhasil diamankan. Mereka adalah muncikari yang menjajakan, atau mempromosikan anak tersebut.

“Delapan tersangka sudah kita tetapkan, terdiri dari empat orang dewasa dan empat anak-anak,” kata Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Komarudin, Rabu (12/8/2020).

Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan orang tua, yang melaporkan anaknya tidak pulang berhari-hari. Dari sinilah, polisi mulai melakukan penyelidikan dengan salah satu aplikasi media sosial yang biasa mereka digunakan.

“Di sanalah kita temukan, ternyata mereka tergabung dalam keanggotaan aplikasi itu. Kita coba pancing dan, sangat disayangkan anak-anak ini sudah terjerumus dalam prostitusi,” ungkapnya.

Modus operandi yang dilakukan mereka dengan berpacaran. Kemudian pacarnya yang menjual pacarnya lagi dengan pria hidung belang. Tarifnya Rp400-1 juta.

“Mereka juga membuka dua kamar hotel dan berkelompok. Ada yang enam dan empat. Berpasang-pasangan,” terangnya.

Kepolisian juga terus melakukan evaluasi dan analisa terhadap maraknya kasus prostitusi online. Dari penyelidikan sementara, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak belia ini terjun di dunia prostitusi, yakni faktor keluarga, faktor ekonomi, serta faktor pergaulan.

“Namun lebih cenderung pergaulan, karena jika dilihat kebutuhan, dia tidak terlalu memasang tarif mahal. Kalau yang modus pacaran justru uangnya yang megang itu pacarnya,” tuturnya.

Untuk itulah, Komarudin berpesan agar orang tua memperhatian pergaulan anak-anaknya. Langkah ini sebagai upaya pencegahan agar tak terjerumus ke hal-hal yang tak diinginkan.

“Kita berharap ke depan adanya dukugan peran serta masayarakat agar bersama-sama melakukan pengawasan, hal-hal yang tidak lazim harus menjadi pantauan kita bersama,” mintanya.

Saat ini, proses hukum terhadap tersangka masih terus berlanjut. Polisi juga bergerak memburu pria hidung belang yang telah berhubungan dengan para gadis belia itu.

“Kita masih melakukan penyelidikan terhadap pengguna, karena melanggar ketentuan pasal 81 UU 35 tentang Perlindungan Anak, baik dengan paksaan dan dengan bujuk rayu,” pungkasnya. (andi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *