Menengok Desa Tangguh Ekonomi di Kampung Transmigrasi

MEGAH - Pintu gerbang Desa Sukamulia, Kecamatan Parind, kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat ini tampak megah.

Ketika banyak daerah terpukul dari sisi ekonomi, begitu pemerintah memberlakukan karantina wilayah atau lockdown pada saat pandemi. Warga transmigrasi di Desa Sukamulia malah terlihat tenang menjalani aktivitas ekonomi. Karena jauh sebelum pandemi, mereka sudah lama memberdayakan diri, bagaimana ketahanan pangan bisa selaras dengan ketahanan ekonom. Polanya, menempatkan masyarakatnya sebagai pelaku pembangunan.

Memasuki Desa Sukamulia, seakan menginjakkan kaki di kawasan Cengkareng, Jakarta. Jika di Cengkareng, dikenal sebagai kawasan industrinya Indonesia, di mana ada beragam produk pengolahan bahan baku, lalu memproduksinya menjadi barang jadi yang bernilai ekspor. Pun demikian Sukamulia. Sebuah kampung kecil, seluas 800 hektare, yang mana daerahnya diisi dengan hijaunya lahan pertanian, ternyata bermukim puluhan rumah industri yang dibangun secara mandiri oleh warga. Beragam produk olahan turunan pun dihasilkan. Yang paling mencolok adalah keberadaan pengolahan tahu, bakery, keripik pisang dan ubi.

“Biar kampung kami jauh dari ibukota, produk kami tidak kalah dengan rumah industri bakery di ibukota,” kata Dariah, siang itu, pekan lalu.

Desa Sukamulia, masuk dalam kawasan Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Atau berjarak sekitar 180 kilometer dari ibukota, Kalimantan Barat. Desa dengan luas 800 hektare ini dihuni sekitar 780 Kepala Keluarga atau sekitar 3.000 jiwa. Dan Dariah (37) satu di antara pemilik usaha Kecil Menengah (UKM) Donat di desa ini. Di rumahnya, tidak begitu luas dan berada di ujung kampung inilah, ia dibantu sang suami, Slamet, memproduksi ratusan kue bakery goreng. Meski usaha ini baru berjalan sekitar dua tahunan. Bakery isi selai nanas dan mayones, proses pembuatannya masih menmgandalkan  tangan ini, ternyata sudah merambah pasar ke luar kampung.

“Kue kami sudah dipasarkan di Kecamatan Sosok dan Bodok. Terkadang juga menerima pesanan dari ibu-ibu PKK di kabupaten,” kata Dariah.

Dua kecamatan disebut dariah itu, secara geografis, kawasan terdekat dengan Desa Sukamulia. Atau sekitar 30 menitan menggunakan kendaraan motor.

Dariah  mengaku, resep dan proses pembuatan bakery diperolehnya dari kakak kandung, berada di Ibukota Kalimantan Barat, Pontianak.

“Kebetulan kakak saya buka usaha bakery. Saya belajar dengan dia. Jadi saya coba bukin di kampung” katanya.

Sepulangnya dari Pontianak, ia pun mempraktikkan bakery di rumahnya dan itu berhasil. Sejak itu, ia memulai produksi dalam jumlah banyak. Tanpa disangka. Produk bakery dari tangan Dariah inilah, nama Desa Sukamulia mulai terangkat. Bagaimana sebuah kampung kecil dan itu kawasan transmigrasi, bisa bermukim usaha bakery di dalamnya.

MEMILAH – Yuli sedang memilah biji kedelai, sebelum diolah untuk pembuatan tahu, di rumah industri, Desa Sukamulia, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau (FOTO : ANDI)

Beralih dari rumah Dariah. Hanya berjarak sekitar 200 meteran, sebuah bangunan tampak kusam itu, ternyata centra pembuatan tahu dan tempe. Yuli, nama pemiliknya. Kepada www.insidepontianak.com, ia mengaku, usaha turun-temurun ini setiap harinya mampu memproduksi sekitar 150 kilogram tahu.  Dari jumlah produksi itu, ia bisa meraup omzet sekitar satu jutaan per hari.

“Awalnya kami buka usaha tahu untuk kebutuhan warga desa. Kebetulan waktu itu, kami ada nanam kedelai. Kedelai inilah kami olah jadi tahu,” kata Yuli, sambil memotong cetakan tahu dan siap dipasarkan.

Dalam perjalanannya, kebutuhan paganan tahu ini ternyata semakin banyak. Tahu buatan Yuli , pemasarannya sudah ke luar luar kecamatan dan ke pusat kota. Pelanggannya adalah para pedagang di pasar pagi.

“Karena permintaan banyak. Kami terpaksa membeli kedelai di pusat kota. Karena keledai yang ada di desa tidak  bisa memenuhi untuk produksi kami, “ kata Yuli.

Desa Tranmigrasi

Jauh sebelum Desa Sukamulia ini terbentuk. Dulunya desa ini masih hutan belantara dan semak. Baru pada 1980, Presiden RI, Soeharto, memilih desa ini untuk program transmigrasi. Sekitar 400 warga asal Jawa Tengah dan Jawa Barat, dikirim ke sini untuk membuka lahan dan bercocok tanam.

Kepala Desa Sukamulia, Supriyanto bercerita, pada awal tinggal di kampung ini, kehidupan warga sangat pelik. Selain tidak ada akses jalan dan listrik,  pemerintah kala itu, menempatkan peserta transmigrasi, hanya menyediakan rumah tinggal bibit tanaman dan pelalatan bertani. Seperti cangkul dan aret.

“Jadi awal mula kami di sini, benar-benar bertahan hidup, dengan berkebun dan berladangi,” kata Supriyanto.

Saat itu, selain padi, petani menanam sayuran dan palawija. Dalam perjalanannya, beberapa komoditas pertanian dikembangkan di desa ini. Satu di antaranya sawit dan karet. Sejak itu, ekonomi warga transmigrasi mulai terangkat.

Untuk komoditi sawit saja. Per Kepala Keluarga rata-rata menanam sawit mandiri dengan luas satu hektare. Buah sawit, bila sudah cukup umur dan siap panen, untuk lahan seluas tadi, bisa menghasilkan sedikitnya satu ton tandan sawit. Bila harga sawit berkisar Rp 1.500, setidaknya petani sudah bisa menghasilkan uang Rp3 jutaan.  Karena, dalam sebulan, petani sawit bisa melakukan dua kali panen.

“Itu baru satu komoditi. Belum dihitung pendapatan dari panen padi, palawija dan karet,” kata Supriyanto, sambil menunjuk areal perkebunan karet milik warga, kepada www.insidepontianak.com.

PRODUKSI – Dariah dibantu suaminya, Slamet sedang memproduksi kue donat di rumah tinggalnya di Desa Sukamulia, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. (FOTO: ANDI)

Sadar akan potensi pertanian yang melimpah, sebagian dari warga  membangun industri rumahan secara mandiri. Palawija yang ditanam dari petani kampung, dikumpulkan, lalu diolah menjadi tahu dan tempe. Pun demikian dengan padi, petani bisa mengolahnya menjadi tepung beras untuk bahan baku kue.

Pengamat ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Ali Nasrun, adanya nilai tambah dari kegiatan pengolahan hasil pertanian lokal menunjukkan bahwa perdesaan berpotensi untuk membangun kemandirian pangan sekaligus ekonomi. Satu di antaranya dengan penerapan teknologi untuk proses pengolahan dan produksi.

Tujuannya adalah memberikan nilai tambah yang dapat diambil oleh masyarakat. Ada upaya akumulasi pemanfaatan yang dapat menimbulkan pendapatan langsung. Mulai dari pengusaha, petani hingga pelaku usaha di luar desa.

Direktur Institute Indonesia Moedha (IIM) Abu Masud,  apa yang dilakukan oleh warga Desa Sukamulia, mengubah persepektif banyak orang. Selama ini perdesaan selalu ditempatkan sebagai produsen hasil pertanian dan bahan pangan, tetapi belum mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kegiatan ekonominya. Salah satu penyebab utamanya adalah perekonomian perdesaan masih bertumpu pada produksi.

“Desa Sukamulia, perspektifnya justru dibalik,” kata Abu.

Warga desa di sana, justru berhasil memposisikan, tidak pada hanya menjadi produsen, tetapi juga pemasok bahan pangan olahan bagi masyarakat perkotaan. Artinya, industri hulu dan hillir berada di perdesaan, sementara perkotaan menjadi market potensial yang kemudian bisa disasar dari pelaku usaha di tingkat desa.

Terintegrasinya hasil bumi dengan rumah industri dalam satu kawasan inilah, Desa Sukamulia mendapat julukan desa tangguh oleh Bupati Kabupaten Sanggau, Paolus Hadi. Tepatnya, pada saat melaunching Desa Tangguh Mandiri Gemilang, di Desa Sukamulia, Rabu (01/07/2020).

Dikatakan desa tangguh, karena masyarakatnya bisa menghasilkan pendapatan bulanan yang cukup menopang ekonomi tiap keluarga. Sukamulia bahkan menjadi satu-satunya dari 163 desa di Kabupaten Sanggau, yang mana warganya bisa mandiri dari sisi pangan  maupun ekonomi.

BUMDES – Kepala Desa Sukamullia, Supriyanto menunjukkan BUMDES Pengolahan Air Bersih, salah satu aset Pemerintahan Desa. (FOTO : ANDI)

Menariknya di desa ini, infrastruktur penunjang juga terbilang lengkap. Akses jalan aspal, listrik dari PLN hingga tower dari tiga provider, memudahkan warga bisa mengakses internet. Di desa ini juga terdapat Badan usaha Milik Desa, untuk pengolahan air minum dan lumbung pangan, jika sewaktu waktu desa ini terdampak bencana.

Sangatlah wajar. Beberapa bulan belakangan, ketika pemerintah memberlakukan lockdown, hingga berdampak pada lumpuhnya sektor ekonomi di seluruh daerah. Warga Sukamullia malahan hidup tenang.

“Setahun lockdown pun kami bisa bertahan hidup. Karena ada aktivitas ekonomi yang dihasilkan warga” kata Supriyanto. (Agus Wahyuni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *