Jokowi Ingin Krisis Akibat Pandemi Jadi Lompatan Kemajuan

PIDATO - Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Sabu, pulau paling depan selatan Indonesia dalam pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2020 dan Pidato Kenegaraan dalam rangka HUT ke-75 Kemerdekaan RI yang digelar dalam Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta. AKBAR NUGROHO GUMAY/ANTARA FOTO

JAKARTA, insidepontianak.com – Presiden Joko Widodo Jokowi ingin krisis akibat pandemi virus Corona jadi momentum lompatan kemajuan.

“Jangan sia-siakan pelajaran yang diberikan oleh krisis. Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Justru momentum krisis ini harus kita bajak untuk melakukan lompatan kemajuan,” kata Jokowi saat memberikan pidato pada Sidang Tahunan MPR/DPR yang diakses dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (14/8/2020).

Bacaan Lainnya

Krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini telah memaksa semuanya menggeser cara kerja. Dari cara-cara normal menjadi cara-cara ekstra normal. Cara-cara biasa menjadi cara yang luar biasa.

“Dari prosedur panjang dan berbelit menjadi smart shortcut, dari orientasi prosedur menjadi orientasi hasil,” ujarnya.

Untuk itu, Jokowi menekankan bahwa pola pikir dan etos kerja juga harus berubah. Menurutnya, dalam kondisi krisis saat ini fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan. Efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi harus diprioritaskan. Kedisiplinan nasional dan produktivitas nasional harus ditingkatkan.

Presiden pun menyinggung kondisi Indonesia dan 215 negara di dunia yang menghadapi masa sulit akibat pandemi Covid-19. Menurutnya, semua negara baik miskin, berkembang, hingga maju mundur karena terpapar Covid-19.

“Inilah saatnya kita membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi besar, menjalankan strategi besar. Strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan,” ujarnya.

Hingga kemarin, Kamis (13/8), kasus positif virus corona di Indonesia mencapai 132.816 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 87.558 orang di antaranya telah sembuh dan 5.968 orang meninggal dunia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *