Bike to Work Pontianak Ingin Taman Sepeda Jadi Sarana Edukasi

Korwil Bike to Work Pontianak, Rudi Agus.

PONTIANAK, insidepontianak.com Koordinator Wilayah Bike to Work Pontianak, Rudi Agus memberikan masukan ke Pemkot Pontianak perihal pembangunan taman sepeda di eks Nine Ten Cafe, Universitas Tanjungpura. Dia menyarankan pemerintah menjadikan taman tersebut jadi tempat berkumpulnya pesepda dan sarana edukasi warga. Misalnya, disediakan jalur khusus untuk anak-anak belajar. Termasuk penyediaan fasilitas seperti parkir sepeda yang futuristik agar bisa dicontoh ruang publik atau pusat perbelanjaan.

“Kita sebagai komunitas pesepeda selama ini hanya sebagai bagian akhir yakni pengguna. Alangkah lebih baiknya komunitas pesepeda dilibatkan dalam memberikan saran dan masukan. Jika berbicara terkait sepeda alangkah baiknya kebutuhan para pesepeda ditanya,” katanya.

Bacaan Lainnya

Dia berharap taman sepeda yang akan dibuat mengutamakan kebutuhan pesepeda harian. Misalnya, ketika menyinggahi taman sepeda, pesepeda bisa membersihkan diri dengan mandi.

“Harusnya ada fasilitas seperti itu pada taman sepeda. Kalau nanti jadinya hanya seperti taman-taman yang sudah dibangun saat ini tidak tepat juga ketika temanya taman sepeda,” katanya.

Komunitasnya sendiri kerap berkomunikasi dengan ahli perkotaan. Sehingga banyak masukan terkait membangun infrastruktur sepeda di kota. Terlebih di Kota Pontianak akan menjadi kota ramah pesepeda. Artinya bukan hanya jalan khusus bagi pesepeda tapi harus ada fasilitas pendukung untuk pesepeda seperti taman yang akan dibangun.

“Kita harapkan taman ini begitu diusung sebagai taman sepeda bisa benar-benar menjadi pilot projek percontohan masyarakat lainnya. Dengan adanya taman sepeda bisa mengedukasi parkir, jalur khusus sepeda dan fasilitas yang dibutuhkan bagi pesepeda,” sebutnya.

Rudi Agus berujar, pihaknya selalu menyuarakan pemenuhan jalur sepeda. Namun tak pernah diajak duduk dalam satu forum untuk merumuskan fasilitas bagi pesepeda. Keberadaan jalur sepeda sendiri merupakan amanah Undang-undang Lalulintas yang menyebutkan pejalan kaki dan pesepeda termasuk pengguna jalan raya.

“Artinya pengguna jalan raya yang paling rentan dan berisiko adalah pejalan kaki dan pesepeda,” katanya.

Ketika memfasilitasi pesepeda harusnya memberikan jalur yang aman bagi pesepeda. Jalur sepeda yang paling aman adalah terpisah dari jalan raya. Namun faktanya di kota-kota karena alasan anggaran kesulitan mewujudkan jalur sepeda yang khusus.

“Akhirnya banyak yang terjadi, termasuk di Kota Pontianak jalur sepeda menyatu dengan jalan raya. Jalur sepeda yang sudah ada di Kota Pontianak hanya ditandai dengan marka putus-putus. Bukan jalur yang ful dicat hijau lalu ada garis kuningnya yang berarti tidak boleh dilanggar atau dimasuki kendaraan lain,” sebutnya.

Akibatnya, rasa was-was masih muncul walau sudah berkendara di jalur sepeda.

“Ini kembali lagi ke kesadaran antara pesepeda dan penggunaan kendaraan bermotor. Karenanya fungsi taman sebagai edukasi juga penting,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *