Gubernur Sutarmidji Ingin HUT RI Jadi Penyemangat Bangkit dari Keterpurukan Ekonomi

Gubernur Kalbar, Sutarmidji.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Gubernur Kalbar, Sutarmidji menginginkan momentum kemerdekaan Indonesia ke 75, menjadi penyemangat seluruh elemen bangsa, agar bisa keluar dari ancaman keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Momentum 75 tahun kemerdekaan Indonesia, kita harus bangkit untuk keluar dari masalah Covid ini,” harapnya, Senin (17/8/2020).

Bacaan Lainnya

Dia menggarisbawahi. Keluar dari masalah Covid bukan berarti, masyarakat sudah boleh tak peduli terhadap ancaman virus tersebut. Namun, justru masyarakat harus terus mendisiplinkan diri menjalankan protokol kesehatan.

Sebab, hanya dengan cara itu, penyebaran Covid bisa ditekan, sambil menunggu vaksin dikeluarkan pemerintah yang diwacanakan dimulai tahun 2021 mendatang.

“Kalau kita mau bangkit dan menyelamatkan ekonomi, maka patuhi protokol kesehatan. Jangan sampai ekonomi semakin terpuruk,” sebutnya.

Dampak pandemi ini, memang telah membuat ekonomi global terguncang. Menurut Gubernur, negara-negara Asean kini, rata-rata pertumbuhan ekonominya sudah minus di atas 10 persen.

“Singapura sudah minus belasan persen. Kita masih bisa (bertahan di minus) lima persen lebih. Kalbar (minus) 3,4 persen. Mudah-mudahan ke depan ada percepatan, dan kita bisa bangkit untuk keluar dari masalah Covid ini,” harapnya.

Sebagai Ketua Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 di Kalbar, Sutarmidji memastikan akan melakukan langkah-langkah penanganan yang terukur. Salah satunya, akan membuat Peraturan Gubernur berkaitan dengan upaya meningkatkan deteksi penyebaran kasus-kasus baru yang memungkinkan masih terjadi di setiap kabupaten/kota.

“Saya masih minta masukan Pak Kapolda dan Pangdam. Karena, mereka juga bagian dari gugus tugas. Setelah matang, baru kita keluarkan dalam bentuk Pergub,” ucapnya.

Gubernur mengisyaratkan, dalam Pergub itu nantinya ada satu pasal yang mengatur kewajiban setiap kabupaten/kota, untuk mengirim sample swab yang diambil secara acak dari masyarakat, setiap minggu ke Provinsi minimal 150 sampai 200 sampel untuk diuji secara PCR.

“Kenapa? Supaya daerah tetap diingatkan, sekalipun zona hijau, harus tetap waspada. Sebab penyebaran Corona tidak ada jaminan akan hilang,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *