Mantan Menko Kesra Sebut Dana Desa Penting Bangun SDM Indonesia

Mantan Menko Kesra dan Pengentasan Kemiskinan Prof Dr Haryono Suyono.(Istimewa)

JAKARTA, insidepontianak.com – Mantan Menko Kesra dan Pengentasan Kemiskinan Prof Dr Haryono Suyono memberikan kiat membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan penekanan pentingnya memanfaatkan Dana Desa untuk kebutuhan masyarakat sekaligus sebagai pemberdayaan, khususnya di tengah pandemi COVID-19 agar tetap berkualitas dan berdaya.

“Manfaatkan Dana Desa untuk kebutuhan masyarakat sekaligus sebagai pemberdayaan. Dana Desa yang ditransfer ke daerah harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ekonomi dan kesehatan masyarakat,” katanya dalam webinar bertajuk “Keluargaku, Indonesiaku”  yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, dilansir dari Antaranews, Selasa (18/8/2020).

Bacaan Lainnya

Dari sisi ekonominya, Haryono menyarankan warga desa mulai dari pemuda hingga lansia untuk membuat wisata desa dan pasar desa untuk memasarkan produk-produk lokal.

Dia berpendapat pandemi COVID-19 yang membuat ekonomi di berbagai negara anjlok karena berbagai industri tutup harus dimanfaatkan oleh pelaku uUsaha mikro kecil menengah  (UMKM) untuk tetap bertahan.

“COVID-19 itu ‘disaster’ (bencana). Itu merobohkan pohon-pohon besar tapi tidak merobohkan rumput. UKM-UKM kecil di desa akan marak karena yang besar-besar akan roboh, pasar besar tutup, tapi pasar kecil akan tetap ada. Ini bisa dipelihara oleh pemuda desa dan lansia desa,” katanya.

Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), kata dia, juga harus dikembangkan untuk usaha kesehatan dan jasa. Dana Desa bisa digunakan untuk membuat layanan ramah anak, perawatan lansia, dan sebagainya.

Selain itu, warga desa juga harus memiliki kebun bergizi di pekarangan rumahnya untuk dapat dimanfaatkan atau dikonsumsi sehari-hari.

Di samping itu, katanya, Dana Desa juga dapat dimanfaatkan untuk layanan posyandu dan polindes.

Sementara untuk peningkatan kualitas SDM di masa depan, Haryono yang merupakan mantan Kepala BKKBN itu juga menyarankan agar setiap balita Indonesia saat ini disekolahkan di pendidikan anak usia dini (PAUD), termasuk balita dari keluarga miskin dengan bantuan pembiayaan negara.

Balita yang nantinya akan berkeluarga pada 2045 ini harus mengenyam pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA dan seterusnya.

Selain itu, utamakan pula perempuan Indonesia untuk mengenyam pendidikan lebih banyak karena dinilai akan paling berpengaruh dalam mendidik anak-anaknya yang menjadi generasi Indonesia di masa depan, demikian Haryono Suyono.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *