Semarakkan Bulan Muharram 1442 H, Garuda Bengkarek Gelar Lomba Santri se Bengkarek

LOMBA - Sebanyak 60 santri di Desa Bengkarek, Kubu Raya, bersemangat mengikuti lomba dalam rangka bulan Muharram yang digelar Garuda Bengkarek, Jumat (21/8/2020).

KUBU RAYA, insidepontianak.com – Dalam rangka menyemarakkan bulan Muharram 1442 Hijriyah, Gerakan Pemuda (Garuda) Bengkarek menggelar lomba tingkat Santri se Desa Bengkarek di Surau Al-Muslimin RT 03 Dusun Ambangah, Desa Bengkarek, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya, Jumat (21/8/2020).

Sedikitnya, 60 peserta dari 16 surau se Desa Bengkarek ambil bagian. Mereka mengikuti sejumlah cabang lomba diantaranya, baca puisi, cerdas cermat ‘pharphesan’ bahasa Madura, sambung surat pendek, dan berbagai macam lomba lainnya.

Bacaan Lainnya

Ketua panitia, Zainal Arifin mengatakan terlaksananya kegiatan tersebut, untuk menyemarakkan bulan Muharram, serta mengembalikan marwah langgar yang hampir terlupakan.

“Anak muda harus ikut andil dalam segala bentuk kegiatan termasuk menyemarakkan bulan yang mulia ini yakni Muharram dengan agenda yang bermanfaat,” ujarnya.

Sejatinya, agenda macam ini merupakan kegiatan rutin antarsurau. Namun seiring waktu, sudah tak lagi dijalankan.

“Semoga melalui agenda ini, ke depannya bisa menjadi agenda bulanan antarsurau guna mempererat tali silaturahmi, menyiarkan nur Islam, dan menyemangati para santri dalam istiqomah mengaji,” jelasnya.

Kegiatan tersebut disambut antusias sekali oleh seluruh peserta, bahkan salah satu ustaz dari Surau Nurul Islam, Dusun Ambangah, Ustaz Suudi berharap agar agenda tersebut dijadikan agenda bulanan.

“Saya berharap, agenda seperti ini bisa dilaksanakan secara rutin setiap bulannya, bahkan saya siap jadi tuan rumahnya,” ungkapnya.

Ketua Umum Gerakan Pemuda, Afif Al Fariq merespon baik adanya kegiatan tersebut.

“Saya pribadi mengapresiasi cabang Garuda Bengkarek yang telah menghidupkan kembali syiar Islam dimulai dari langgar,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kegiatan seperti ini sudah seharusnya diadakan. Apalagi jika melihat ke belakang, bagaimana Wali Songo menyiarkan Islam dari langgar ke langgar.

“Bahkan, berdirinya pesantren juga berangkat dari surau yang menjadi tempat persinggahan para kyai, dan santri menginap,” jelasnya.

Dia berharap kegiatan ini intens. Tak ramai di awal saja.

“Semoga tidak hanya unjuk di awal, tapi bertanduk hingga seterusnya alias menjadi agenda bulanan antarsurau. Sekira bisa memberi semangat kepada para santri surau untuk semangat dan istiqomah mengaji,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *