Kemandirian Anak Disabilitas Dipengaruhi Dampingan Orangtua

Ilustrasi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Orangtua yang tidak over protective akan mampu mendorong anak disabilitas menjadi mandiri. Diperlukan juga masyarakat atau lingkungan inklusif untuk mendukung perkembangan anak disabilitas.

“Ajarkan anak untuk menikmati pengalaman melakukan kesalahan, sehingga bisa mengatasi hambatan. Orangtua mendampingi, tapi jangan batasi,” kata Koordinator Program Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) Yogyakarta, Sholih Muhdlor dalam diskusi daring dengan tema ‘Pola Asuh Positif untuk Membangun Kemandirian Anak Disabilitas’, Minggu (23/8/2020).

Diskusi tersebut diselenggarakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sekolah Alam Terpadu Cerlang Pontianak bekerja sama dengan SAPDA Yogyakarta. Peserta diskusi berasal dari beragam daerah di Kalbar, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Tengah, Tapanuli Utara, hingga Palu.

Lidia, orangtua anak disabilitas yang berbagi pengalaman pada diskusi, membenarkan pernyataan Sholih.

“Semenjak Reta bisa bejalan, saye biarkan dari belakang die ikot saye bejalan. Pernah die jatok, saye biarkan supaye die latihan,” ujarnya.

Reta adalah anak disabilitas grahita berusia 24 tahun. Kini Reta sudah memiliki kemampuan mandiri dan bisa berkomunikasi dengan baik.
Lidia dan suaminya, Nanang, bekerja sebagai penjual gorengan. Meski kemampuan ekonomi terbatas, mereka terus berupaya agar Reta tumbuh menjadi anak yang mandiri.

“Dari cerita Bu Lidia, kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan orangtua tidaklah menjadi masalah. Yang jadi masalah adalah sikap orangtua sendiri. Banyak orang yang tidak terima kondisi anaknya,” kata Sholih.

Dia menyatakan ada beberapa tahap emosional yang dialami orangtua anak disabilitas. Antara lain sedih, marah, penolakan, depresi, dan kompromi. Menurut Sholih banyak orangtua yang tidak selesai pada tahap penolakan, sehingga tidak bisa menerima kondisi anaknya.

Lidia mengakui awalnya tidak menerima kondisi Reta, tapi dia tak ingin menelantarkan Reta, yang dianggapnya sebagai amanat dari Tuhan. Lidia juga pernah merasa nyaris menyerah untuk berjuang, karena lelah membagi waktu, pikiran, dan tenaga untuk mendidik dan membawa Reta berobat. Ayah dan kakak Reta yang menguatkan Lidia untuk terus berupaya.

“Sekarang Reta bise bantu-bantu kalau saye sakit. Alhamdulillah Reta perhatian dengan orangtue,” tuturnya.

Lidia melatih kemampuan Reta secara bertahap. Mulai dari cara membersihkan diri, makan, dan lainnya.

“Bu Lidia selalu memasang target yang realistis, disesuaikan dengan kemampuan anak, orangtua, dan keluarga. Ini yang penting. Target pertama bisa menerima anak. Target kedua, bagaimana anak ini bisa mengurus diri sendiri. Target ketiga, anak saya bisa bantu-bantu orangtua,” ulas Sholih.

Satu lagi pola asuh positif, yang menurut Sholih telah diterapkan Lidia adalah tidak membanding-bandingkan kemampuan anaknya dengan anak disabilitas lain. Sikap seperti itu berlandaskan sikap Lidia dan keluarga yang menerima kondisi Reta.

Pola asuh positif artinya meminimalkan hambatan bagi anak disabilitas. Sholih memaparkan ada empat level hambatan yang dialami anak disabilitas. Level pertama adalah hambatan personal atau diri sendiri. Level kedua yakni hambatan keluarga, berkaitan dengan keluarga atau orang-orang terdekat anak disabilitas.

“Hambatan ketiga adalah hambatan lingkungan, akan bisa dihadapi jika hambatan personal dan hambatan keluarga bisa diatasi. Sedangkan hambatan keempat adalah hambatan regulasi atau hambatan negara”. (rilis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *