Burhanudin A Rasid: Satono Anak Ideologis, Rofi Anak Biologis

ORASI - Mantan Bupati Sambas dua periode, Burhanudin A Rasid saat berorasi di Deklarasi Pasangan Satono-Fahrur Rofi di Sambas, Selasa (25/8/2020).

SAMBAS, insidepontianak.com – Sosok H Satono, bakal calon (balon) Bupati Sambas di Pilkada 2020 merupakan figur yang tak asing di mata masyarakat. Dia, anak ideologis Bupati Sambas dua periode, Burhanudin A Rasid. Sejak berusia 11 tahun, Satono besar di lingkungan keluarga Burhanudin. Nilai-nilai budaya dan kepemimpinan dipelajarinya. Bekal itu, membentuk pribadinya menjadi sosok pemimpin sederhana, agamis dan visioner.

“H. Satono ini secara ideologis anak saya. Sementara Fahrul Rofi anak biologis saya,” ujar Bupati Sambas dua periode ini kepada insidepontianak.com, Selasa (25/8/2020).

Bacaan Lainnya

Sejak usia 11 tahun, pria yang karip disapa Bang Haji, besar di keluarga Burhanudin. Dia pun mantap memeluk Islam sejak kecil. Di sana dia dibimbing, dalam berbagai hal. Sampai akhirnya menjadi pribadi yang taat dan merakyat.

“Mereka kita bimbing, kalau melintas lewat di desa jangan sekali-kali kaca mobil kalian ditutup, lambai rakyat kalian, tegur sapa rakyat,” ungkapnya.

Bekal itu membuat kedua anaknya itu, terbiasa merakyat. Sampailah keduanya besar, menjadi PNS, ilmu kepemimpinan terus dipelajari.

“Bagaimana menjolok dana dari pusat dan lain sebagainya dia bertanya sama saya,” ungkapnya.

Tak ayal, sejak menjabat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), H. Satono selalu punya terobosan dalam bidang sosial. Salah satunya memasukkan program keluarga harapan pertama di Sambas.

“Jadi belum jadi bupati saja sudah bisa berbuat,” jelasnya.

Untuk itulah, ia yakin, anak ideologis dan biologisnya itu mampu membawa Sambas lebih baik. Apalagi sejumlah pekerjaan rumah belum terselesaikan. Utamanya pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan.

“Pembangunan di perbatasan belum selesai. Pembangunan jembatan Tebas, Jawai belum. Jadi banyak persoalan dan PR yang harus diselesaikan,” ungkapnya.

Burhanudin A Rasid yang jadi Bupati Sambas dua periode, yakni pada 2001–2006 dan 2006–2011 mengatakan program jangka panjang yang disusunnya untuk 25 tahun juga telah terhenti. Padahal, seharusnya tahun 2016 sudah berjalan pembagunan ekonomi rakyat.

“Saya berharap mereka bisa melanjutkan rencana pembangunan jangka panjang yang sudah kita susun 25 tahun itu,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *