Uang Kertas dan Rezeki Penebas Rumput di Bulan Hantu

BAKAR - Ribuan lembar 'uang hantu' dibakar di areal kuburan Tionghoa, Bukit Seliung, Kecamatan Sungai Pinyuh, Mempawah, Selasa (25/8/2020).

MEMPAWAH, insidepontianak.com – Ribuan lembar ‘uang hantu’ digulung sedemikian rupa, lalu dibakar di areal kuburan Tionghoa, Bukit Seliung, Kecamatan Sungai Pinyuh, Mempawah. Kendati bukan uang rupiah asli, kertas-kertas kuning itu dipercaya menjadi uang sungguhan untuk para leluhur yang telah berpulang.

Api pembakaran uang itu menyala besar. Anak cucu, keponakan, saudara dan sanak famili lain tunduk berdoa. Roh para leluhur yang telah meninggal dunia tentu senang dengan ‘kiriman uang’ dari mereka yang masih hidup.

Bacaan Lainnya

“Kita bakar ini maknanya supaya bisa ditransfer ke alam mereka, supaya terkirim ke leluhur,” kata salah satu warga Tionghoa, Hengky Lim sesaat sebelum melaksanakan sembahyang kubur, Selasa (25/8/2020).

Selain uang dari kertas, benda-benda seperti sepatu, baju, perhiasan dan pernak-pernik lainnya juga turut dibakar. Semuanya dibuat dari kertas. Ada juga persembahan berupa buah-buahan, dan makanan seperti nasi dan lauk pauk.

Sembahyang kubur sendiri merupakan ritual menghormati para leluhur bagi orang Tionghoa yang dilaksanakan dua kali setahun yakni setiap bulan ketiga dan bulan ketujuh menurut penanggalan Imlek. Orang Tionghoa menyebutnya ‘Bulan Hantu’.

Makna tersirat dalam ritual sembahyang kubur di ‘Bulan Hantu’ tidak hanya sekadar membakar benda-benda untuk dikirim ke leluhur saja. Tapi juga momen berkumpul keluarga. Selain itu, juga menjaga kebersihan makam.

Hengky Lim mengatakan semua yang dibakar itu sebagai bentuk pengorbanan kepada keluarga tercinta yang telah lebih dulu meninggal dunia.

“Ritual sembahyang kubur ini mulai tanggal 1 sampai tanggal 15 di bulan ke-3 dan ke-7 Imlek. Uang kertas dan benda-benda lainnya yang dibakar ini merupakan pemberian kita untuk roh parah leluhur,” katanya.

Bergeser dua jam sebelum orang Tionghoa melakukan ritual sembahyang kubur, ternyata banyak rejeki lain yang mengalir ke warga sekitar. Salah satunya bagi Muhammad, seorang penebas rumput. Jadwal sembahyang kubur seperti buah tahunan bagi dirinya.

Kendati bukan pekerjaan pokok, mengais rejeki bermodalkan arit di ‘Bulan Hantu’ selalu dia tunggu-tunggu. Sampai tiba masanya dia berkeliling areal pemakaman menawarkan jasa tebas rumput. Dia dibayar sukarela tanpa ada patokan harga.

“Ada yang kasih Rp10 ribu satu makam, ada juga yang kasih Rp20 ribu, sukarela saja tidak ada patokan harga,” kata Muhammad.

Dia usianya yang menginjak 38 tahun, dia sudah cukup lama menjadi penebas kuburan di ‘Bulan Hantu’. Sampai-sampai dia pun lupa kapan mulai bergelut dengan arit dan ilalang di areal makam Tionghoa Bukit Seliung itu.

Beberapa orang yang merasa puas dengan kinerjanya, bahkan memesan untuk ditebaskan kuburan melalui telepon saja. Artinya sudah menjadi langganan.

“Saya sih tebas di sini-sini saja, tidak pernah ke lain, karena sudah banyak langganan juga, pakai telepon saja,” ucapnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *