Permentan, Ganja, Fidelis dan Kasih yang Terkoyak

PENJARA - Fidelis Ari Sudarwoto dijenguk anaknya. Namun mereka harus dipisahkan jeruji besi. Kasus Fidelis semestinya membuka fakta bahwa, ganja merupakan tanaman yang bisa dipergunakan untuk pengobatan. (Foto Dok/Yodi)

Kementerian Pertanian resmi memasukkan ganja dalam kategori tanaman obat. Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, 3 Februari 2020.

Masih segar dalam ingatan kita, kisah Fidelis Ari Sudarwoto, seorang pegawai negeri sipil di Kabupaten Sanggau. Dia ditangkap Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sanggau lantaran menanam ganja di kebun rumahnya. Ganja itu dijadikan obat untuk menyembuhkan istrinya, Yeni, yang didiagnosa mengidap Syringomyelia–penyakit di sumsum tulang belakang. Kondisi sang istri sempat membaik selama pengobatan dengan ekstrak ganja, walau akhirnya meninggal usai Fidelis mendekam di penjara lantaran putusnya pengobatan.

Bacaan Lainnya

Berikut ini adalah kisah Fidelis, seperti dikutip dalam buku Meramu Borneo (2018) :

Minggu, 19 Februari 2017. Pagi itu, AKBP Ngatiya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sanggau, didampingi Kompol Sugiarto dan beberapa anggota Polsek Kapuas, Sanggau, mendatangi rumah Fidelis di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Bunut, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau.

Fidelis (36) adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di bagian Kelembagaan, Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas) Kabupaten Sanggau. Pernikahannya dengan Yeni Riswati dikarunai dua anak, yaitu Yuvensius Finito Rosewood (15) dan Samuel Finito Sumardinata (3).

Disaksikan Lurah Bunut Hilir, BNN menggeledah rumah Fidelis. Petugas menemukan 39 batang ganja (Cannabis sativa) ditanam pada sembilan pot. Pohon ganja itu setinggi satu hingga dua meter. BNN juga menemukan dua Tupperware berisi daun ganja dalam lemari pendingin.

Anggota BNN bertanya pada Fidelis, mengenai keberadaan ganja yang ditanam di rumahnya. Fidelis menjawab, ganja ditanam untuk mengobati penyakit istrinya. Ia mendapat informasi dari internet, ekstrak ganja bisa mengobati penyakit istrinya.

BNN tidak percaya. Menjelang tengah hari, Fidelis dibawa ke kantor BNNK Sanggau. Dia ditangkap. Sekitar pukul 14.00 WIB, petugas dari BNN, anggota kepolisian, dan satu unit ambulans membawa Fidelis kembali ke rumah, sekaligus membawa istrinya ke rumah sakit.

Fidelis dikawal dengan ketat. Setiba di rumahnya, ia langsung menuju kamar, tempat istrinya terbaring sakit. Ia mencium kedua pipi dan merapikan rambut istrinya. Pipinya basah oleh air mata.

Yeni terbangun dan bertanya, kenapa ia menangis? Fidelis berusaha tegar dan tersenyum, sambil menahan air matanya.

Fidelis dibawa ke BNNK Sanggau. Yeni dibawa ke RSUD Sanggau (Sekarang RSUD M.Th Djaman Sanggau). Fidelis memberikan panduan perawatan syringomyelia kepada dokter yang merawat istrinya, tapi ditolak dokter. Alasannya, dokter sudah punya Standard Operating Procedure (SOP) sendiri untuk menangani pasien. Fidelis berharap, panduan itu dapat menjadi tambahan referensi untuk mengobati istrinya.

Selanjutnya, BNN melakukan tes urin kepada Fidelis. Hasilnya negatif. Tes berlangung hingga tiga kali, tetap saja negatif hasilnya. Namun, kasus hukum itu tetap berlanjut.

Fidelis hanya bisa pasrah. Hatinya semakin hancur, ketika harus menghadapi kenyataan. Istrinya meninggal dunia, setelah 32 hari dirawat di rumah sakit. Sementara, ia harus mendekam di balik jeruji, dan dua anak dititip di rumah orangtuanya.

Apa yang dialami Fidelis memantik simpatik khalayak. Namanya ramai jadi perbicangan. Tak hanya di daerah, kasus Fidelis menjadi perhatian media nasional. Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri, turut bicara.

Banyak pihak berharap, kasus Fidelis dilihat dari sisi kemanusiaan. Namun, dukungan dari banyak pihak itu, tak membuat BNN tergerak. BNN tetap bersikukuh, Fidelis melanggar hukum dan harus diproses. Sebab, secara UU penggunaan ganja dilarang di Tanah Air.

Istri Fidelis Sakit

Istri Fidelis terbaring sakit. (Foto Dokumen Keluarga)

Fidelis menggunakan ganja sebagai pengobatan untuk istrinya, bukan tanpa sebab. Ketika istrinya, Yeni sakit, ia sudah membawa istrinya ke berbagai rumah sakit, dokter hingga pengobatan alternatif. Semua sudah dicoba. Tiga tahun Fidelis keluar masuk rumah sakit, mengobati penyakit istrinya. Hasilnya tak menggembirakan. Sakit sang istri tak kunjung berkurang.

Yeni mulai sakit sejak 2013. Saat itu, Yeni tengah hamil anak kedua, Samuel. Yeni dibawa ke RSUD M.Th Djaman, Sanggau. Dokter tidak bisa mendiagnosa penyakit Yeni. Penyakit itu dianggap sebagai bawaan saat hamil. Yeni dibawa kembali ke rumah.

Tak lama setelah kembali ke rumah, Yeni melahirkan secara normal, dengan kondisi anak dan ibu sehat. Tahun 2014, penyakit itu kambuh. Sejak itu, Yeni beberapa kali harus keluar masuk sejumlah rumah sakit. Tahun 2015, Yeni didiagnosa menderita syringomyelia.

Dokter memberikan saran, satu-satunya tindakan medis yang harus dilakukan adalah, melakukan operasi pembelahan tulang belakang, dan mengeluarkan cairan atau kista di tulang belakang. Namun, kondisi Yeni terlalu lemah. Jika dilakukan operasi, kemungkinan berhasil sangat kecil.

Sejak itulah, Fidelis melakukan berbagai pengobatan agar istrinya sembuh. Mulai dari pengobatan dokter, herbal dan pengobatan alternatif lainnya.

Akibat rasa sakit, Yeni selalu menolak ketika Fidelis mengajaknya bicara. Fidelis menjadi sedih. Luka-luka di tubuh istrinya terus bertambah, semakin besar serta dalam. Perawat yang setiap hari datang ke rumah mengobati luka Yeni, kehabisan akal dan bingung. Luka-luka itu tidak kunjung sembuh.

Fidelis berselancar di dunia maya, mencari tahu penyakit yang diderita istrinya. Kemudian, ia menemukan beberapa situs rujukan dari Eropa dan Amerika, serta berkomunikasi dengan orang yang pernah mengalami, atau memiliki penyakit yang sama dengan istrinya.

Akhirnya, Fidelis menemukan sejumlah referensi yang menyatakan, ganja bisa mengobati berbagai penyakit, termasuk yang diderita istrinya.

Meski sudah dapat titik terang, Fidelis tetap saja galau. Fidelis berusaha mencari izin dan dispensasi, agar bisa mendapatkan dan menggunakan ganja untuk mengobati istrinya. Tak ada satu pun yang dapat membantunya. Alasannya, ganja termasuk tanaman yang dilarang penggunaan dan pemanfaatannya di Indonesia.

Tak sanggup melihat hembusan napas istri yang semakin hari semakin sulit, Fidelis akhirnya memutuskan menggunakan ganja, untuk mengobati istrinya. Ia mulai mengekstrak ganja dengan proses moserasi dan dapat dilakukan sendiri di rumah.

Fidelis tidak mendapatkan ganja segar sebagai bahan pengobatan. Dia nekat menanam sendiri. Biji-biji ganja dibeli lewat internet. Awalnya, biji ganja tak tumbuh. Setelah melalui berbagai percobaan, ganja tumbuh dengan baik. Dari bahan segar yang ditanam sendiri, Fidelis mengobati istrinya secara teratur.

Fidelis mencampurkan minyak ganja pada makanan atau minuman istrinya. Menambahkan beberapa lembar daun ganja pada telur omelet kesukaan sang istri. Juga membuatkan jus alpukat susu, bersama daun dan bunga ganja segar.

Semenjak Fidelis intensif memberikan istrinya ekstrak ganja, Yeni mulai lancar berkomunikasi kembali. Mereka sering berbagi cerita. Yeni mulai mengingat kenangan yang pernah mereka lalui bersama.

Selama setahun mengobati istrinya secara mandiri dengan ganja, ada perubahan dirasakan. Kesehatan istrinya secara perlahan mulai membaik. Luka di tubuh mulai mengering. Nafsu makan istri mulai tumbuh. Badan istri tak lagi kurus kering.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Fidelis ditangkap BNNK Sanggau dengan alasan kepemilikan pohon ganja.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *