Cerita Owner ‘Kerupuk Mager’ Ambil Peluang di Tengah Pandemi

TUNJUKKAN - Owner Kerupuk Mager, Rama Prasuda menunjukkan hasil produksi di rumahnya di Kota Singkawang.

Di akhir 2019, Rama Prasuda tengah semangat-semangatnya memulai usaha. Dia keliling warung kopi dan kafe di Singkawang. Jualan kerupuk pangsitnya baru saja memiliki varian rasa. Tiba-tiba, di awal Februari, Covid-19 menerjang. Ekonomi terhenti. Usahanya jalan di tempat.

Hampir dua bulan, usaha rumahan lelaki kelahiran Pemangkat, 4 Maret 1992 itu tanpa kemajuan. Saat itu imbauan untuk tetap di rumah terus didengungkan. Ruang publik dan warung kopi tutup. Pasarnya seakan hilang.

“Kebetulan waktu itu belum launching (merek), launching-nya setelah tutup,” ujar lulusan S-1 Keperawatan salah satu universitas swasta di Kota Malang itu.

Keadaan itu justru menginspirasinya. Orang-orang hanya berada di rumah. Tak ke mana-mana. Ada yang bosan, tapi ada yang kenyamanan. Jadi malas gerak. Tercetuslah ide nama ‘Kerupuk Mager’. Mager sendiri berarti malas gerak. Nama ini terinspirasi untuk memfasilitasi warga yang hanya bisa bekerja di rumah dan tidak bisa keluar karena pandemi.

Konsep yang sudah ada diubah. Logo dibuat. Pemasaran daring dikencangkan. Pembeli tinggal santai di rumah, pesanan diantar.

NIKMATI – Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono saat menikmati Kerupuk Mager di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

“Jadi yang biasanya kerja di kantor bisa ngobrol dengan teman kerja, ketika (bekerja) di rumah, kerupuk mager yang menggantikan. Bekerja ditemani Kerupuk Mager sambil mengunyah,” ungkap Rama.

Dengan branding baru, konsep penjualan pun diubah 180 derajat. Jika dulunya Kerupuk Mager menunggu pembeli datang ke warkop atau tempat penitipan lain, kini produk yang harus mendatangi pembeli. Konsumen cukup memesan secara online lewat Instagram @kerupuk_mager.official atau @kerupuk_mager.ptk.

Berjalannya waktu, ketika pandemi Covid-19 mulai membaik dan aktivitas masyarakat sudah berjalan dengan beradaptasi pada kondisi kenormalan baru, konsep ini tetap dipertahankan.

Rama juga mulai melibatkan para penjual yang bisa mendatangi langsung calon pembeli. Seperti menawarkan ke kantor-kantor pemerintahan, swasta dan instansi lainnya.

“Karena yang malas atau mager tinggal kami antar,” ucapnya.

Dengan cara tersebut penjualan berangsur meningkat. Puncaknya ketika Hari Raya Idulfitri. Walau produksi rumahan yang dijalankan di Kota Singkawang ini hanya melibatkan enam orang pekerja, kapasitasnya sudah mampu membuat 10.000 bungkus per bulan.

Sesuatu yang sebelumnya tak terpikikan Rama.

Saat ini Kerupuk Mager mulai dikenal luas. Sedikitnya 30 jaringan distribusinya tersebar di Kalimantan Barat. Dia pun masih membuka peluang bagi yang ingin bergabung. Sementara untuk luar Kalbar, Kerupuk Mager bisa dijumpai di Bogor dan Jogja.

“Sebenarnya ada permintaan dari seberang (Sarawak, Malaysia) tapi karena pandemi border masih ditutup,” terangnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *