Alicia Rindu Sekolah, Belajar Tatap Muka SMPN 1 Lewat Proses Panjang

CEK SUHU - Para siswa SMPN 1 Pontianak mengecek suhu sebelum masuk ke kelas dalam simulasi belajar tatap muka, Selasa (1/9/2020).

PONTIANAK, insidepontianak.com – Alicia Eva Adena, siswi kelas IX SMPN 1 Pontianak kangen sekolah. Dia begitu semangat ketika simulasi belajar tatap muka di sekolahnya dilakukan, Selasa (1/9/2020). Semua protokol kesehatan, mulai dari cek suhu, cuci tangan, sampai duduk berjauhan, dijalankan.

Alicia mengungkapkan ada perasaan rindu dengan teman-teman sekolahnya karena sekian lama tidak bertemu selama masa pandemi.

Bacaan Lainnya

“Ada rasa rindu bertemu teman-teman di sekolah,” ungkapnya.

Selama belajar dari rumah, ada suka duka selama belajar melalui online atau daring. Susahnya ketika belajar dari rumah terkadang ada perasaan bosan karena tidak bertemu teman-teman sekelas.

“Senangnya kalau belajar secara online dari rumah tidak terlalu stres,” kata Alicia yang juga sebagai Wakil Ketua OSIS SMPN 1 Pontianak.

Sebelum dimulainya simulasi, lanjut Alicia, para siswa sudah diberitahukan tentang protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Misalnya pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.

“Saya sekolah dengan protokol kesehatan,” katanya.

Kepala SMPN 1 Pontianak, Yuyun Yuniarti menerangkan, sebelum melakukan uji coba, pihaknya terlebih dahulu mengisi daftar periksa kesiapan sekolah yang memang ada di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

“Salah satunya adalah sarana cuci tangan pakai sabun sampai pada pengaturan duduk dan sebagainya.Termasuk SOP yang sudah dikeluarkan oleh Kemendikbud,” terangnya.

Setelah itu, lanjut dia, sekolah juga menyebarkan kuisioner kepada peserta didik dan orang tua tentang pemetaan kesehatan mereka. Dengan demikian pihaknya sudah memiliki data, siapa saja siswa yang punya penyakit bawaan dan sebagainya.

“Itu sebagai data awal bagi kami untuk mengundang orang tua, selanjutnya mereka diminta menyatakan kesediaannya atau mengizinkan putra-putrinya mengikuti pembelajaran tatap muka,” ucap Yuyun.

Pihak sekolah juga menyiapkan sarana dan prasarana di sekolah, diantaranya tempat cuci tangan yang sangat memadai di setiap kelas, persediaan masker, face shield dan hand sanitizer. Dirinya menyebut pengaturan jadwal bagi siswa juga sudah disusun. Semula dalam satu kelas berjumlah 32 siswa, sekarang dikondisikan maksimal menjadi 50 persen dari jumlah tersebut setiap kelasnya.

“Sehingga kita perlu pengaturan jadwal dan sebagainya mengingat keterbatasan jumlah guru,” katanya.

Pada simulasi ini hanya menggunakan sebanyak dua kelas dengan jumlah siswa keseluruhan 30 siswa. Sementara dari 273 siswa kelas IX, 83 persennya sudah menyatakan kesiapannya mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas. Sebelumnya pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan orang tua siswa melalui video conference dengan perwakilan Paguyuban Kelas. Kemudian paguyuban kelas akan meneruskan informasinya ke grup WhatsApp Paguyuban.

“Untuk selanjutnya mendata siswa yang bersedia atau disetujui orang tuanya untuk mengikuti belajar tatap muka di kelas,” paparnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *