Mengincar Kepala Babi di Sembahyang Rebut Kelenteng Tri Dharma Bhakti Sungai Pinyuh

INCARAN - Kepala babi jadi incaran dalam sembahyang rebut di halaman Kelenteng Tri Dharma Bhakti, Sungai Pinyuh, Mempawah, Rabu (2/9/2020).

Pagi-pagi sekali, berbagai macam hasil bumi disusun berjejer di halaman Kelenteng Tri Dharma Bhakti, Sungai Pinyuh, Mempawah. Ada buah-buahan, sayuran, makanan pokok, berbagi macam jenis kue, kepala dan daging babi, daging ayam hingga snack. Tapi yang paling banyak diincar adalah dua kungkung kepala babi yang nilainya jutaan rupiah.

Semua sajian itu dipersiapkan untuk ritual sembahyang rampas atau sembahyang rebut yang jatuh pada tanggal 15 Imlek, atau bertepatan Rabu (2/9/2020). Tepat pada pertengahan bulan ketujuh Imlek atau orang Tionghoa biasa menyebutnya ‘Bulan Hantu’.

Mereka percaya, pada bulan itu pintu alam baka terbuka. Arwah para leluhur sedang bersuka ria dan berkeliaran di dunia manusia.

Peringatan sembahyang rebut di Kelenteng Tri Dharma Bhakti tahun ini tidak seperti biasanya. Hujan rintik menyiram, ribuan orang dari berbagai kalangan sudah berdatangan sejak pukul 12.00 siang.

Rencananya sembahyang rebut akan dimulai pukul 17.00. Hujan masih mengguyur, ritual pun dipercepat jadi pukul 16.00. Orang-orang berbekal kantong plastik dan karung sudah memadati sekeliling kelenteng. Sempat terjadi kemacetan. Apalagi posisi kelenteng berada tepat di tengah Pasar Pagi Sungai Pinyuh.

“Pukul 16.00 hujan semakin jadi, akhirnya kita percepat saja ritual sembahyang rebut ini. Karena kasihan mereka yang sudah menunggu lama kehujanan,” kata pengurus Kelenteng Tri Dharma Bhakti, yang juga panitia sembahyang rebut tahun 2020, Hermawan Lim.

Orang-orang yang sudah mengunci incaran masing-masing menunggu dengan tidak sabar pagar Kelenteng dibuka. Beberapa kali mereka berteriak untuk memprovokasi panita agar segera membuka pagar. Tepat pukul 16.00, keriuhan itu dimulai.

Orang-orang menyerbu, pagar pembatas roboh. Adegan rebutan makanan tersaji. Ribuan orang berlari ke halaman Kelenteng Tri Dharma Bhakti. Mereka fokus mengisi kantong dan karung masing-masing.

Semua mata tertuju kepada dua orang yang sedang tarik-menarik kepala babi.

Pria berbaju merah sedang berusaha mengamankan dua kungkung kepala babi. Dia memeluknya erat. Satu orang remaja membawa karung tiba-tiba menaik keras salah satu kepala babi dari tangannya.

Satu kepala terlepas, dia masih berusaha mengamankan paha dan kaki depan, orang lain mengisi karung dengan buah-buahan, beras, kue dan makanan lainnya.

Selang lima menit semua bersih. Hanya ada beberapa batang tebu, dan tumpahan nasi ketan. Beberapa orang masih menyodok nasi tumpah dan memasukkan ke kantong. Mereka bilang untuk makanan babi di rumah. Pagar pembatas yang roboh selesai diperbaiki.

“Kita percaya, dari turun-temurun bahwa ritual sembahyang rebut ini bukan sekadar berebut makanan bagi manusia saja, tapi arwah para leluhur dan hantu-hantu gentayangan juga berebut,” kata Hermawan Lim.

Dia menjelaskan, di awal Bulan Hantu, orang Tionghoa melaksanakan sembahyang kubur. Anak cucu mendoakan dan memberi sesajian kepada leluhur mereka di pemakaman. Namun bagi arwah yang tidak punya keluarga, sembahyang rebut merupakan jamuan untuk mereka.

“Sebelumnya mereka kembali ke alam baka, arwah gentayangan yang tidak punya keluarga, tidak disembahyangkan, meninggal penasaran, mereka dijamu melalui sembahyang rebut ini,” pungkas Hermawan Lim.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *