KPPAD Kalbar Kawal Kasus Kakek Cabuli Anak Berkebutuhan Khusus di Pontianak

Ilustrasi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat mempercayakan penanganan kasus cabul yang menimpa seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Pontianak kepada aparat Kepolisian. KPPAD memastikan akan mengawal kasus tersebut hingga tuntas.

“Sementara ini kami serahkan kepada kepolisian melakukan pemeriksaan kasus ini, dan kami akan melakukan pendampingan berkoordinasi dengan Polresta, stakeholder terkait,” kata Komisioner KPPAD, Nani Wirdayani kepada insidepontianak.com.

Bacaan Lainnya

Nani mengatakan, KPPAD akan fokus melakukan pendampingan kepada korban. Tahap pertama, akan dilakukan penjangkauan, berkoordinasi dengan instansi terkait, yakni kader perlindungan anak dan satgas perlindungan anak di Kota Pontianak.

“Saya yakin mereka juga sudah melakukan penjangkauan kepada korban,” ungkapnya.

Saat ini KPPAD Kalbar belum bertemu korban. Pihaknya tengah memastikan keberadaan bocah 13 tahun itu, apakah diamankan di shelter, atau di rumah keluarga.

Di samping itu, pihaknya juga
akan melakukan pendampingan kesehatan, agar korban tidak terinfeksi penyakit kelamin. Setelah itu, KPPAD juga akan melakukan konseling psikologis untuk menghilangkan trauma korban.

Nani mengakui, penanganan anak berkebutuhan khusus berbeda dengan anak biasanya. Termasuk pemilihan konselor yang memang khusus menangani anak berkebutuhan khusus.

Selain itu, anak juga harus terus didampingi orang terdekat yang sehari-hari berkomunikasi dan berada di dekatnya.

“Dengan cara ini akan membuat dia nyaman,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, bocah berkebutuhan khusus berusia 13 tahun itu diduga menjadi korban pencabulan yang dilakukan MS, kakek berumur 59 tahun.

Aksi bejat itu terjadi di kebun yang berada di salah satu komplek di Jalan Ujung Pandang, Kecamatan Pontianak Kota, Selasa (1/9/2020) sekira pukul 10.00 WIB. Kejadian ini terungkap, setelah warga sekitar, menangkap basah pelaku di kebun.

“Saat itu, ibu korban dan beberapa warga mencari korban ke kebun. Di sana didapati korban sedang merapikan pakaiannya dan tersangka sedang membetulkan celananya,” kata Kapolresta Pontianak Kota, melalui Kasat Reskrim AKP Rully Robinson Polly, Jumat (4/9/2020).

Mendapati hal tersebut, warga langsung membawa tersangka dan korban ke Mapolsek Pontianak Kota guna pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil penyelidikan sementara, aksi bejat MS ini, diketahui pernah dilakukan kepada Melati, pada Mei 2020 lalu.

“Korban ini anak berkebutuhan khusus yang masih di bawah umur,” ungkapnya.

Penyidik pun telah mengamankan satu lembar akte kelahiran korban, satu helai baju kemeja, dan satu helai celana panjang warna cokelat.

Saat ini MS masih diperiksa unit PPA Polresta Pontianak Kota. Ia pun terancam dijerat pasal 81, 82 UU Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *