Warisan Digital: Eskatologis Media Sosial

ilustrasi.

Menurut KBBI, warisan adalah sesuatu yang diwariskan, seperti harta, nama baik, harta pusaka. Sementara itu, dalam ranah keagamaan lebih tertuju pada harta pusaka yang ditinggalkan dan diwariskan kepada anggota keluarga karib dengan persentase berbeda sesuai posisi genealogi yang dibahas dalam ilmu Faraid secara terperinci. Pada intinya adalah sesuatu yang ditinggalkan dalam bentuk apa pun sesaat memasuki ranah eskatologis.`

Di era disrupsi, ditengarai warisan juga mengalami perubahan signifikan, tidak hanya terbatas pada harta pusaka saja, tetapi yang ditinggalkan di kanal-kanal elektronik yang sering disebut dengan jejak digital yang tampaknya, dapat diistilahkan dengan warisan digital meski belum akrab. Menariknya, warisan digital ini dapat dialami oleh hampir setiap orang zaman now yang tidak dapat lepas dari gawai demi kelancaran interaksi dan transaksi elektronik.

Bacaan Lainnya

Jejak digital dan warisan digital dipersamakan dengan apa yang dijejakkan di ruang kanal elektronik, sedangkan dibedakannya kepada apa yang ditinggal pergi selamanya oleh empunya. Jejak digital dapat dihapus oleh empunya jika dirasa tidak layak-patut, tetapi warisan digital sama-sekali tidak dapat diapa-apakan lagi. Oleh karena itu, menjadi penting berinteraksi dengan segala kanal elektronik di media sosial dengan mempertimbangkan kelayakan dan kepatutan.

Namun demikian, jejak digital masih tetap berpotensi tertinggal selamanya saat pihak lain telah tangkap layar (screenshot) atas unggahan di kanal elektronik atau menyimpannya maka upaya menghapus unggahan tetap sia-sia. Dapat dibayangkan bagaimana unggahan telah menjadi warisan digital pasti tidak dapat dihapuskan meski tidak ditangkap layar oleh pihak lain. Lebih-lebih kata kunci (password) tidak diwariskan untuk keluar dari kanal elektronik maka akan muncul otomastis bersamaan tanggal yang sama saat unggah di tahun-tahun berikutnya.

Proses teknologi informasi melalui media sosial misalnya, setidaknya memiliki dampak panjang dan jika “disusur galur” nantinya ternyata berdampak metafisis pascaempunya unggahan berpulang. Warisan digital akan berdampak metafisis dengan artian akan muncul kembali sewaktu-waktu padahal sudah ditinggal berpulang. Ragam dampak bermunculan karena menjadi konsumsi umum di media sosial dan tunakuasa meminimalisasi apalagi menghilangkan dampak.

Dampak metafisis yang ditimbulkan dari ruang media sosial masih saja dipicu meski dalam ruang eskatologis sekalipun. Ruang eskatologis yang bersifat metafisis mengalami disrupsi juga seiring perkembangan media sosial yang masif. Di saat di ruang eskatologis ingatan kepada seseorang yang telah berpulang berupa cerita-cerita yang mungkin sepihak sebelum maraknya media sosial dan hanya diketahui oleh kalangan terbatas karena kedekatan.

Sementara itu, saat maraknya ruang media sosial ingatan itu semakin beragam dan kompleks, baik isi (konten) maupun tafsir di kemudiannya meski telah berada pada ruang eskatologis. Ingatan itu pada dimensi yang kompleks dan gamblang terbuka lebar dengan berbagai tafsir dari kalangan tidak terbatas lagi melalui keberadaan media sosial. Bahkan, variabel pada ingatan tersebut semakin mengemuka sebagai sarana bantu memahami konteks atas teks ingatan.

Ruang media sosial tidak dapat dielakkan, malah semakin beranjak menjadi kebutuhan primer karena hampir segala aspek kehidupan dimediasi olehnya, termasuk interaksi sosial. Tentunya, idealnya merawat ruang media sosial dengan konten positif agar warisan digital tidak bermasalah di kemudian hari saat telah memasuki ruang eskatologis. Hanya saja interaksi sosial di ruang media sosial kerap kehilangan kendali karena kemudahan yang didapat.

Kesadaran eskatologis tampaknya perlu saat bermain-main di ruang media sosial agar tidak bermasalah berlarut-larut lagi panjang sekali. Kesadaran eskatologis berpotensi memandu penuh cek dan ricek unggahan di media sosial. Sekiranya unggahan berpotensi memicu masalah maka perlu diurungkan sebab berpotensi pula menjadi bumerang dari warisan digital kelak. Tanpa kesadaran eskatologis khawatir terjerumus dalam sumur tanpa dasar dari  warisan digital juga.

Kesadaran eskatologis media sosial sepertinya menjadi penting (urgent) agar unggahan berkonten positif dan berdampak positif kelak. Dapat juga lengser dari media sosial meski sulit atau dirasa sudah tidak banyak bersentuhan sebagai kesadaran eskatologis demi merawat warisan digital kelak sebelum betul-betul masuk dimensi eskatologis yang metafisis. Membawa diri sendiri tidak hanya kelak nanti, tetapi di ruang kini dengan merawat interaksi sosial elektronik juga begitu agar warisan digital positif melalui kesadaran eskatologis di ruang media sosial.

Sudut warkop, 290820

Penulis:

Khairul Fuad, peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *