Penganiayaan Anak dan Suami di Sungai Pinyuh, Bukti Pelaku KDRT Bisa Siapa Saja

Ilustrasi.

MEMPAWAH, insidepontianak.com – Kasus ibu aniaya anak kandungnya hingga patah kaki di Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah kini ditangani Polres Mempawah. Pelaku dilaporkan oleh suaminya sendiri berinsial H. Ternyata selain anak lelakinya yang menjadi korban, H juga dianiaya.

“Saya dipukuli, bahu kanan saya luka-luka, tangan kiri bengkak karena menangkis pukulan kerangkong (kursi kayu kecil). Waktu itu saya juga nyaris disabet dengan pisau, beruntung saya bisa lari ke luar rumah,” katanya, Senin (14/9/2020).

Bacaan Lainnya

Apa yang dialami H dan anaknya, bisa saja disebut sebagai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Menurut pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, KDRT diartikan sebagai tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan hubungan.

H mengatakan sama sekali tidak menyesal mempolisikan istrinya. Dia menilai perilaku keras yang dilakukan istri kepada anak kesayangannya sangat kejam. Dia meminta istrinya dihukum seberat-beratnya sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Saya tidak masalah, keluaga saya juga semuanya tidak terima dengan perlakuan dia kepada anak saya. Keluarga dia juga tidak ada yang menelepon saya kalau misalkan mereka keberatan dilaporkan ke polisi,” tegasnya.

H telanjur kecewa dengan kelakuan istrinya. Selain patah kaki kiri, anaknya juga menderita retak tulang tengkorak bagian belakang. Hal itu dibuktikan dengan hasil foto rontgen kepala anaknya.

“Ada beberapa lembar hasil foto rontgen, sudah jelas di situ kelihatan ada retak. Sekarang hasil foto itu sudah sama polisi,” katanya.

Saat dikunjungi oleh KPAID Mempawah, anaknya yang masih berusia empat tahun itu terlihat aktif bermain. Namun ketika ditaya soal ibunya, dia ketakutan. Beberapa kali ayahnya menunjukkan benda-benda yang digunakan oleh ibunya untuk memukul, anak tersebut ketakutan.

“Dia ini sudah trauma dengan ibunya, tadi di kantor polisi ditanya apakah dia mau bertemu dengan ibunya atau tidak, dia tegas menolak. Lalu ini (memegang sendok nasi) disodokannya ke mulut anak saya,” beber H.

H merasa bersyukur dengan kepedulian orang-orang di sekitarnya. Selama ini dia yang bekerja sebagai buruh bangunan di Pontianak tidak tahu perilaku kasar istrinya terhadap anaknya.

“Kalau tidak ada tetangga yang menolong saya tidak tahu lagi jadi apa anak saya ini,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *