Suyanti: Pejuang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Kepala SMA Tuna Rungu SLB Dharma Asih Pontianak, Suyanti.

Mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara gampang. Tak semua orang telaten melakukannya. Karena itu, Suyanti merasa besyukur terpanggil menjadi pendidik anak berkebutuhan khusus. Lahir di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 1968, seolah menjadi penanda, ibu dua anak itu terlahir sebagai ‘pejuang’ pendidikan.

Jumat pagi pekan lalu, Yanti tampak sibuk. Sejak pagi, di ruang kerjanya sudah menunggu dua tamu. Perempuan berhijab. Saya ikut ngantre duduk di kursi panjang. Menunggu giliran dipanggil. Sedangkan suasana di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Asih Pontianak yang berada di bilangan Jalan Ahmad Yani 1 saat itu, sedang sepi.

Tidak ada bunyi bel tanda siswa harus masuk kelas atau istirahat. Aktivitas belajar tatap muka memang telah ditiadakan sejak pandemi Covid-19 melanda. Siswa berkebutuhan khusus di SLB tersebut pun harus menyesuaikan diri belajar lewat daring. Sekitar 15 menit menunggu, Bu Yanti, sapaan akrabnya, datang menghampiri saya.

“Ayo, silakan masuk,” ajaknya ke ruang kerja. Dua tamu sebelumnya, masih belum beranjak.

Ruang kerja Yanti cukup besar. Lengkap kursi untuk menerima tamu. Di sudut dinding kanan, terpajang satu lemari ful piala penghargaan.

“Ini piala-piala penghargaan prestasi anak-anak. Ada yang juara tingkat nasional sampai internasional, lomba putri kecantikan anak berkebutuhan khusus. Itu yang sangat membanggakan saya,” ucapnya.

Yanti adalah kepala sekolah SD dan SMP, SLB B Dharma Asih, Pontianak. Memilih karier sebagai pendidik anak berkebutuhan khusus, baginya sudah jadi tujuan sejak duduk di bangku SMA. Semua dijalaninya dengan gembira.

BERMAIN – Kepala Sekolah B SLB Dharma Asih Pontianak, Suyanti (baju hitam) bertemu Wali Kota Pontianak, Sutarmidji saat membawa anak didiknya bermain di Taman Digulis Pontianak, Sabtu, 12 November 2016.

Ia terinspirasi dari sang kakak ipar. Seorang pendidik di sebuah SLB di Solo. Karena niatnya sudah terpatri, ia pun meluruskan cita-citanya. Memilih kuliah di Universitas Negeri Semarang. Ambil jurusan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus tuna rungu.

Tahun 1991, Yanti lulus menyandang gelar S1. Sebelum sampai ke Kalbar, perempuan 52 tahun itu sempat ditempatkan mengajar di sebuah SLB di Nangro Aceh Darussalam. Tepatnya tahun 1994.

“Saya orang Solo,” ujarnya.

Tiga tahun bertugas di Kota Serambi Mekkah, Yanti menemukan pasangan hidup. Ia pun memutuskan menikah. Tahun 1997, suaminya bernama Agus lantas memboyongnya merantau ke Kalbar.

“Suami saya juga guru PNS, mendapat penempatan di Kalbar,” katanya.

Saat pindah ke Kalbar, Yanti langsung diperbantukan mengajar di SLB Dharma Asih. Saat itu, SLB tersebut belum memiliki SMA. Hanya SD dan SMP. Ketika itu, tenaga pengajarnya pun belum banyak. Hanya 12 orang saja.

“Saya mulai mengajar di SLB ini, Juli 1997,” katanya.

LEPAS – Suyanti (batik hijau) saat melepas kontingen Peparpenas Kalbar dari SLB Dharma Asih ke Solo, November 2017 lalu.

Seiring berjalannya waktu, Yayasan SLB Dharma Asih memutuskan membuka jenjang pendidikan lanjutan. Suyanti pun diberi amanah menjadi Kepala Sekolah. Karena latar belakang pendidikannya juga pas, amanah itu diemban sampai sekarang.

Belasan tahun mengabdi sebagai tenaga pendidik anak berkebutuhan khusus, Suyanti tak pernah merasa jenuh. Apalagi mengeluh. Justru sepanjang pengabdiannya mencerdaskan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, ia merasa gembira.

Baginya, bisa mengantarkan anak-anak berkebutuhan khsusus baca tulis dan berprestasi dan bisa hidup layak, dengan dibekali pengetahuan menjadi suatu kebanggan yang tidak ternilai. Ada kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur dengan apa pun.

“ini sudah menjadi passion saya. Dan alhamdulilah, ada siswa kita yang lulus di SLB ini, berhasil melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya. Sekarang sudah masuk semester tiga. Ini sangat membanggakan kami,” ucapnya.

Di masa pandemi Covid-19 ini, Yanti terus memutar otak. Supaya siswa-siswanya tetap bisa belajar daring secara maksimal. Meskipun diakuinya, anak berkebutuhan khusus, apalagi tuna rungu sangat kesulitan belajar jarak jauh. Karena itu, peran aktif orangtua sangat dibutuhkan.

Di sisi lain, pihak sekolah juga tengah mengupayakan formulasi program agar siswa tuna rungu bisa lebih mudah mendapat bahan ajar lewat belajar daring.

TERIMA – SLB Dharma Asih Pontianak menerima kunjungan Aprila Indonesia dalam rangka pengembangan program WIrausaha Disabilitas bersama Kemendikbud dan PLN, awal September 2020. INSTAGRAM @aprilaindonesia

“Dua tamu saya tadi itu adalah dosen yang sedang melakukan penelitian. Dan mereka berencana akan membantu kita membuatkan aplikasi untuk memudahkan anak-anak belajar daring. Mudah-mudahan rencana ini bisa terlaksana,” harapnya.

Yanti telah mendedikasikan hidupnya untuk mengabdi sebagai guru anak berkebutuhan khusus. Sejak kecil, ia memang selalu diajarkan oleh orangtuanya agar selalu menjadi insan yang bermanfaat dan berguna untuk banyak orang.

Lahir dari kalangan orangtua yang berlatar belakang petani, membentuk karakter Yanti sebagai pribadi sederhana, sabar, tekun dan pekerja keras. Kepribadiannya itu sejalan dengan cita-citanya menjadi seorang pendidik sejati.

“Kedua orangtua saya, memang selalu menanamkan nilai-nilai moral. Seperti bekerja dengan baik dan jujur. Karena itulah kunci segala kesuksesan,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *