Pelindo dan Kontraktor Klaim Paling Benar terkait Pelabuhan Rp45,3 Miliar Mangkrak di Ketapang

FOTO BERSAMA - Para pejabat berfoto bersama dalam peresmian dimulainya pembangunan pelabuhan peti kemas Pelindo di Ketapang, 2019 lalu. MUHAMMAD FAUZI

PONTIANAK, insidepontianak.com – Pelindo cabang Pontianak, dan pelaksana proyek pembangunan dermaga dan lapangan untuk penumpukan peti kemas Ketapang saling klaim terkait mangkraknya proyek dengan anggaran Rp45,3 miliar itu. Kontraktor memastikan, apa yang dibangun sudah sesuai dengan kontrak perjanjian, dan menuntut Pelindo melakukan pembayaran.

“Saya menuntut proyek yang sudah saya kerjakan sekarang dibayar. Ada Rp4 miliar itu,” tegas kontraktor PT Pratama Godean Jaya, Asep Rustandi.

Bacaan Lainnya

Dia memastikan, bahwa dia berbicara sesuai data.

“Dia klaim semacam itu boleh saja, tapikan dibuktikan dengan fakta, dan si Udin ini baru satu bulan jadi GM, yang tahu kan yang lama,” terangnya.

Sebelumnya, General Manager Pelindo, Udin Mahmudin menuturkan, mangkraknya pembangunan peti kemas di Ketapang berawal dari ketidaksesuaian spesifikasi material tiang pancang yang dibangun kontraktor. Menurutnya kontraktor telah lalai mendatangkan material yang tak sesuai aturan.

“Makanya dari awal kita sudah minta kontraktor untuk diganti, namun sampai berakhirnya kontrak, kontaktor tidak bisa mendatangkan tiang,” katanya ketika dipanggil DPRD Kalbar terkait kasus tersebut di Ruang Rapat Badan Anggaran, dengan dipimpin Ketua Komisi IV, H Subhan, Kamis (17/9/2020).

Pelindo berencana mengganti kontraktor, termasuk melakukan evaluasi apakah akan dilakukan pembangunan ulang. Selain itu, mereka juga belum melakukan pembayaran sepeserpun kepada kontraktor, sehingga mereka mengklaim belum ada kerugian negara dalam perkara ini.

Namun saat ditanya alasan memilih kontraktor tersebut, Udin tak bisa menjawab. Dia mengaku tidak tahu, bagaimana prosesnya.

“Saya tidak tahu, itukan proses lelang, siapa yang dapat, dan saya kan baru di sini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, ambisi Pelindo cabang Pontianak membangun mega proyek dermaga dan lapangan penumpukan untuk Terminal Peti Kemas di Pelabuhan Kawasan Ketapang berujung mangkrak. Proyek senilai Rp45,3 miliar itu dikerjakan sejak 22 Maret 2019. Namun hingga 380 hari waktu pelaksanaan, wujudnya belum tampak.

Pantauan insidepontianak.com di lapangan terlihat ratusan kayu cerucuk menancap tanah. Layaknya kaki-kaki, pondasi itu tertata rapi di tepi Sungai Pawan. Berdekatan dengan lokasi bongkar muat angkutan sungai Pontianak-Ketapang di Jalan Hayam Wuruk, Desa Suka Bangun Dalam, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang.

Beton pancang serupa pensil usai diasah, bertumpuk di salah satu sisinya. Harusnya tiang-tiang itu sudah tertanam di tanah. Apalagi jika melihat plang proyek pembangunan dermaga dan lapangan penumpukan untuk Terminal Peti Kemas di Pelabuhan Kawasan Ketapang, cabang Pelindo Pontianak, di pinggir jalan. Tertulis, tenggat pekerjaan selesai 5 April 2020.

Proyek ini sebenarnya mulai dikerjakan sejak 22 Maret 2019. Namun hingga 380 hari waktu pelaksanaan, sepi aktivitas pengerjaan proyek. Diduga penyebabnya, pengerjaan proyek tidak sesuai dengan spesifikasi, yakni ukuran tiang pancang dan cerucuk. Baru tahap awal pelaksanaan, pihak Pelindo memutuskan kontrak kerja dengan pihak kontraktor.

Berdasarkan dokumen surat perjanjian kontrak Pelindo cabang Pontianak nomor HK.01/20/11/1/D1.2/D5/C.PTK-17 yang diterima insidepontianak.com, kontraktor proyek miliaran itu adalah PT Pratama Godean Jaya. Kantornya berlokasi di Jalan Karaeng Bonto Tangnga II, Nomor 4F, Makassar. Kuasa direktur perusahaannya bernama Asep Rustandi. Dia juga kontraktor yang bertanggung jawab di Ketapang.

Dari surat yang ditandatangani General Manager Pelindo cabang Pontianak, Wahyu Hardiyanto, 20 November 2017 itu, pembayaran dilakukan enam tahap. Totalnya Rp45.337.077.000.

Seorang warga Desa Suka Bangun Dalam, Yopi bercerita, selain tak lagi dikerjakan, proyek pembangunan itu menyisakan masalah dengan masyarakat sekitar.

“Masalah pekerja, material, dan usaha kantin masyarakat juga ada yang belum dibayarkan,” tutur Yopi.

Beberapa material memang sudah di posisi seharusnya. Namun sebagian lagi teronggok begitu saja. Jika pekerjaan tak dilanjutkan, barang-barang itu malah mirip rongsokan.

“Sudah banyak material yang terpasang di sana, dari tiang pancang, cerucuk, tapi itukan tidak sesuai spesifikasi jadi harus diganti sesuai spesifikasi yang tertera di kontrak kerja mereka pelaksana,” katanya.

Para warga sudah berharap banyak dengan pembangunan pelabuhan Pelindo di sana. Dengan luasan yang berkapasitas besar, otomatis membawa perubahan ekonomi masyarakat sekitar. Paling tidak, mereka bisa bekerja di pelabuhan.

Pelaksana proyek pembangunan dermaga dan lapangan untuk penumpukan peti kemas itu, Asep Rustandi enggan bicara banyak terkait terbengkalainya proyek.

“Udah ke Pelindo belum? Saran saya ke Pelindo dulu, baru ke saya,” kata Asep saat dihubungi insidepontianak.com.

Asep menyebut dirinya adalah korban dari terhentinya pengerjaan proyek dengan nilai kontrak sebesar Rp45,3 miliar itu.

“Yang jelas saya adalah pihak yang dirugikan. Korban saya ini,” terangnya.

Sejak proyek dikerjakan, pihaknya belum menerima bayaran sepeser pun. Tak ada uang muka, bahkan penagihannya hingga kini belum dilunasi.

“Kalau ada yang bilang saya sudah terima uang, bohong semua itu, tidak benar,” katanya.

Perkara tiang pancang yang tak sesuai spesifikasi, Asep tak membantah. Dia mendorong hal itu ditanya ke Pelindo.

“Itukan menurut dia, makanya tanyakan ke Pelindo, mengapa tak sesuai. Kita kan punya kontrak,” pungkasnya.

Insidepontianak.com sudah mengonfirmasi Pelindo cabang Pontianak berkali-kali. Pertama tanggal 5 September 2020 dengan menghubungi Humas Pelindo cabang Pontianak, Hendra. Dia mengatakan akan mempelajari lebih dulu daftar pertanyaan yang diajukan. Namun konfirmasi lanjutan hingga berita ini diturunkan tanpa balasan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *