Sempat Ribut, 128 Tenaga Asing PT SRM Dievakuasi, 48 Terindikasi Ilegal

Pekerja asing yang diamankan. (Ist)

KETAPANG, insidepontianak.com – Pacsakeributan yang terjadi di PT. Sultan Rafli Mandiri (SRM), Kamis (17/9/2020), 128 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di PT Sultan Rafli Mandiri (SRM) dievakuasi ke Hotel Grand Zuri dan Aston Ketapang. Dari pendataan Imigrasi Kelas III Ketapang, 48 TKA tak ada di data mereka.

“Saya baru dapat informasinya tadi malam, adanya 128 TKA yang diinapkan di Hotel Grand Zuri dan Aston. Saat ini kami sedang melakukan pendataan terhadap para TKA,” terang Kepala Imigrasi Kelas III Ketapang, Rudi Adriadni, Jumat (18/9/2020).

Bacaan Lainnya

Dari hasil sementara, hanya 80 TKA yang pernah dilaporkan perusahaan ke Imigrasi Kelas III Ketapang.

“Hanya 80 orang yang datanya ada di kita sebagai TKA, selebihnya kita belum tahu statusnya makanya kita lakukan pendataan dulu,” tuturnya.

Jika nanti hasil dari pendataan diketahui sebagian TKA Ilegal atau melakukan pelanggaran, maka Imigrasi memastikan akan memberi sanksi tegas. Sanksinya bisa berupa deportasi atau bahkan disidangkan.

“Tapi kita pastikan dulu dari hasil pendataan dan nanti kita akan melakukan juga pemeriksaan kepada perusahaan yang mensponsori dan bertanggung jawab. Sebab secara aturan ketika ada TKA masuk maka pihak perusahaan berkewajiban melapor ke Imigrasi,” tegasnya.

Sebelumnya pada Kamis (17/9/2020), masyarakat dari empat desa diantaranya Kelampai, Jungkal, Pemuatan Jaya dan Segar Wangi tidak terima adanya spanduk yang dipasang oleh oknum perusahaan di lingkungan perusahaan.

Spanduk itu berbunyikan dukungan warga empat desa atas pengoperasian kembali perusahaan yang sempat berhenti usai didemo sejumlah masyarakat pada akhir bulan Agustus lalu.

Bahkan dari hasil pertemuan di bulan Agustus tersebut, telah disepakati penghentian aktivitas pertambangan sampai ganti rugi lahan milik warga terselesaikan.

Masyarakat yang merasa kesal merangsek masuk secara paksa ke dalam perusahaan dengan merusak pintu gerbang perusahaan.

Bahkan massa yang kesal mencoba mematikan mesin tambang yang dioperasikan kembali oleh perusahaan. Suasana yang gaduhpun tidak dapat terkendali.

Bahkan massa yang emosi melakukan sweeping ke dalam perusahaan dan barak karyawan bahkan massa menemukan ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang berada dalam kamp karyawan.

Sejumlah aparat kepolisian yang berada di lokasi tidak dapat berbuat banyak saat massa merusak bangunan kamp baik dengan memukul pintu, jendela hingga memecahkan kaca bangunan.

Bahkan beberapa dari ratusan TKA yang ada di perusahaan sempat menjadi bulan-bulanan warga dengan dipukuli hingga berdarah, dan ada juga TKA yang mencoba melarikan diri ke dalam hutan sebelum akhirnya dievakuasi oleh aparat kepolisian dengan menggunakan beberapa unit truk.

Sementara itu, ahli waris pemilik lahan yang digunakan oleh perusahaan untuk beraktivitas, Imran menegaskan bahwa sampai saat ini persoalan ganti rugi lahan belum diselesaikan perusahaan sehingga pihaknya menyayangkan perusahaan yang kembali mengingkari janji dengan mengoperasionalkan kembali mesin tambang.

“Padahal kesepakatannya tidak ada aktivitas selama persoalan belum selesai. Soal masyarakat ribut di sana saya tidak tahu pasti tapi saya dapat informasinya memang benar kejadiannya hari ini,” katanya.

Untuk itu, Imran meminta perusahaan agar tidak mengingkari janjinya serta tidak mengatasnamakan masyarakat untuk berlindung dan mengaktifkan perusahaan. (fauzi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *