Menakar Peluang Golkar di Pilkada Serentak Kalbar

Ilustrasi Dea Dewi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Partai Golkar dianggap memiliki daya tawar tinggi dalam Pilkada serentak Kalbar 2020. Mereka punya empat kader yang diusung. Ada calon Bupati Ketapang Martin Rantan, calon Wakil Bupati Sambas Rubaety, calon Wakil Bupati Bengkayang Rizal, dan calon Wakil Bupati Melawi Abang Ahmadin. Golkar sendiri jadi partai pemenang kedua dalam Pileg 2019 lalu di Kalbar dengan koleksi 273.400 suara.

Saat ini, partai berlambang beringin ini memiliki Ria Norsan di Wakil Gubernur Kalbar dan Erlina di kursi Bupati Mempawah, dan petahana di Ketapang, Martin Rantan, kader Golkar di posisi kepala daerah.

Bacaan Lainnya

Sementara untuk keseluruhan, Golkar mengusung Rupinus-Aloysius di Pilkada Sekadau, H Baiduri-Rupina Sedang di Pilkada Kapuas Hulu, Sebastianus Darwis-Rizal di Pilkada Bengkayang, Heronaldi-Rubaety di Pilkada Sambas, Jarot Sudiyanto di Pilkada Sintang, Panji-Abang Ahmaddin di Pilkada Melawi, dan Martin Rantan-Farhan di Pilkada Ketapang.

Golkar memiliki sejarah panjang dalam politik Indonesia. Lahir dari pemikiran Presiden Sukarno, golongan fungsional–yang kemudian diindonesiakan dengan golongan karya pada 1959–dicetus untuk ‘mengubur partai-partai’.

David Reeve dalam buku Golkar: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran dan Dinamika (2013) menyebutkan gagasan 1957-1959 itu adalah bahwa dalam sebuah pemilihan umum, rakyat akan memilih dari daftar kandidat yang mewakili golongan mereka. Seperti buruh, petani, pemuda dan perempuan. Bukan dari partai.

Namun yang menjalankan golongan karya, malah Angkatan Darat lebih dulu. Sejak 1957, Sukarno tidak mampu membangun apa pun untuk dirinya sendiri dari organisasi-organisasi Golkar, dan ia kembali kepada partai-partai unuk melindungi diri dari serangan Angkatan Darat.

Sejak 1960-1965, Angkatan Darat terus mengembangkan organisasi jenis Golkar, tetapi lebih sebagai senjata melawan Partai Komunis Indonesia (PKI) di era Demokrasi Terpimpin, daripada sebagai bentuk keterwakilan. Organisasi macam SOKSI, MKGR dan Kosgoro pun eksis. Semua organisasi bentukan tersebut lantas bersatu dalam wadah Sekber Golkar tahun 1964–cikal-bakal partai Golkar sekarang.

Dalam perkembangannya, Golkar dipakai Presiden Soeharto untuk melegitimasi rezim Orde Barunya lewat pemilihan umum tahun 1967. Sekber Golkar direkstukturasi. Upaya itu pun langgeng hingga 1998. Namun, ketika Soeharto lengser, Golkar tetap mampu bertahan.

“Golkar mampu bertahan dan muncul sebagai salah satu kekuatan politik terbesar dalam pemilihan-pemilihan umum di Indonesia pada 1999, 2004 dan 2009. Tetapi terdapat perubahan berbeda,” tulis David Reeve.

Golkar yang tadinya diasumsikan sebagai alternatif bagi partai, justru benar-benar sebuah partai. Akan tetapi, dominasi elit yang kental dengan tokoh-tokoh militer, diambil alih sekelompok pengusaha yang masuk selama kepemimpinan Sudharmono. Kini Golkar pun menjelma sebagai partai dengan basis massa kuat dan berpengaruh di tataran nasional dan politik lokal.

Lantas bagaimana peluang Golkar di Pilkada serentak Kalbar mendatang?

Pengamat politik, Ireng Maulana menilai Golkar berada di zona aman. Alasannya mereka mengusung lebih banyak petahana. Hanya Pilkada Sambas, Bengkayang, dan Kapuas Hulu yang tak diserahkan kepada petahanan.

“Posisi ini tentu menguntungkan, sebab petahana akan memiliki lebih dari cukup sumber daya untuk kembali menang. Dan jika terdapat kelemahan kinerja pun, dapat tertutupi dengan struktur lainnya yang aktif memenangkan paslon,” ungkapnya.

Langkah ini bisa jadi garansi. Paling tidak, mereka tak harus berjuang dari nol, dengan asumsi petahana sudah memiliki basis pemilih. Kendati demikian, sulit memastikan petahana yang diusung kembali menang. Contohnya di Bengkayang dan Sambas. Karena kerja politik yang dilakukan murni dalam koalisi. Belum lagi kerja politik pemenangan oleh tim lain di luar parpol.

“Semua akan dianggap berjasa baik bagi kelompok yang benar-benar bekerja maupun bagi kelompok yang pasif,” katanya.

Menurutnya, untuk mengukur kinerja struktur pemenangan partai dalam kontestasi Pilkada ketika multiaktor kepentingan yang terlibat, tidak mudah. Kekuatan struktur Golkar dapat dilihat ketangguhannya dalam Pilkada Ketapang dan Sambas. Dua daerah ini, Golkar adalah partai dominan sebagai unsur pengusung.

“Ujian sesungguhnya ada di dua kabupaten tersebut untuk membuktikan jika golkar memiliki struktur pemenangan yang memang dipersiapkan,” terangnya.

Selain itu, faktor penutup kelemahan kinerja mesin politik partai terletak pada struktur baru yang mungkin lebih banyak dibentuk oleh paslon. Alasannya, mereka tidak mau menanggung risiko kalah.

“Mereka pun membuat pengamanan dengan memperkaya kekuatan dengan bentukan-bentukan baru sesuai beban kompetisi,” katanya.

Direktur Sekolah Politik Perempuan, Ema Rahmaniah menilai, Golkar memiliki posisi tawar kuat di mata para paslon. Golkar lama eksis dengan ideologi kental. Karakter ketokohan elite dan sumber daya kadernya sangat kuat.

“Golkar miliki modal materi yang kuat. Memiliki kekuatan social network. Jika dilihat dari pengurus dan kader partai Golkar di Kalimantan Barat saat ini, mereka bisa digolongkan sebagai kelompok progresif kalangan muda. Hal ini tentu akan berpengaruh pada strategi dan pendekatan yang dipilih dalam kontestasi Pilkada,” ujarnya.

Akademisi Fisip Untan ini berpandangan, Golkar punya peluang merapatkan barisan kelompok organisasi kepemudaan. Apalagi anggota organisasi kepemudaan, banyak bergabung di partai berlambang beringin itu. Mereka jadi peluru utnuk merangkul.

“Terlebih lagi, Golkar memiliki sejumlah organisasi sayap yang setia memberikan dukungan demi perkembangan dan kemajuan partai seperti, KOSGORO, SOKSI, MKGR, dan AMPG. Semua organisasi ini dipimpin oleh kader Golkar yang berpengaruh di mata publik,” katanya.

Selain itu, Golkar juga memiliki kekuatan identitas eksternal yang didukung oleh dua hal. Yaitu, identitas kelompok kepentingan, dan kekuatan koalisi Golkar. Alhasil, mereka memiliki peluang kekuasaan yang cukup besar karena mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat.

“Dalam membangun koalisi, partai Golkar memegang prinsip koalisi yang dibangun bersandar pada koridor piagam perjuangan partai,” katanya.

Koalisi dengan partai lain dibangun Golkar dalam menentukan posisi-posisi strategis ditingkat legislatif. Seperti penyusunan alat kelengkapan DPRD, pimpinan dewan, panitia anggaran, panitia musyawarah, panitia legislasi dan badan kehormatan. Namun begitu, bukan berarti Golkar kini sudah menjadi partai terunggul melampaui PDIP, Gerindra, PAN, PKS, NasDem, PKB dan Demokrat.

“Partai-partai itu juga memiliki kader-kader militan yang memiliki keunggulan dan pendekatan tersendiri dalam membangun transcommunity dan memiliki peta kekuatan politik yang juga perlu diperhitungkan. Di sini tantangan Golkar,” katanya.

Menurutnya, militansi dan integritas kader Golkar akan jadi tantangan dalam memenangkan Pilkada. Alasan-alasan pragmatis soal identitas di internal, harus diantisipasi. Sebab, politik rentan terkontaminasi dengan motif transaksional dan dilemma bargaining position. Sehingga partai tidak menjadi sekadar event organizer orang-orang yang haus kekuasaan.

“Karena itu, tantangan Golkar adalah membangun gerakan pencerdasan politik dari politik kekuasaan menjadi politik kemanusiaan,” ucapnya.

Akan tetapi, membangun kader tak hanya di Pilkada. Sejak proses rekrutmen, semestinya sudah ditanamkan. Oleh karena itu, Ema berpandangan, jika ternyata calon kepala daerah yang dijagokan Golkar bukan dari kader partai, petinggi Golkar tidak semestinya all out.

“Kontestasi politik tidak hanya mengedepankan tentang siapa yang menjadi pemenang. Tetapi, siapa yang bersama pemenang memenangkan perjuangan partai untuk menghasilkan kemenangan baru menuju Indonesia berdaulat dan sejahtera. Sejatinya kemenangan adalah untuk rakyat, bukan untuk partai. Apalagi untuk mereka yang bertikai,” tutupnya.

Fokus Enam Pilkada

Sekretaris Golkar Kalbar, Prabasa Anantatur mengatakan partainya memprioritaskan kemenangan di enam Pilkada. Yakni Ketapang, Bengkayang, Sambas, Melawi, Sintang, dan Sekadau.

“Target kita kemenangan 60 persen, dengan prioritas kemenangan di Ketapang, kemudian Bengkayang, Sambas, Melawi, dan Sintang, serta Sekadau. Mudah-mudahan kita harapkan Kapuas Hulu ini insya allah kita juga bisa menang,” katanya.

Dari tujuh wilayah yang menggelar Pilkada, Golkar menganggap Kapuas Hulu menjadi pertarungan terberat. Namun, mereka tetap optimis meraih kemenangan.

Secara umum, partai dengan koleksi 273.400 suara di Pileg lalu itu, lebih memprioritaskan kader dalam Pilkada 2020. Mereka mendukung kader mereka di empat wilayah. Sementara tiga wilayah lainnya mengusung kader partai lain. Maka target 60 persen dirasa masuk akal.

Akan tetapi, dia memastikan seluruh kader satu suara mendukung dan memenangkan pasangan yang diputuskan Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Saat ini mereka telah membentuk tim kemenangan dengan partai koalisi di tujuh Pilkada. Selain itu, mereka juga telah membentuk Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) di luar struktur.

“Tahapan saat ini, Bappilu sudah mulai bekerja sampai ke tujuh kabupaten, dan mereka juga memenangkan pasangan calon yang sudah ditetapkan oleh DPP Partai Golkar,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *