Apresiasi Polisi Bongkar Sindikat Video Call Sex Anggota DPRD Sambas, Damri: Usut Tuntas

Anggota DPRD Pontianak, Damri

PONTIANAK, insidepontianak.com – Ketua DPC Partai Hanura Kota Pontianak, Damri mengapresiasi kinerja jajaran Polres Sambas dan Polda Kalbar yang telah berhasil mengungkap pelaku penyebar video call sex (vcs) yang melibatkan anggota DPRD Sambas. Kendati demikian, dia mendesak Polri membuka secara terang motif penyebaran video itu, apakah hanya sebatas pemerasan, atau ada oknum yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingan lain.

“Pertama kita mengucapkan apresiasi kinerja kepolisian mengungkap kasus ini. Namun kita minta polisi tak cukup sampai menangkap pelaku, namun juga membuka terang motif penyebaran video itu, apakah hanya pemerasan atau ada pesanan pihak tertentu,” ujar Damri kepada insidepontianak.com.

Bacaan Lainnya

Selaku kader Hanura, dia merasa prihatin dengan kasus yang menimpa rekan sejawatnya BK. Kasus ini pun diakuinya telah merusak marwah partai. Untuk itulah, dia ingin semua diungkap secara jelas. Manakala ada indikasi pihak lain yang terlibat atau memanfaatkan situasi ini, dia minta juga diproses hukum.

“Jadi kalau ini pesanan seseorang yang punya kepentingan, kita minta agar ini diproses hukum,” terang dia.

Sebelumnya, Polda Kalbar akhirnya membongkar kasus video call sex anggota DPRD Kabupaten Sambas dari partai Hanura. Video yang menghebohkan masyarakat tersebut, disinyalir sebagai modus pemerasan. Jejak digital awal mula video tersebut di telusuri tim gabungan Polres Sambas dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar dengan berhasil mengamankan sindikat pemerasan, Senin (21/9/2020)

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny Charles Go mengungkapkan tim gabungan Sat Reskrim Polres Sambas dan Tim Siber Polda Kalbar mengamankan empat tersangka yang merencanakan pemerasaan terhadap anggota DPRD berinisial BK. Dua diantara tersangka merupakan warga lembaga pemasyarakat kelas II A Pontianak.

“Terkait viral video di media sosial yang melibatkan seorang anggota DPRD di Kabupaten Sambas. Pada tanggal 19 September 2020 Polres Sambas menerima laporan tentang dugaan tindak pidana pemerasan atau dugaan tindak pidana ITE,” sebutnya.

Mendapati laporan tersebut, Sat Reskrim berkoordinasi dengan tim siber Polda Kalimantan Barat untuk melakukan rangkaian penyelidikan. Hasilnya, didapati dua nomor handphone yang melakukan pengancaman melalui pesan WhatsApp kepada korban.

Nomor itu milik seorang bernama A, warga Pontianak yang baru saja keluar dari Lapas kelas 2 Pontianak pada bulan Agustus 2020. Setelah dimintai keterangan, A mengaku bahwa handphone miliknya dipinjam oleh G yang merupakan teman satu sel tahanan.

Dengan berkoordinasi dengan pihak Lapas 2 Pontianak, petugas melakukan pemeriksaan kepada seorang berinsial G. Dari hasil interogasi petugas, G yang merupakan warga Sambas mengakui perbuatannya dengan menyuruh pelaku lain yaitu D untuk menghubungi korban untuk diajak video call sex.

“Pelaku berinsial G ini yang berada di dalam lapas ini merencanakan pemerasan dengan menyuruh rekannya yang berinsial D untuk menghubungi korban,” lanjutnya.

Setelah D berhasil mengajak korban untuk video call, D langsung merekam aktivitas tersebut dan mengirim kembali kepada G.

Saat video tersebut sudah diterima oleh pelaku, dia kemudian menghubungi korban dan meminta uang sejumlah Rp4 juta agar tidak menyebarluaskan video tersebut kepada publik.

“Untuk jangka waktunya cukup lama, dari tanggal 22 Agustus para pelaku ini mulai menghubungi korban untuk meminta sejumlah uang. Hingga akhirnya pada tanggal 8 September video tersebut diunggah ke beberapa grup komunitas masyarakat,” ungkap Donny.

Saat video tersebut sudah diunggah ke beberapa grup facebook, para pelaku kembali melakukan pemerasaan kepada korban dengan meminta uang sebesar Rp4 juta untuk menghapus unggahan. Pada saat itulah korban mentransfer nominal Rp4 juta dengan tawaran menghapus video karena merasa takut.

“Empatbpelaku ini yaitu A yang meminjam sarana handphone, kemudian berinsial G yang merupakan otak pemerasaan warga lapas, D yang bertugas menghubungi dan mengajak korban video call dan terakhir N alias R yang memposting video tersebut ke media sosial,” jelas Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Donny Charles Go.

Adapun barang bukti yang diamankan petugas yaitu 1 slip lembar pengiriman uang sebesar Rp4.000.000, screen shoot percakapan melalui pesan WhatsApp dan handphone milik para pelaku.

Saat ini para pelaku pemerasaan sudah diamankan petugas untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *