Yuslanik: Politisi Orang Kecil dengan Mimpi Besar

Wakil Ketua DPRD Kubu Raya, Yuslanik.

Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah berkehendak. Keyakinan ini, menjadi pedoman hidup H Yuslanik, saat berada di titik terendah, 40 tahun silam. Siapa sangka, kini dia jadi penyambung lidah rakyat. Keluarganya bermasyarakat. Anaknya, Dewi Portuna jadi hafiz quran (hafal quran).

Keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya hidup serba kekurangan, jauh dari kata cukup. Bahkan, ia nyaris putus sekolah lantaran tak memiliki biaya. Kondisi sulit itu menjadi cerita  pilu, perjalanan hidupnya.

Bacaan Lainnya

Air matanya menetes, tatkala bercerita kepada insidepontianak.com, kemarin. Sampai sekarang, ayah dua anak ini tak bisa lupa, walau kini, nasibnya berubah. Ia telah berada jalur karier sebagai Wakil Ketua DPRD Kubu Raya 2019-2024.

Sejak kecil, perjalanan hidup pria kelahiran Kubu, 19 Agustus 1972 itu memang keras. Saat baru berusia tiga tahun, ayahnya H. Abdul Gani telah tiada. Ia lebih dulu dipanggil Sang Khalik. Praktis, nilai-nilai dan didikan seorang ayah tak dirasakan anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Mereka besar dalam didikan ibunya, Khafsah. Tinggal di rumah sederhana kakek di Kubu. Di rumah kayu inilah, tempat mereka berteduh, dan tumbuh.

“Jadi ekonomi saat itu sangat berat. Ibu single parent, berjuang menghidupi kami,” ceritanya.

AKAR RUMPUT – Kehidupan nelayan lekat dengan Yuslanik. Cerita masa lalunya itu yang membentuknya jadi merakyat dan dekat dengan masyarakat.

Sang ibu merawat mereka dengan  penuh kasih sayang dan perjuangan. Khafsah tak hanya melakoni tugasnya sebagai seorang ibu, namun juga sekaligus ayah, yang harus banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga.

Sehari-hari, ibunya bekerja serabutan. Bertanam padi, mencari daun atap, dilakoni demi membesarkan buah hatinya. Namun, pendapatan Khafsah hanya cukup untuk makan.

Satu ketika, saat Yuslanik tamat dari SDN 01 Kubu tahun 1984, orang tuanya tak mampu membiayai pendidikan lanjutan. Walau sedih, Yuslanik bersyukur masih dapat makan.

Namun nasib baik memang kerap tak diduga. Oyon Sugiono yakin Yuslanik punya kemauan kuat untuk belajar. Abang angkatnya itulah yang membiayai sekolah. Masuk di SMP 01 Kubu dan lulus tahun 1988. Mimpi buruk putus sekolah, sirna.

“Sampai sekarang saya belum mampu membalas jasa beliau. Dan mungkin saya tidak bisa seperti sekarang kalau tidak disekolahkan saat itu,” ungkapnya.

Tahun 1984, Yuslanik melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di sana, ia menjelma jadi pelajar sekaligus pekerja. Tak ada pilihan saat itu. Meski badannya kecil, dan usia sangat belum layak, semua terpaksa dilakukan demi hari esok.

Sesekali ia turun membantu ibu  berladang, mencari daun atap, hingga pekerjaan berat mukat (melaut) mengikuti sang paman. Uang yang didapat ditabung menambah biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).

Bahkan, saking sulitnya ekonomi, baru di bangku SMP Yuslanik merasakan memakai celana panjang. Bukan karena tak mau membeli, namun karena tak mampu. Momen Idulfitri, saat  kebanyakan orang berbondong belanja baju lebaran, ia hanya bisa melihat. Kalaupun membeli, waktunya terlambat. Itu pun kalau menerima zakat dari masyarakat.

“Jadi kalau pun beli nunggu orang bayar zakat dulu, beras lima kilo uang Rp1.500 baru saya jual beras, sehingga saya bisa beli baju,” cerita Yuslanik.

Kondisi demikian, bukan satu dua tahun dialami. Namun, bertahun-tahun. Meski sedih, ia menerima semuanya. Sampai akhirnya tamat SMP, ia melanjutkan pendidikan SMA di Panca Bakti Kubu. Pilihan ini terpaksa diambil karena ketidakmampuan orang tua. Aslinya, sekolah di kota jadi sasaran.

Lulus SMA, Yuslanik merantau. Kerja apa saja. Sampai tahun 1993, ia memulai usaha toko sepatu.

“Dari toko sepatu saya sedikit mungkin tahu dunia usaha, kurang lebih 26 tahun,” katanya.

Terjun ke Politik

Perjalanan H Yuslanik di kancah politik  dimulai ketika jadi simpatisan partai PPP, ikut keluarga jauhnya. Motivasinya membantu masyarakat. Pengalaman hidupnya, bikin rasa ingin berbuat lebihnya memuncak.

“Itu motivasi saya. Saya ingin keberadaan saya di politik, bisa membantu banyak orang,” ceritanya.

Yuslanik semakin mantap di politik setelah pindah ke PKNU. Terlebih usai menyelesaikan pendidikan strata satu di Sekolah Tinggi Agama Islam Salahudin Al-Ayyubi, Jakarta. Dia yakin, pendidikan adalah jalan. Politik, ladangnya menderma ilmu.

Membangun diri dengan berkader, dia menjabat Ketua Dewan Syuro PKNU Kubu Raya tahun 2008-2011. Kedewasaannya makin matang dan mantap melangkah ke pemilihan legislatif (Pileg) 2009 dari daerah pemilihan (dapil) Kecamatan Kubu, dan Batu Ampar.

AMBIL SUMPAH – Yuslanik saat dilantik dan diambil sumpahnya sebagai anggota DPRD Kubu Raya tahun 2019 lalu.

Sayang, garis tangannya kala itu, belum kursi DPRD. Hasil akhir pemilihan, ia hanya mengoleksi 1.400 suara. Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah arang. Dia percaya takdirnya harus diraih, dan prinsipnya tak boleh menyerah.

“Kegagalan dalam politik praktis, bukan sebuah keniscayaan, namun harus menjadi motivasi dan berjuang hingga berhasil,” katanya.

Di tahun 2010, ia melihat partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang baru muncul, punya napas perjuangan sama. Sosok Ketua Umum Prabowo Subianto dirasa berkarakter kuat.

Bersama Gerindra, ia mengantongi 2.603 suara di Pileg 2014. Yuslanik pun didaulat menjadi Sekretaris DPC Gerindra Kubu Raya dan Ketua Komisi IV.

Gerakannya di masyarakat pun mendapatkan kepercayaan rakyat. Perolehan dukungan meningkat jadi 3.700 suara. Sukses mengantarkannya menjadi Wakil Ketua II DPRD Kubu Raya. Misinya membantu sesama, makin dimudahkan. Bahkan tahun 2020, ia diamanahkan menjadi Ketua DPC Gerindra Kubu Raya.

PIMPIN – Yuslanik saat menjalankan perannya sebagai Wakil Ketua DPRD Kubu Raya. Di parlemen, dia kerap menyentil telinga pemerintah.

Derita Rakyat, Motivasi Perjuangan

Sebagai sosok yang lahir dari akar rumput, Yuslanik tak mau menyiakan amanah. Setia berjuang bersama rakyat, adalah janjinya. Komitmen itu, ditujukan dengan memperjuangkan aspirasi masyarakat Kubu Raya. Dia sadar, banyak permasalahan yang dihadapi rakyat, yang perlu dorongan dan  perhatian DPRD.

Pengalaman dan cerita hidupnya dulu, selalu jadi pijakan ketika Yuslanik mengambil keputusan. Harus ada tangan yang membantu, layaknya yang dilakukan Oyong Sugiono pada hidupnya. Walau perjuangan itu, sementara terbatas sesuai kewenangannya sebagai legislatif.

“Saya berusaha memperjuangkan aspirasi masyarakat, namun sementara terbatas kemampuan dan kewenangan saya di legislatif,” ungkap dia.

RESES – Yuslanik turun mendengar aspirasi masyarakat tak hanya dengan reses. Di akhir pekan, dia kerap berkumpul untuk mendengar langsung keluhan masyarakat bawah.

Salah satu caranya, dengan intens komunikasi dan turun ke masyarakat. Yuslanik selalu membuka diri. Telinganya gratis untuk keluh kesah siapapun. Tangannya, ringan menyapa dan lidahnya kuat bercakap untuk aspirasi orang kecil.

Memang, ada keterbatasan. Yang bisa mengeksekusi segala aspirasi adalah Pemeritahan Daerah. Namun dia tak ragu terus menggedor. Apa pun hasil, disampaikan kembali kepada rakyat. Termasuk urusan janji politik.

“Dengan begitu mereka yakin politik itu penting dan orang baik harapannya  berkiprah di politik. Karena politik jalan membantu masyarakat,” pungkasnya.

Menuju Kubu Raya Begenah 2023

Selama enam tahun menjadi wakil rakyat, Yuslanik menyadari belum semua aspirasi masyarakat bisa dilakukan. Hal ini, karena keterbatasan kewenangan di DPRD. Sebab, suatu kebijakan, ujungnya  tetap di Pemerintah Daerah.

Untuk itulah, jadi Bupati adalah salah satu mimpinya. Yuslanik ingin mencalonkan diri di Pemilihan Umum (Pemilu) 2023. Tujuannya tak lain membantu dan menolong orang susah. Dengan jadi kepala daerah, kerjanya lebih luas.

“Insya allah dengan kekuasaan yang saya miliki, dapat mengantarkan orang-orang menjadi sukses. Sukses dari sisi ekonomi dan peradaban,” harapnya.

PENGKADERAN – Karier politik Yuslanik bukan simsalabim. Dia memulai dari remaja hingga ikut pengkaderan Gerindra di Hambalang tahun 2014.

Menurutnya, Kubu Raya punya segalanya. Punya laut yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan, punya potensi perikanan. Pertanian merupakan salah satu unggulan, yang semuanya belum maksimal dikembangkan.

“Untuk itu, kalau saya diamanahkan, saya akan memaksimalkan potensi yang ada,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga akan membangun PDAM Kubu Raya sebaik mungkin. Sehingga masyarakat dapat menikmati air bersih tanpa kecuali.

Selain itu, Yuslanik berkomitmen pondok pesantren di bawah naungan Kementerian Agama, yang sekarang anggarannya belum maksimal, ke depan bisa ditingkatkan. Mungkin berkisar Rp20-30 miliar per tahun.

Yuslanik berharap pondok pesantren bisa melahirkan hafiz dan hafizoh quran. Daerah yang mau barokah, harus religius. Banyak orang tua yang ingin anaknya jadi penghafal Al-quran. Namun, mereka tidak menemukan jalan.

HAFIZ – Anak kedua Yuslanik, Dewi Portuna merupakan seorang hafiz. Bukti kepemimpinanya berhasil di keluarga yang diharap jadi bekal memimpin daerah.

“Kalaulah orang-orang ini bisa kita bantu dari sisi politik , tentu kebanggaan buat kita dan masyarakat,” katanya.

Yuslanik pun bersyukur memiliki putri seorang tahfidzul quran. Hafal quran 30 juz. Sejak kecil pesan orang tuanya, selalu diingat.

“Aku tak minta kau kasih apa-apa. Tapi jadi kebanggaan orang tua. Itu juga yang saya pesankan kepada anak saya. Alhamdulillah menjadi hafiz quran,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *