Pembatasan Aktivitas Malam di Pontianak Tunggu Surat Edaran Wali Kota

DITUTUP - Sejumlah ruas jalan di Pontianak ditutup dalam kebijakan jam malam untuk mengurangi penyebaran Covid-19, Mei lalu.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengatakan pemberlakuan pembatasan aktivitas malam di Kota Pontianak menunggu Surat Edaran (SE) Wali Kota. Saat ini status Kota Pontianak berada di zona oranye. Untuk itulah, pemberlakukan pembatasan aktivitas malam akan diberlakukan dalam jangka waktu 14 hari ke depan.

Saat ini, pihaknya bersama tim gugus tugas tengah menggodok aturannya sebelum dilaksanakan.

Bacaan Lainnya

“Yang jelas akan segera kita berlakukan selama 14 hari, nanti akan ada pengumumannya,” kata Handanu kepada insidepontianak.com.

Rencananya, pembatasan aktivitas malam hari itu hanya akan mengurangi waktu operasional kerja saja. Namun, bukan tidak mungkin diambil langkah-langkah pelarangan tamu makan di tempat.

“Kita lihat perkembangan saja. Kalau zona merah apa boleh buat,” terangnya.

Setelah pemberlakukan pembatasan aktivitas malam nanti, secara berkala pihaknya akan melakukan evaluasi. Dia mengimbau masyarakat mulai membatasi aktivitas dengan kesadaran masing-masing. Sebab, penularannya sudah berada tahap berbahaya. Tidak perlu lagi, menunggu aturan yang sedang digodok tim gugus tugas.

“Jadi tak perlu nunggu aturan dan norma hukum. Kan sudah jelas dari awal penanganan Covid-19 yang diperlukan adalah disiplin, hindari kerumunan itu saja,” pungkasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan berdasarkan hasil rapat besar bersama Tim Gugus Tugas Covid-19, akan diterapkan pembatasan aktivitas malam hari di Kota Pontianak selama 14 hari. Hal itu untuk mengantisipasi angka kasus Covid-19 yang terus meningkat belakangan ini.

“Pembatasan aktivitas malam, bukan jam malam, misalnya warung kopi, mal, dan taman harus tutup jam 9 malam, dan razia masker secara sporadis,” katanya di sela rapat evaluasi bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 di Kantor Wali Kota Pontianak, Rabu (23/9/2020).

Selain aktivitas di ruang publik, layanan di kantor-kantor pun diberlakukan sama. Namun kepastikan kapan dimulainya pembatasan itu masih menunggu hasil rapat kali ini.

“Kapan mulainya masih dibahas, setelah rapat ini selesai akan tahu hasilnya, mungkin besok atau lusa,” katanya.

Kebijakan ini sebelumnya pernah dilakukan pada bulan Mei, dan dirasa cukup berhasil. Pengambilan keputusan ini pun bukan tanpa alasan. Dari pantauan lapangan, misalnya di warung kopi, dari 360 warung kopi hanya 19 yang benar-benar mengikuti protokol kesehatan. Pengunjungnya tak lepas masker. Sisanya masih kurang disiplin.

Selain itu, dari razia masker yang dilakukan berdasarkan Peraturan Wali Kota Nomor 58 Tahun 2020, dendanya hingga kini mencapai Rp39 juta. Didapat dari warga dan pengusaha yang melanggar protokol kesehatan.

“Kita sebenarnya tidak mau besar kalau masyarakat dan pemilik usaha taat,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *