Rumah Tua Khas Bugis di Mempawah Masih Kokoh Berdiri

KOKOH - Rumah Bugis di Jalan Sepakat, Desa Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, masih kokoh berdiri hingga sekarang. YAK

Pohon-pohon pisang tumbuh subur di pekarangan. Seorang pria mendorong gerobak berisi buah kelapa dari kolong rumah. Kelapa-kelapa tersebut diangkut dan dikumpulkan di gudang ukuran 3×3 meter di samping rumah panggung khas Bugis.

Rumah berbentuk panggung tersebut memang membantu aktivitas sehari-hari. Terlebih bagi seorang Efendi Ambo Intang atau kerap disapa Ambo Pendi (49). Kolong rumahnya setinggi dua meter, atau sepengawai orang dewasa membuatnya mudah menyimpan barang-barang.

Itu adalah salah satu rumah tua di Kabupaten Mempawah yang materialnya berusia ratusan tahun. Berlokasi di Jalan Sepakat, Desa Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Rumah tersebut adalah rumah orang Bugis yang masih kokoh berdiri sejak 80 tahun.

Arsitekturnya khas, tiang-tiang kayu ulin ukuran 20×20 sentimeter menjulang. Lantainya bersih bewarna hitam mengkilap karena terbuat dari kayu ulin sejati yang usianya sudah ratusan tahun. Ambo Pendi tinggal bersama istri dan satu anak perempuannya. Selain itu, ibu mertuanya juga tinggal di situ.

Menurut Ambo Pendi, rumah itu luasnya sekitar 16×13 meter. Enam tipak tangga kayu yang besar menjadi ciri khas rumah panggung Bugis tersebut. Dari jauh sudah tampak mahkota yang menjadi indentitas Bugis di ujung bumbung bangunan utamanya.

“Material rumah ini sudah berusia ratusan tahun, karena sudah tiga kali dipindah bangunkan, dan rumah yang saya tempati ini adalah bangunan ketiga dengan kayu dan tiang yang sama,” katanya.

Ambo Pendi mengatakan dirinya bersama keluarga adalah generasi ke-3 yang menempati rumah tua tersebut sejak tahun 1997. Awalnya rumah milik nenek moyangnya ini berada di Sungai Duri, Kecamatan Sungai Kunyit, lalu dipindahkan ke Dusun Senggiring Kecamatan Mempawah Timur, dan sekarang berada di Jalan Sepakat, Desa Bakau Kecil.

Dia menjelaskan, awal berdirinya rumah tua tersebut dari seseorang bernama Haji Daeng Fattah. Waktu itu rumahnya masih di Sungai Duri. Kemudian oleh anaknya Haji Daeng Subuh, rumah dipindahkan ke Senggiring. Karena berbagai alasan, rumah tersebut kemudian dipindahkan ke Jalan Sepakat.

“Dulu di Kalimantan Barat sering terjadi konflik antaretnis. Rumah ini dibuat dengan ciri khas Bugis supaya dengan melihat rumahnya saja, orang sudah tahu ini rumah orang Bugis,” katanya.

Rumah tua tersebut punya dua lantai. Khas orang Bugis. Konon kata Ambo Pendi, fungsi lantai dua adalah untuk menempatkan anak-anak gadis saat ada acara keagamaan, acara resepsi pernikahan, atau acara syukuran, agar mereka tidak bercampur baur dengan laki-laki.

Di dalam rumah ada satu ruangan terbuka seperti pelantaran untuk aktivitas sehari-hari. Pada jaman dulu, anak-anak gadis tidak boleh keluar rumah. Mereka mendapatkan asupan sinar matahari dari ruang terbuka tersebut.

“Lantai jarang-jarang, tiang-tiang rumahnya setinggi satu meter. Pada zaman dulu, orang-orang tua Bugis di Sulawesi khawatir dengan binatang buas, makanya dibuat tinggi. Kalau di sini hanya mengikuti, lagi pula supaya anak-anak tidak jauh bermain, dan bisa main di bawah rumah, aman dan terkontrol. Bahkan sampai sekarang,” tuturnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *