Yanti Harap Terduga Pelaku Penganiaya Anaknya hingga Tewas di Sungai Kapuas Dibina Bapas

Orang tua korban, Yanti.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Suasana duka, masih menyelimuti keluarga besar Yanti, ibu kandung MRF (13) yang ditemukan tak bernyawa di Sungai Kapuas, belakang kampus Universitas Panca Bakti, Minggu (28/9/2020). Rumah duka yang berlokasi di Gang Pajajaran III, Kecamatan Pontianak Barat tak sepi pelayat. Keluarga terlihat masih mengunjungi rumah tersebut, tak berkecuali Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

Orang nomor satu di Pontianak ini hadir, pukul 15.00 WIB didampingi Komisioner Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD), Alik Rosyadi.

Bacaan Lainnya

Yanti, ibu korban mengaku ikhlas dengan musibah yang menimpa buah hatinya. Kendati demikian, ia minta proses hukum kepada terduga pelaku terus berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Ia menyadari, pelaku yang merupakan anak bawah umur tak bisa diberikan sanksi pidana layaknya orang dewasa. Jika pun prosesnya berlanjut, pilihannya hanya dua. Dikembalikan kepada orang tua, atau dibina Balai Pemasyarakatan (Bapas).

Yanti ingin agar pelaku penganiayaan tersebut dibina Bapas, daripada dikembalikan kepada orang tua. Sebab anak seusai mereka saja sudah memiliki pikiran menganiaya hingga pingsan.

“Ini menandakan otak anak tersebut sudah ada pikiran kriminal. Makanya perlu dibina, ketimbang dikembalikan kepada orang tua, seperti sekarang,” ungkapnya.

Yanti menilai, tujuan pembinaan tersebut tentu akan membuat mereka lebih baik di kemudikan hari. Sekaligus memberikan efek jera dan perubahan terhadap sikap mereka agar ke depan menjadi pribadi yang lebih baik.

“Mereka akhirnya tahu. Ini yang mereka lakukan. Ini akibat yang mereka lakukan,” terangnya.

Dirinya pun telah menyampaikan sikap keluarga tersebut kepada Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

“Tadi Pak Wali menerima dan menampung saran saya. Dia akan berbicara dengan pihak terkait,” pungkasnya.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengucapkan bela sungkawa atas musibah yang menimpa MRF (13).

“Saya mewakili Pemerintah Kota Pontianak mengucapkan bela sungkawa untuk keluarga,” katanya kepada orang tua korban, Senin (28/9/2020).

Selanjutnya tentu prosesnya sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Karena korban dan pelaku merupakan anak di bawah umur.

“Kita ingin ini yang terbaiklah, dan tidak terjadi lagi,” katanya.

Kepolisian Polresta Pontianak Kota masih melakukan penyelidikan terkait penemuan mayat MRP (13) yang ditemukan meninggal di Sungai Kapuas, belakang Universitas Panca Bakti (UPB) kemarin. Polisi menemukan tanda kekerasan di tubuh korban. Diduga dia menjadi korban penganiayaan rekannya menggunakan sebilah kayu.

“Dipukul menggunakan kayu kepalanya,” kata Kapolsek Pontianak Barat, AKP Eko Mardianto kepada insidepontianak.com.

Eko mengatakan, sebelumnya pada Sabtu (26/9/2020) korban diketahui izin keluar dari rumah bermain dengan teman-temannya di Sungai Kapuas. Diduga di sana terjadi perkelahian yang menyebabkan korban dipukul dengan menggunakan kayu. Saat ini, perkara tersebut sudah dilimpahkan ke Polresta Pontianak Kota. Polisi pun turun mengamankan terduga pelaku berinisial MAF (11).

Sebelumnya, warga digegerkan dengan penemuan mayat anak-anak mengapung di Sungai Kapuas, Minggu (27/9/2020) siang. Mayat tersebut adalah MRP. Bocah 13 tahun yang dilaporkan hilang sejak Sabtu kemarin. Temuan tersebut pun langsung membuat kepolisian Polsek Pontianak Barat bergerak melakukan penyelidikan dan visum di rumah sakit.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *