Pandemi Bikin Pendidikan Siswa Tuli Makin Sunyi

KONSULTASI - Dua orang siswa SLB Dharma Asih, Pontianak berkonsultasi soal tugas yang diberikan ke guru di sekolah, Rabu (29/9/2020) lalu. ANDI RIDWANSYAH

Hampir satu jam, mata Figo Auril Zaki terpaku ke soal aritmatika di hadapan. Ia berusaha menghitung dengan jari dan mencatat angka di atas kertas, namun berulang kali ia memegangi kepala. Buntu. Tak lama matanya basah. Senggukannya terdengar, di rumahnya yang sepi di Perumnas 1, Pontianak Barat, Kota Pontianak, akhir September lalu.  Dia kembali menyerah dengan sederet tugas dari guru.

Figo merupakan siswa Tuli kelas XI, Sekolah Menengah Atas (SMA) SLB Dharma Asih, Pontianak, Kalimantan Barat. Karena pandemi Covid-19, ia terpaksa belajar dari rumah.

Bacaan Lainnya

“Saya bingung, saya belum begitu paham. Saya mau bertanya dengan guru mata pelajaran, namun sulit,” ceritanya dengan bahasa isyarat sebagaimana diterjemahkan ibunya, Fani Oktahari, 30 September 2020.

Selain Figo, setidaknya ada 1.614 siswa berkebutuhan khusus yang tersebar di 23 SLB se Kalbar mengalami kondisi serupa. Sejak 15 Maret 2020, seperti halnya sekolah lain, pembelajaran tatap muka ditiadakan. Hal ini untuk menghindari penularan Covid-19.

Namun belajar daring yang digaungkan pemerintah jadi kesulitan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam metode tatap muka saja, tak jarang guru harus mengajari satu per satu agar mereka paham. Teori dan praktik digabung. Bahasa isyarat dan contoh langsung selalu diberikan. Cara itu buat ABK mudah mencerna setiap pembahasan.

Dalam metode tatap muka, ada dua metode belajar yang lazim dipakai untuk siswa tuli. Pertama, belajar bahasa melalui membaca ujaran. Siswa ‘membaca’ lewat gerak bibir guru mereka. Kedua, secara manual. Siswa diajak komunikasi dengan bahasa isyarat. Namun kedua metode ini, tak bisa diajar dalam waktu singkat. Tiap hari, selalu ada kosakata baru. Tak jarang siswa harus diajar satu-satu. Karenanya, tak heran jumlah siswa di satu kelas, paling banyak belasan.

SLB Dharma Asih sendiri menerapkan komunikasi total (komtal) dalam mengajari peserta didik tunarungu wicara. Artinya metode secara keseluruhan. Mulai dari tertulis, lisan, dan bahasa isyarat bahkan gerakan tubuh.

Selama pandemi, pembelajaran berubah 180 derajat dari sekolah tatap muka. Akibatnya, guru sulit menjelaskan, banyak siswanya yang tak paham materi, maupun penugasan yang diberikan.

BELAJAR – Figo Auril Zaki, salah seorang siswa Tuli SLB Dharma Asih tengah belajar di rumahnya di Perumnas 1, Pontianak Barat, Kota Pontianak, Rabu (30/9/2020) pagi.

Belajar dari rumah, bikin Figo pusing. Sekolah diwajibkan memberi tugas. Tak ada contoh soal, bahkan buku sebagai bahan ajar. Tugas diberikan via WhatsApp Group. Hanya guru yang memiliki buku paket.

Pembelajaran daring yang diperkirakan orang tua bakal lewat aplikasi video, jarang dilakukan. Yang ada hanya tugas, tanpa contoh jelas.

Orang tua dan saudara jadi teman belajar Figo enam bulan terakhir. Mereka membantu memecahkan tugas demi tugas. Apalagi jika menemui bahasa baru yang belum pernah dipelajari.

Namun, juara 1 Pantomim Kalbar sejak 2018 ini  cemas, di sekolah, kreativitasnya dikembangkan. Keterampilan diasah sebagai bekal lulus. Seperti memasak, menjahit, hingga membuat kue. Sejak pandemi, semua tak lagi didapat.

Figo ingin sekolah kembali dibuka, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Kerap kali, di lubuk hatinya bertanya mengapa sekolah tercinta ditutup, sedangkan tempat keramaian dan mal dibuka.

“Di situ saya bingung,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan Ade Muhammad Fahrizal. Pekan lalu, remaja 19 tahun ini menemui gurunya di SLB Dharma Asih Pontianak. Dia datang untuk konsultasi tugas.

“Di rumah bingung. Kalau di sekolah ada teman bisa diskusi dan bekerja sama,” cerita Ade lewat terjemahan bahasa isyarat gurunya M.Juliar Imran, 28 September lalu.

Selama enam bulan terakhir, Ade sulit belajar. Hampir semua mata pelajaran ada tugas. Sedang untuk paham, butuh pendampingan. Ibunya jadi guru dadakan.

Untungnya, sebagian besar orang tua murid belajar bahasa isyarat. Sambil belajar untuk diri sendiri, mereka mengajar anak-anak. Dalam dunia akademis, metode ini dikenal dengan istilah pendekatan auditori oral.

Tidak hanya para siswa, orang tua didik pun merasa belajar daring menyulitkan. Fani Oktahari, orangtua Figo misalnya. Sejak sekolah tutup, anaknya lebih banyak di kamar. Berusaha belajar sendiri, tapi selalu kesulitan.

“Dia (Figo) cepat tangkap (pelajaran), tapi itulah harus langsung. Sementara pembelajaran daring, tidak bisa layaknya pembelajaran biasa. Sehingga tidak ada efeknya kepada anak,” terang dia.

Sebagai orang tua, Fani khawatir jika pembelajaran daring terus berlanjut, pendidikan anaknya akan sia-sia. Sementara pemerintah tak hadir memberikan perhatian. Sekolah umum mendapatkan kuota internet, hingga membebaskan biaya SPP. Sedang SLB tetap seperti tak ada apa-apa. Padahal kondisi ekonomi keluarga sebagian anak juga sulit karena Corona.

Alhasil beban pengeluaran keluarga Fani semakin besar, dengan tambahan biaya kuota internet. Belum lagi kewajiban membayar SPP Rp250 ribu per bulan, sementara suaminya hanya bekerja sebagai karyawan kontrak di perusahaan BUMN.

Dia  berharap penerapan pembelajaran daring dievaluasi. Terlebih urusan keterampilan untuk bekal lulus. Dia ingin anaknya bisa mandiri usai tamat sekolah.“Entah bertukang, kerajinan atau keterampilan apakah, buat bekal dia,” pesannya.

Tak Maksimal

Guru SLB Darma Asih M. Juliar Imran bercerita, selama pandemi Covid-19, sebagian pembelajaran daring di SLB Darma Asih diterapkan lewat WhatsApp Group. Lewat grup itu, guru mendistribusikan video penjelasan materi dalam bahasa isyarat, dan tugas sepekan sekali. Tak ada pembelajaran tatap muka via Zoom atau Google Meet.

“Jadi kadang kita membuat video pendek penjelasan menggunakan bahasa isyarat, baru dibagikan ke grup WhatsApp, namun masih banyak yang tidak paham,” katanya.

Alhasil guru SLB menyiapkan guru piket. Mereka bertugas jadi biro konsultasi dan mengambil tugas, bagi yang mengalami kendala jaringan. Namun, penyesuaian memang tak selalu mulus. Kini, sekolah tak lagi mengejar target kurikulum. Materi diberikan sesuai kemampuan siswa.

Baginya, efektivitas mengajari anak Tuli harus dengan tatap muka. Sebab mereka hanya bisa memahami bahasa isyarat, disertai contoh.  Jika di kelas, dia bisa menjelaskan satu per satu. Selain itu, orang tua juga dibebani dengan tugas karena harus mendampingi. Sementara sebagian besar harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.

Dirinya pun cemas dengan masa depan anak, jika pembelajaran daring terus diberlakukan. Sebab, tujuh bulan terakhir ini, banyak siswa yang selalu telat mengumpulkan tugas.

“Kadang siswa juga telat dalam mengumpulkan tugas. Kalau model belajar online gini terus, gak tahulah ke depan jadi apa,” keluhnya.

Terapkan Sekolah Kunjung

Bisa jadi, kendala yang dihadapi Figo dan Ade dapat diatasi dengan penerapan sekolah kunjung. Di Sekadau, SLB Negeri setempat menerapkan ‘Sekolah Kunjung’ untuk mengatasi masalah tersebut. Para siswa dikelompokkan berdasarkan tempat tinggal. Guru berkunjung seminggu sekali. Dengan jam belajar 07.30-09.30 dan 10.00-12.00. Terobosan ini berjalan tiga bulan terakhir.

“Jadi kita buat kelompok belajar, per wilayah. Mau SD dan SMP kita gabung per wilayah terdekat,” kata salah seorang guru SLB Negeri Sekadau, Siti Nurwahana.

Sekolah itu memiliki 38 siswa. Mulai dari penyandang Tuli, tunagrahita, autis, dan tuna daksa, dengan tingkat pendidikan TK hingga SMA. Terbanyak, siswa Tuli.

Hana sempat mencoba menerapkan pembelajaran daring. Caranya dengan memberikan tugas lewat orang tua untuk anak. Namun karena internet yang buruk dan tidak optimalnya metode tersebut, jadi beralih.

“Orang tua bilang susah, anak mereka bingung, mengajar anaknya bagaimana. Daripada mereka tidak belajar sama sekali, makanya kita buat kelompok belajar,” terangnya.

Kendati demikian, pembelajaran daring tetap dilakukan bagi siswa Tuli SMA yang sudah pandai baca tulis, punya ponsel sendiri dan bisa bermedia sosial. Untuk kategori lain, tetap tatap muka lewat sekolah kunjung.

Akan tetapi bukan tanpa tantangan. Salah satunya jarak tempuh. Sekolah berada di pusat kecamatan Sekadau. Paling jauh, siswa tinggal di Kecamatan Nanga Mahap dan Sulang Betung, Kecamatan Sekadau Hulu. Butuh satu jam lebih berkendara motor.

“Ini pun kadang kita ngajar anak di rumah, tergantung mood anak. Kadang mood-nya bagus dia langsung mau belajar, kadang pas mood-nya tidak bagus kita datang dia masuk kamar, yang satu kadang sudah mau belajar. Jadi waktu kita kadang terpakai untuk merayu anak,” paparnya.

Selain itu, keterbatasan lain ada di media. Anak autis misalnya, belajar dengan alat bantu kartu, gambar, dan tabel. “Mau kita bawa susah juga,” ungkapnya.

Aplikasi Khusus

Selain penerapan sekolah kunjung, aplikasi khusus disabilitas dirasa menjadi salah satu solusi bagi ABK. Jumat (11/9/2020), SLB Dharma Asih Pontianak menerima kunjungan dua dosen dari Universitas Tanjungpura dan Politeknik Negeri Pontianak. Mereka tergabung dalam ‘Aliansi Masyarakat Peduli Anak Berkebutuhan Khusus’.

Keduanya berencana menyiapkan aplikasi pembelajaran khusus anak disabilitas. Gagasan itu bak angin segar bagi siswa SLB jurusan Tunarungu. Kepala Sekolah, Suyanti menyambuat baik, dan berharap terobosan itu segera bisa dipakai.

“Kita berharap, aplikasi ini bisa jadi, sehingga dapat memaksimalkan pembelajaran terhadap siswa SLB,” kata Suyanti, Jumat (11/9/2020).

Suyanti mengaku, tak banyak yang dapat dilakukan selama pandemi. SLB hanya memfasilitasi orang tua berkomunikasi via WhatsApp, dan menyiapkan guru piket. Merekalah yang bertugas jadi biro konsultasi, meski hal tersebut tak cukup efektif.

Begitu juga yang diamati Andini, akademisi Universitas Tanjungpura yang menemui Suyanti.

“Kebetulan keluarga saya juga ada ABK. Pembelajaran daring ini sangat-sangat dirasa tidak efektif,” kata Andini.

Dasar itulah, Andini ingin merancang aplikasi, diharap bisa bantu anak dan orang tua belajar. Alasannya, tak jarang orang tua tidak tahu bagaimana mengajarkan materi, dan penugasan guru.

“Jadi kadang perlu datang ke sekolah, gurunya yang mengajarkan. Tapi dengan aplikasi ini tidak perlu lagi datang ke sekolah,” katanya.

Padahal sejatinya, orang tua memiliki kemampuan, namun terbatas waktu. Dengan aplikasi itu, kapanpun waktunya sempat, mereka bisa belajar.

“Habis masak dia bisa baca, begini caranya. Sehingga jika anak kebingungan dia tahu,” katanya.

Ditargetkan, Desember nanti aplikasi bisa dipakai. “Kami sedang merancang materi dan konten. Insyaallah Desember mungkin selesai,” kata Andini.

Konten yang dimaksud terdiri dari materi dasar. Sasaran utamanya siswa Sekolah Dasar. Tim mereka kini tengah mengajukan pendanaan ke swasta.

“Jadi siapapun khususnya yang agak terlambat, orang tua juga bisa pakai, terutama saat mendampingi anak,” pungkasnya.

BELAJAR – Guru SLB Negeri Sekadau tengah mengajar anak didik mereka dengan sekolah kunjung di salah satu rumah siswa beberapa waktu lalu. ISTIMEWA

Online dan Offline Solusi

Ketua Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu (Gerkatin) M Juliar Imran mendorong solusi dari pemerintah terhadap anak disabilatas, agar pendidikan, dan pembinaan keterampilan anak terpenuhi. Menurutnya anak tunarungu tak bisa terpaku dengan pembelajaran daring.

“Pembelajaran daring tak optimal untuk anak,” katanya.

Dia mengapresiasi adanya aplikasi khusus untuk anak disabilitas yang kini dirancang ‘Aliansi Masyarakat Peduli Anak Berkebutuhan Khusus’. Namun masih gamang hasilnya tidak sama dengan pembelajaran tatap muka.

Untuk itu, dirinya mendorong selama pandemi, pembelajaran kepada siswa Tunarungu  juga dilakukan melalui tatap muka dengan protokol kesehatan ketat. Paling tidak seminggu sekali.

“Kalau tiap hari jelas tidak memungkinkan karena dikhawatirkan terkena dampak Covid-19. Tapi harusnya dapat dilakukan seminggu sekali. Daring tetap juga dilakukan,” terangnya.

Menurutnya, SLB siap menerapkan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan ketat. Asal Pemerintah memberikan dukungan. Mulai dari pemeriksaan kesehatan peserta didik dan guru lewat tes usap.

Setelah itu, pemerintah juga melengkapi sarana, prasarana  pencegahan Covid-19 seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, masker, dan face shield.

“Pembelajaran juga dilakukan berjarak, dan protokol kesehatan,” jelasnya .

Solusi ini dinilainya lebih tepat, dan dia optimis, hak-hak anak disabilitas terpenuhi. Terutama dalam pengembangan keterampilan.  Kendati demikian, rencana tersebut harus juga mendapat persetujuan orang tua, dan uji coba.

Perhatian Pemerintah

Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Provinsi Kalbar, Zamhuri mendesak pemerintah memberikan perhatian pada pendidikan anak-anak disabilitas selama pandemi Covid-19. Seperti pemberian kuota internet dan membebaskan biaya SPP SLB swasta.

Walau sebenarnya, dia sendiri gamang. Sebelum pandemi saja, peran pemerintah kurang. Banyak kasus siswa SLB swasta putus sekolah karena tak memiliki biaya. Padahal menempuh pendidikan adalah hak setiap anak.

“Makanya saya bilang, selama SLB dipegang yayasan, anak-anak disabilitas pasti dirugikan. Kalau di sekolah umumkan SPP bebas. Kalau di yayasan mereka tetap bayar,” terangnya.

Selain itu, dari sisi anggaran 20 persen dana pendidikan juga tak dibagi rata dengan SLB. Akhirnya di banyak daerah, SLB tutup karena tak memiliki biaya untuk membayar gaji guru. Begitu juga dengan kondisi gedung SLB yang berbeda, dengan sekolah umum.

“Harusnya semua sama. Kalau sama dari dulu SLB sudah maju,” katanya.

Masalah komplek tersebut memerlukan komitmen Pemerintah Daerah. Selama tidak turun tangan, dan tidak ada perhatiasn, maka diskriminasi terus terjadi.

Kepala Bidang SMA, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Fatmawati mengatakan selama pandemi SLB memberlakuan pembelajaran daring dan luring. SLB dipersilakan berinovasi memaksimalkan pembelajaran. Terutama wilayah pedalaman yang terkendala internet dan listrik.

“Ada yang berkunjung ke rumah siswa seperti yang dilakukan SLB Sintang, karena terkendala jaringan internet,” katanya.

Kebijakan itu, mengacu surat edaran Gubernur Kalbar Nomor 421/1456.1/DIKBUD/2020 tentang ‘Tatanan Normal Baru Pada Satuan Pendidikan di Masa Pandemi’. Pembelajaran daring sendiri, sama dengan sekolah umum. Namun, metode, teknik, dan strategi pembelajaran menyesuaikan.

Disdikbud juga memberikan dukungan kuota internet kepada siswa dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Program Bantuan Pendidikan (PBP) untuk sekolah swasta dan negeri.

“Untuk pemberian kuota sudah diatur seleluasa mungkin di juknis BOS, silakan sekolah berinovasi. Sampai akhir tahun sekolah tetap memiliki dana,” terangnya.

Sementara, untuk penghapusan SPP swasta tidak ada. Sedang untuk sekolah negeri, memang gratis.

*

Laporan ini terbit berkat kolaborasi program ‘Jurnalisme Isu Pelayanan Publik di Masa Covid-19’ Pemerintah Indonesia dan Jerman melalui Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammen arbeit (GIZ) dengan program Transforming Administration, Strengthening Innovations (Transformasi).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *