Feli dan Leo: Rahasia Debater Untan Berkancah Internasional

UKIR SEJARAH - Feliani dan Leonardo, dua mahasiswa Untan yang mengukir sejarah sebagai juara ajang debat bahasa Inggris di event National University Debating Championship (NUDC) 2020. Mereka jadi tim pertama dari luar Pulau Jawa yang meraih trofi setelah 37 tahun ajang ini berlangsung. INSTAGRAM @ohhaloleonardo

Tak pernah les privat. Hanya belajar otodidak. Modalnya hobi dan tekun. Yang penting mau usaha. Itulah kunci bagi Feliani berbahasa Inggris. Kemampuan yang mengantarkannya menjuarai ajang debat bahasa Inggris di event National University Debating Championship (NUDC) 2020, bersama rekannya, Leonardo, akhir September lalu.

Feliani merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan. Sedang Leonardo, mahasiswa Fakultas Hukum Untan. Mereka mencatatkan sejarah sebagai pemenang NUDC pertama dari luar pulau Jawa sejak ajang itu digelar sejak tahun 1983.

Keduanya kini menanti WUDC (World University Debating Championship) di Korea Selatan, tahun 2021 mendatang.

Feliani kapten tim Untan. Jam terbangnya lebih banyak dibanding Leo sapaan karib Leonardo. Sejak SMA, perempuan 20 tahun itu sudah sering ikut lomba debat.

BELAJAR – Feliani dan Leonardo tengah belajar dalam persiapan mereka menghadapi NUDC beberapa waktu lalu. INSTAGRAM @RuthFeliani

Minggu (4/10/2020) sore, saya berkesempatan bertemu dengan dua mahasiswa hebat itu di sebuah kafe Jalan S Parman. Tak jauh dari Kantor Bawasu Kalbar.

Feliani berkarakter periang. Ramah. Tawanya renyah. Ketika berbincang, serasa sudah lama kenal. Padahal baru pertama bertemu. Nada bicaranya lantang. Setiap penggalan kalimat yang diucapkannya terstruktur. Menggambarkan kecerdasan.

Leo pun sama. Mereka tampak begitu akrab. Kompak. Padahal tidak satu kampus. Tidak juga satu SMA. Baru kenal setelah sama-sama ikut kompetisi.

Tapi Leo lebih diplomatis. Feliani ceplas-ceplos. Namun keduanya sama-sama ahli urusan public speaking. Pandai bicara. Wawasannya luas.

Tak heran kalau mereka keluar sebagai juara debat bahasa Inggris bergengsi itu. Mengalahkan ratusan mahasiswa dari universitas ternama Indonesia.

“Lomba debat NUDC kemarin itu, saingannya luar biasa. Hebat-hebat. Ada dari Unpad, Andalas, dan kampus terkenal lainya. Kami juga gak nyangka bisa juara. Tapi kami layak si jadi juara,” kata Feliani.

Lomba debat bahasa Inggris UNDC yang diikuti Feliani dan Leo tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Akibat pandemi Covid-19, debat tidak digelar di arena.
Setiap peserta hanya kirim video dengan tema debat beragam. Mulai dari isu feminisme, hubungan internasional, teknologi, militer, ekonomi, geo politik negara konflik Timur Tengah, serta isu-isu sosial di Indonesia.

“Kami menjadi delegasi kopertis. Bertanding melawan 111 peserta, mewakili Untan, dan juara satu,” sebutnya.

TIM – Kerja tim debat Universitas Tanjungpura lewat duo Feliani dan Leonardo sebagai ujung tombak mengantarkan mereka juara NUDC 2020 September lalu. INSTAGRAM @RUTHFELIANI

Feliani bercerita, tak punya persiapan khusus ikut lomba debat UNDC 2020 kali ini. Sebab tahun-tahun sebelumnya, ia sering ikut lomba. Mental sudah terasah.

Persiapan hanya mematangkan konsep konten. Sebab, penilaian utama dalam kompetisi itu tergantung menarik tidaknya konten debat yang disampaikan. Bahasa Inggris, hanya media komunikasi saja.

“Dalam membuat konten debat kami sering bertengkar untuk menyatukan konsep,” kata Leo.

“Iya, kami tampak kompak. Padahal sering berbeda pandangan,” timpal Feliani tertawa lepas.

Feliani merupakan alumni SMAN 4 Pontianak. Sedangkan Leonardo, alumni SMA Imanuel Pontianak. Saat duduk di bangku SMA, Feliani mengaku tak lihai berbahasa Inggris. Hanya tahu dasar-dasarnya saja.

Tapi, ia sadar bahasa Inggris penting dikuasai. Manfaatnya banyak.

Dari keseadaran itu, ia belajar. Tidak les privat. Belajar sendiri di rumah. Membiasakan membaca berita bahasa Inggris. Nonton YouTube berbahasa Inggris.

Dengan ketekunan, Feliani mahir dan jago bahasa Inggris.

“Triknya itu sehe jak,” ucapnya.

Berbeda dengan Leonardo. Ia mahir bahasa Inggris sejak SMA. Di sekolahnya, ada kelas khusus berbahasa Inggris.

“Tapi saya baru ikut kompetisi debat bahasa Inggris ini saat di kuliah saja,” katanya.

Awalnya, seorang dosen menawari. Alasannya melihat potensi mahasiswa yang lancar berbahasa Inggris di kampus. Ujungnya, berdirilah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bahasa Inggris.

“Dan tahun 2018 itu ada lomba debat UNDC di Untan. Saya disuruh ikut delegasi kampus. Dan berhasil menang,” sebutnya.

PRESTASI – Prestasi tim debat Untan di NUDC 2020 membawa nama harum bagi universitas. Mereka pun dapat sambutan hangat Rektor Untan, Prof Garuda Wiko. INSTAGRAM @RuthFeliani

Hobi Baca dan Politik

Modal utama ikut debat bahasa Inggris tentu saja bisa berbahasa Inggris. Tapi yang tak kalah penting, harus punya wawasan luas.

Kuncinya hanya satu. Harus rajin baca. Leo dan Feliani sama-sama gemar membaca. Bahkan Feliani yang aktif di PipetKite–sebuah komunitas di bidang lingkungan–sudah suka baca sejak sekolah dasar.

“Buku bacaan saya banyak. Mulai dari fiksi, nonfiksi, hingga buku-buku politik,” ujarnya.

Feliani juga menggemari puisi karangan Aan Mansyur. Ia juga suka karya fiksi Okky Madasari. Belakangan sedang tertarik membaca buku-buku karya penulis luar.

“Saya juga senang baca. Tapi dibanding Feli, (referensi bacaan) saya masih jauh,” kata Leo menyambung.

Selain suka baca, dua mahasiswa ini, juga gandrung dengan politik. Bagi Feliani, politik sangat penting dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat.

PRESTASI – Prestasi tim debat Untan di NUDC 2020 membawa nama harum bagi universitas. Mereka disambut hangat kampus usai juara. INSTAGRAM @RuthFeliani

“Cara kita hidup itu sangat bergantung dengan politik. Sangat bergantung siapa yang mengambil keputusan. Jadi politik itu penting sekali,” sebutnya.

Feliani juga merupakan aktivis lingkungan. Sampai sekarang ia masih menjadi Duta Lingkungan Hidup Pontianak. Selain itu, ia peduli dengan isu perempuan. Bahkan pernah terlibat dalam advokasi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di Pontianak.

Sedang Leo, senang politik karena dinamikanya. Baginya, politik menarik untuk diikuti. Politik mengajarkan orang berpikir kritis. Berpikir jauh ke depan.

“Saya suka politik. Tapi bukan politik praktis,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *