Damri: Penjual Durian dan Wakil Partai Buruh Pertama di Kalbar

Anggota DPRD Pontianak, Damri

Pedagang buah itu, kini jadi wakil rakyat. Lama di pasar membuatnya memiliki banyak kawan dan menjumpai bejibun keadaan. Meski awalnya ragu maju, kini sudah tiga periode dia mengawal pembangunan. Dia adalah Damri, anggota DPRD Kota Pontianak.

Sejak 2009 lalu, posisinya tak tergantikan. Tapi siapa sangka, Damri sebelumnya anak pasar, penjual durian, pernah jadi sopir taksi gelap.

Bacaan Lainnya

Menjadi anggota dewan, tak mengubah kebiasaannya. Masih kumpul di pasar. Bedanya, kini lidahnya jadi penyambung keluhan masyarakat, langsung ke Pemerintah. Termasuk merumuskan kebijakan.

“Maaf Ndi nunggu, baru balek beli ikan di pasar,” kata Damri menyapa kami yang menunggu di rumahnya di Jalan Husein Hamzah, Pontianak Barat, Rabu (23/9/2020). Dia bicara dengan logat Melayu Pontianak kental.

Damri datang dengan kaus polos putih bercelana pendek. Kesan glamor anggota dewan tak tampak. Mungkin, itu kuncinya dekat dengan masyarakat. Menjadi diri sendiri, tak membikin jarak.

“Kita tak mau janji-janji ke masyarakat. Tapi kita terus bekerja menyerap aspirasi mereka. Kalau kita ke lapangan ada jak keluhan masyarakat yang bisa kita serap,” ceritanya.

Buktinya, tiga periode dia duduk di kursi legislatif dari daerah pemilihan Pontianak Barat. Amanah yang dianggapnya hidayah Allah. Yang dijaganya betul-betul, baik dalam mendapatkan, hingga menjalankan.

“Bukan janji surge, tapi bukti kepada masyarakat. Kalau saya tak mau janji, tapi bukti kita berbuat,” ungkapnya.

SERAP – Anggota DPRD Pontianak, Damri menyerap aspirasi warga dalam reses di Pontianak Barat, 2019 lalu. ISTIMEWA

Wakil Buruh

Damri lahir di Pontianak, 6 Desember 1966. Besar di dunia politik tak pernah terpikir olehnya. Sejak kecil, waktunya habis di pasar. Bantu orang tuanya jualan. Jalan hidupnya di basah keringat. Bukan empuknya kursi pejabat.

Namun jelang Pemilu 2009, riuh reformasi menular. Semangat ambil bagian dalam pembangunan, usai melihat kondisi sekitar, dan ajakan seorang teman, buat Damri melangkah. Walau sebenarnya, dia malas masuk partai. Masih merasa ada jarak, antara partai dan masyarakat.

“Sebenarnnya tak tertarik masuk partai. Tapi karena kawan ngajak, akhirnya ikut,” terangnya.

Berdua Hernan, temannya, Damri masuk Partai Buruh. Di sana dia belajar organisasi politik. Bagaimana memahami keinginan masyarakat, dan menyalurkannya lewat lembaga resmi. Sebagai partai baru, dia pun diajak terjun Pemilu.

Di Pemilu 2009, Partai Buruh dapat nomor 44. Damri jadi calon legislatif nomor urut lima dari Pontianak Barat. Awalnya, calon terpilih diambil berdasarkan nomor urut setelah perhitungan suara. Damri ragu. Sistem sudah mengalahkannya.

“Saya dipasang di nomor urut lima. Setengah hati saat itu, sudah tahu kok, yang dapat kursi pasti nomor satu,” ceritanya.

Namun, pascapendaftaran sistem berubah. Suara terbanyak jadi rujukan. Damri lari kencang, kawan-kawannya yang terangkul, saling bantu. Walau sebenarnya, orang-orang pesimis, partai baru kok mau dapat kursi.

“Semua orang bilang tidak mungkin Partai Buruh dapat kursi,” tuturnya.

BERBINCANG- Anggota DPRD Pontianak, Damri berbincang dengan Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono dalam salah satu acara di Pontianak, akhir 2019 lalu. ISTIMEWA

Sosialisasi digencarkan. Tidak tebar janji. Orang-orang kenal siapa Damri. Mereka yang tak tahu, dikenalkan.

“Alhasil saya dapat suara 900 lebih, terbanyak dari 10 caleg Partai Buruh,” jelasnya.

Perolehan 900 suara waktu itu, sudah cukup tinggi. Sebab banyak caleg partai besar ikut dalam kontestasi Pemilu 2009, punya suara di bawah itu. Lewat perhitungan akumulasi partai, Damri terpilih duduk di DPRD Kota Pontianak.

Selain dilantik menjadi anggota DPRD, di tahun yang sama, Damri juga dipercaya menjadi Ketua DPD Partai Buruh Kalbar. Pertimbangan partai saat itu, dia satu-satunya caleg terpilih di Kalbar dari Partai Buruh.

Sayangnya, di tahun 2014, partai yang membesarkan namanya itu, tak lolos verifikasi pusat. Mimpi kemenangan bersama partai pertama terpaksa di kubur dalam. Sejumlah partai datang meminang. Dia mencocokkan visi dan misi, termasuk lingkaran pertemanan politik. Hanura jadi pilihan.

“Jadi saya langsung hijrah ke Hanura. Alhamdulillah terpilih di tahun 2014 dengan koleksi sekitar 2.000 suara lebih,” ungkapnya.

Loyalis Damri tak sembarangan. Di Pemilu 2014, mereka kembali ukir sejarah. Untuk pertama kali, Hanura raih kursi dari dapil Pontianak Barat. Damri pun didaulat sebagai Ketua DPC Hanura Kota Pontianak, hingga sekarang. Tahun 2019, Damri kembali terpilih dengan koleksi 2.346 suara.

LANTIK – Ketua DPD Hanura Kalbar, Suryanto Tanjung menyerahkan pataka Hanura dalam sumpah pelantikan pengurus DPC Hanura Pontianak periode 2016-2020 yang diketuai Damri di Grand Mahkota Hotel, Jumat (18/8/2017) sore. KRISTIAWAN BALASA

Bapak Buah

Damri muda besar di pasar. Sepulang sekolah, rutinitasnya berdagang buah di Pasar Sentral atau Kapuas Besar, mengikuti H Mading, ayahnya.

Beragam jenis buah dijual. Mulai dari langsat hingga durian. Waktu itu, menyambung hidup keluarga empat bersaudara ini, bersandar dari hasil jualan buah. Ibunya, H Salmah seorang ibu rumah tangga.

“Kalau di Pasar Sentral orang-orang kenal dengan Bapak saya agen durian. Dia beli di tempat langsung. Sampai di Pontianak ecer langsung,” jelasnya.

Kerap kali ayahnya berangkat keluar daerah. Mencari buah terbaik untuk dikenalkan ke orang kota. Damri ikut ke pasar tanpa dipaksa. Dia tahu apa yang harus dilakukan, membantu keluarga. Cahaya matahari, dihabiskannya di sana.

“Waktu itu makan nyaman, sambil jualan makan nasi bungkus,” kenang lulusan magister hukum Universitas Tanjungpura Pontianak ini, sambil tersenyum.

Keluarganya tinggal di Gang Tiongkandang, Kelurahan Sungai Jawi, Kecamatan Pontianak Barat. Hidup di pasar dengan gemblengan langsung orang tua, membuatnya berprinsip kuat. Jujur adalah kunci. Bukan cuma untuk pedagang, tapi semua pekerjaan.

“Pesan Bapak saya sebelum meninggal jangan bohong. Jauhkan dari sifat bohong,” imbuh alumnus strata satu Fakultas Hukum Universitas Panca Bhakti tersebut.

Nilai-nilai itu, melekat hingga dewasa. Dalam memilih teman, dia suka orang yang blak-blakan dan terbuka. Termasuk saat menapaki karier sebagai dewan. Dia tak mau bohong, jika janji pasti ditepati.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini juga dikenal menyukai tantangan. Namanya anak Sungai Jawi, hari-hari mandi sungai. Berenang jadi mainan. Lompat-melompat dari jembatan. Jadi jangan heran, bila dia pernah mencoba jadi sopir taksi gelap antara 1997-1998. Bawa mobil orang, dengan sistem setor per bulan. Rutenya selalu luar kota.

“Kalau hari besar, lepas kunci segala macam,” jelas alumnis SMKN 4 Pontianak ini.

SUAP TUMPENG – Satu di antara kader Hanura Pontianak, Herry Fadilah menyuapi Ketua DPC Hanura Pontianak, Damri nasi tumpeng dalam syukuran ulang tahun Ketua Umum Hanura, Oesman Sapta Odang, di Grand Mahkota Hotel, Jumat (18/8/2017). KRISTIAWAN BALASA

Selama jadi sopir taksi, dia mangkal di Kapuas Indah. Walau tak jarang pindah-pindah. Kepribadiannya yang apa adanya, bikin mudah cari teman.

“Prinsipnya berteman tidak pernah menyusahkan teman. Paling suke gurau jak. Kita pun digurau tak pernah marah,” terangnya.

Pengalaman hidupnya di pasar dan jadi sopir taksi, tak jarang membuatnya dilabeli preman. Damri tak ambil pusing.

“Preman inikan macam-macam. Kalau orang bilang, suke nyakitkan orang. Tapi saya tak pernah nyakitkan orang,” terangnya.

Namanya labelisasi, ada enak, ada tidak. Sebelum masuk Partai Buruh, dia sempat belajar jadi kontraktor, sekitar tahun 2004. Tapi cuma mentok di tukang ambil dokumen. Saat itu, proses pengajuan proyek masih manual. Dokumen pendaftaran diambil langsung di Dinas PUPR. Sementara dokumennya dijaga preman.

“Kalau aku yang masuk kan tinggal minta jak, kawan aku semua. Kalau dapat dokumun itu dapat duit, orang ngagak kita,” ceritanya sambil tersenyum.

KOMPAK – Para kader Hanura yang berpeluang maju dalam Pilwako Pontianak 2018 kompak mendukung satu sama lain. Dalam Pemilu itu, akhirnya Sekjen Hanura Kalbar saat itu, Hary Daya maju mewakili Hanura berpasangan dengan Yandi. KRISTIAWAN BALASA

Realistis dalam Politik

Sebagai ketua partai, Damri mengakui peluangnya terbuka lebar untuk maju sebagai Wali Kota Pontianak ke depan. Namun, dalam politik dia tak mau menuruti syahwat. Nafsu kekuasaan. Berpikir realistis jadi pedoman. Sebab, dia berprinsip, bertarung harus menang.

“Saya lebih suke memberikan kesempatan kepada orang yang lebih layak. Kalau saya merasa 50-50, kemudian kajian kita ada tokoh yang dinilai mampu dan berpeluang, maka kita harus legowo, karena kalau kita bertarung tak boleh ragu-ragu,” ujar alumni SDN 25 Pontianak ini.

Realistis dalam politik ini juga ditunjukannya dalam pemilihan Ketua DPD Hanura Kalbar. Banyak yang mendorongnya maju. Namun dia menilai ada yang lebih layak. Selain itu, sebagai ketua partai, beban pikirannya bukan hanya menyelamatkan diri sendiri tapi juga partai.

Untuk itu, setiap kali ingin mengambil sikap politik, dia selalu memikirkan nasib partai. Termasuk bagaimana nasib kursi di dapilnya jika nanti ditinggalkan. Apalagi di Pontianak Barat, menurutnya sulit mencari pentolan.

“Inilah bedanya pola pikir anggota DPRD dan ketua partai, dengan yang hanya anggota DPRD. Jika hanya anggota DPRD dia hanya berpikir menyelamatkan dirinya. Kalau anggota DPRD dan ketua partai dia berpikir keduanya,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *