STIK Muhammadiyah Pontianak Berduka, Alumni Positif Covid-19 Meninggal Dunia

ilustrasi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Muhammadiyah Pontianak berduka. Satu alumni terbaiknya meninggal dunia. Dia adalah perawat perempuan yang bekerja di ruang ICU Rumah Sakit Untan Pontianak.

Ucapan belasungkawa mengalir kepadanya dari para alumni. Dia diketahui sebagai alumni STIK Muhammadiyah Pontianak angkatan ke-17.

Bacaan Lainnya

“Innalilahi wa innailaihi rojiun, turut berdukacita atas wafatnya almarhumah, dia alumni tahun 2008. Semoga khusnul khatimah. Mudah-mudahan semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT. Serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ucap salah satu alumni.

Ketua Alumni STIK Muhammadiyah, Ajie Kurniawan mengatakan, dia adalah salah satu alumni terbaik sekolah keperawatan tersebut. Almarhum sehari-hari bertugas di ICU RS Untan dan meninggal dunia hari ini, Sabtu (17/10/2020).

“Sebagai teman sejawat, dan atas nama alumni STIK Muhammadiyah Pontianak kami mengucapkan turut berbelasungkawa atas wafatnya almarhumah. Dia adalah garda terdepan yang melawan pandemi ini bersama kita semua,” katanya.

Ajie menjelaskan, ini akan menambah daftar catatan panjang tenaga kesehatan yang positif Covid-19 meninggal dunia. Tentunya ini akan menjadi sejarah bagi perjuangan tenaga kesehatan dalam melawan pandemi.

“Ini menjadi catatan sejarah bagi Kalbar, adanya tenaga kesehatan yang berjuang melawan pandemi Covid-19 kemudian gugur. Kami terus berupaya melakukan koordinasi dan memberikan dukungan moril kepada seluruh tenaga kesehatan yang sedang berjuang di garda terdepan melawan pandemi ini,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang perawat ICU di Rumah Sakit Untan meninggal akibat tertular Covid-19. Almarhum meninggal di kediamannya dalam masa karantina mandiri, Sabtu (17/10/2020) sekitar pukul 04.00 WIB.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Harisson menyebutkan, perawat tersebut dinyatakan positif Covid-19 pada tanggal 12 Oktober 2020.

“Sebelumnya perawat ini mengeluh demam, batuk, pilek, ada anosmia. 11 Oktober 2020, almarhum dilakukan pemeriksaan swab. Tanggal 12 Oktober sudah mendapat hasil dari laboratorium Untan, bahwa yang bersangkutan kasus konfirmasi Covid-19,” terangnya.

Selanjutnya, almarhum disarankan untuk menjalani isolasi di Rusunawa Pontianak. Namun dia menolak. Dan memilih isolasi mandiri di rumahnya. Karena di rumahnya pun, dia juga tinggal sendiri.

Selama menjalani isolasi mandiri di rumahnya, petugas kesehatan Puskesmas Pal III dan pihak Rumah Sakit Untan melakukan pemantauan kondisi almarhum.

“Almarhum diberi obat oseltamifir dengan zitromisin,” jelasnya.

Namun memang, selama menjalani isolasi mandiri, almarhum mengeluh sesak. Terutama saat beraktivitas. Setelah istirahat sesaknya berkurang.

“Dan tadi pagi itu, sekitar jam 10 kakak almarhum datang berkunjung ke rumahnya. Dan ternyata ditemukan sudah meninggal. Diperkirakan (almarhum meninggal) jam 4 subuh,” ucapnya.

Menurut Harisson, almarhum diperkirakan tertular Covid-19 di luar rumah sakit. Sebab, berdasarkan catatannya, di ruang ICU Rumah sakit Untan tidak pernah merawat pasien Covid-19.

“Jadi, dua hari setelah almarhum terkonfirmasi Covid-19 ini baru setelah itu ada pasien Covid-19 yang dirawat di ICU. Jadi kemungkinan besar almarhum, tertular di luar,” katanya.

Berdasarkan penelusuran rekam medik, alamarhum kata Harisson, memiliki penyakit penyerta atau komorbid hipertensi. Jenazah almarhum telah dibawa ke RSUD Soedarso untuk dilakukan pemulasaran dan dikebumikan dengan prosedur Covid-19.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *