JaDI Kalbar: Politik Uang Rawan di Pilkada di Tengah Pandemi

Sekretaris JaDI Kalbar, Misrawi.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Sekretaris Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Kalbar, Misrawi mengatakan Pilkada di tengah pandemi Covid-19 rawan politik uang. Alasannya sosialisasi baik oleh penyelenggaran dan peserta Pemilu akan terkendala. PKPU Nomor 13 Tahun 2020 mengatur pertemuan tatap muka hanya diperbolehkan untuk paling banyak 50 orang.

Alhasil, informasi terkait pemilihan tidak sampai secara menyeluruh. Apalagi, pandemi bikin ekonomi merosot.

Bacaan Lainnya

“Dengan ekonomi yang merosot, tinggi potensi politik uang. Ruang gerak dan media kampanye tidak bebas, bisa jadi politik uang justru makin besar,” katanya dalam Diskusi Pro dan Kontra Pilkada Serentak 2020 di Pontianak, Selasa (20/10/2020).

Apalagi sampai Oktober 2020, ada se Indonesia ada 16.468 pelanggaran pertemuan Pilkada. PKPU mengatur, pertemuan hanya diperbolehkan untuk 50 orang. Namun di sisi lain, calon ingin dapat suara. Mirisnya, banyak petahana juga tidak memperhatikan protokol kesehatan. Padahal mereka Satgas Penanggulangan Covid-19 di daerah.

“Politik uang jadi salah satu media untuk memperoleh dukungan masyarakat. Kalau Pilkada tetap berlanjut, penyelenggara mesti memastikan protokol kesehatan berjalan dengan baik,” tegasnya.

Dia menjelaskan sejak awal, JaDI menyarankan agar Pilkada ditunda, bukan sampai pada virus selesai, tapi ketika penyebaran virus melandai.

“Tentu penundaan itu dibarengi dengan penyusunan regulasi. Karena saat ini kita masih pakai UU Pilkada di masa normal, karena tidak ada UU Pilkada di masa pandemi,” katanya.

Dengan adanya UU Pilkada di masa pandemi, KPU dan Bawaslu punya rujukan jelas. Walau sekarang muncul Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), namun dasar hukumnya tidak kuat karena tak ada UU Pilkada di masa pandemi.

“Pilkada di masa pandemi, bisa jadi menurunkan angka partisipasi pemilih karena masyarakat khawatir dengan kesehatannya,” katanya.

Dampak dari rendahnya angka partisipasi, legitimasi calon terpilih ikut rendah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *