Bahasa Indonesia: Menjalin Kebangsaan

Ilustrasi. (Citrust.id)

Menarik opini Y. Priyono Pasti di sebuah koran lokal terkenal Kalbar (15/10/2020) seputar kesaktian bahasa Indonesia yang jarang disadari oleh penuturnya sendiri. Pendidikan menjadi sorotannya yang dipandangannya lebih condong kepada ranah eksakta ketimbang ranah humaniora dengan wujud berbahasa Indonesia.

Sementara itu, berbahasa yang baik dan benar dapat membentuk karakter sesorang karena tatanan berbahasa dengan tertib menjadi jaminan pola pikir yang baik dan masuk akal (logis).

Bacaan Lainnya

Meneroka kesaktian bahasa Indonesia sebenarnya sudah teruji sejak dahulu, setidaknya dengan Sumpah Pemuda Oktober 1928 sebagai penandanya. Kebangsaan atas dasar suku beragam macamnya dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulo Rote, perlu alat komunikasi yang sangkil-mangkus untuk diterima semua pihak. Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan obyek vital mendasar demi terbangunnya saling kesepahaman, baik komunikasi itu sendiri maupun mengatasi kendala identitas masing-masing suku di Indonesia.

Tarik-menarik identitas sebagai sebuah kepentingan menjadi tidak mengemuka melalui pemilihan alat komunikasi tersebut atas dasar kebersamaan sekaligus tetap terjaganya identitas masing-masing. Meredam kepentingan dan tetap terjaganya kepentingan nyatanya dapat dilalui oleh para pendahulu (founding father) yang terpatri jelas dalam pernyataan menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Kebersamaan tetap terjalin, tetapi kepentingan terpenuhi.

Oleh karena itu, identitas kebangsaan yang bersifat nonpartikularistik dan partikularistik, asanya tetap terjaga sesuai ranah yang akan dituju. Bahasa Indonesia identitas nonpartikularistik dan bahasa daerah identitas partikularistik justru saling mengikat demi terjalinnya kebangsaan yang lebih luas sebagai etika global keindonesiaan. Keniscayaan keragaman Indonesia secara sosial-budaya betul-betul dikedepankan tanpa mengorbankan satu dengan lainnya.

Bahasa Indonesia merupakan keterjalinan kebangsaan Indonesia yang utuh, baik secara
ideologis maupun secara empirik. Secara ideologis terlihat jelas dalam isi ketiga Sumpah Pemuda, sedangkan secara empirik terlihat juga akomodasi bahasa-bahasa daerah dalam bahasa Indonesia melalui proses serapan. Bahkan, bahasa-bahasa asing juga menjadi bagian pengayaan kosakata bahasa Indonesia, yang tentu juga melalui proses semestinya secara linguistik.

Dengan demikian, jalinan kebangsaan melalui bahasa Indonesia tidak bersifat chauvinistik, tetapi justru inklusif yang sedari awal telah ditawarkan para pendiri bangsa ini dalam mencari etika global keindonesian melalui bahasa. Bahasa Indonesia menjalin kebangsaan inklusif, terbuka dengan keragaman, malah inklusivitasnya melintas batas kenegaraan. Perlu berkaca dengan bahasa Indonesia jika terpapar oleh benih eksklusivitas demi terhindar dari jerembab kubangan lebih dalam.

Lebih jauh lagi, Indonesia berpotensi menyebarkan kebangsaan ini dalam ranah global melalui bahasa Indonesia yang berkarakter inklusif. Ragam kosakata asing telah diakomodasi bahasa Indonesia, menjadi modal pijakan ilmiah (epistemologi) untuk menjadi bahasa internasional atau upaya menjadi bahasa resmi PBB bersama bahasa Arab dan Inggris. Sejalan untuk mewujudkan politik bebas aktif Indonesia melalui internasionalisasi bahasa Indonesia.

Oleh karena itu, prediksi Indonesia sebagai poros dunia nantinya, tidak hanya terpumpun pada strategi ekonomi saja, tetapi strategi budaya melalui bahasa Indonesia perlu diupayakan bersama. Upaya tersebut menjadi semakin jamak keterlibatan Indonesia sebagai poros dunia, berkaca pada lirik lagu Indonesia secara implisit, membangun raga harus ditopang membangun jiwa. Maruah kebangsaan akan semakin jamak dengan keberadaan bahasa sebagai media dalam segala aspek, dalam hal ini upaya eksistensi bahasa Indonesia sebagai media dalam kancah global.

Keterlibatan kancah global sangat perlu soliditas kebangsaan Indonesia terlebih dahulu untuk memperlihatkan sekaligus membangun nantinya kebersamaan level tinggi tingkat dunia. Menjalin Indonesia pada momen Bulan Bahasa telah dihelat di seluruh pelosok Indonesia. Keterjalinan ini tentunya tidak berhenti pada Bulan Bahasa saja, perlu kesinambungan. Dapat dimungkinan soliditas kebangsaan menjadi parameter peran Indonesia di kancah global.

Historisitas Sumpah Pemuda membuktikan cairnya ragam identitas Indonesia untuk menjalin kebangsaan melalui kebersamaan, menjadikan bahasa Indonesia bahasa persatuan dan pemersatu. Jalinan bahasa kebangsaan ini tidak menutup kemungkinan nantinya membangun soliditas global melalui bahasa Indonesia. Memang kesan utopia tidak dapat ditepis, tetapi spekulasi perlu dilakukan sebagai proses perwujudan cita-cita. Bukannya aliran-aliran filsafat mapan kini berawal dari spekulasi-spekulasi dunia dewa pada alam Yunani (Helenistik).

 

Penulis:

Khairul Fuad, peneliti sastra Balai Bahasa Kalbar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *