Debat Pilgub Kaltara : Petahana Jelas Kedodoran

DEBAT - Debat Publik Calon Gubernur & Calon Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Tahap I yang digelar di Hotel Tarakan Plaza, Tarakan, Senin (26/10/2020). (Foto Ist)

TARAKAN, insidepontianak.com – Pelaksanaan Debat Publik Calon Gubernur & Calon Wakil Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Tahap I yang digelar di Hotel Tarakan Plaza, Tarakan, Senin (26/10/2020) semalam berlangsung menarik.

Tiga pasangan calon masing- masing Zainal Paliwang – Yansen Tipa Padan yang didukung PDIP, Gerindra, Demokrat dan PPP ; Udin Hianggio -k Undunsyah yang diusung PKB dan Hanura serta Irianto Lambrie – Irwan Sabri (Golkar, PAN, Nasdem, PKS, PBB dan Perindo) menyampaikan visi misi dan saling adu debat. Pelaksanaan debat ini berlangsung dengan protokol kesehatan covid yang ketat.

Bacaan Lainnya

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi yang hadir di lokasi debat melihat pemilihan tema yang ditentukan KPUD Kaltara terlalu luas.

“Tema Debat seperti hukum, korupsi, penyalahgunaan narkoba, human traficking, tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik terlalu banyak dan luas. Harusnya tema debat bisa dipersempit agar gagasan dan rencana kerja para paslon bisa tergali maksimal. Fokus saja pada beberapa tema sehingga langkah implema visi misi para bisa diketahui publik,” ujar pembimbing disertasi S-3 di Universitas Padjadjaran ini, kepada Insidepontianak.com, Senin (26/10/2020).

Menurut konseptor penatalaksanaan komunikasi publik di sejumlah institusi ini, konteks “perceraian” petahana gubernur Irianto Lambirie dengan wakil gubernur Udin Hinggio berhasil menjadi topik “penghangat” debat semalam. Ketidakcocokan antara Irianto dengan Udin berhasil di maksimalkan oleh pasangan mantan Wakapolda Kaltara Zainal Paliwang dan mantan Bupati Malinau dua periode Yansen TP.

“Sebaiknya moderator debat harus benar-benar independen, obyektif dan tidak ada kaitannya dengan paslon yang berlaga di pilkada. Akan lucu dan mirip “dagelan” jika moderator adalah anggota tim gubernur untuk percepatan pembangunan. Kadar obyektifitas dan kemampuan moderator bersikap adil akan menjadi parameter kesuksesan tahapan debat,” tukas Ari Junaedi.

Dari analisa peraih penghargaan penatalaksanaan kehumasan Bea Cukai dari Word Custom Organization (WCO) 2014 ini, debat antar kandidat kepala daerah Provinsi Kaltara ini dimenangkan oleh duet Zainal Paliwang – Yansen TP karena kemampuannya dalam memaparkan visi misi dengan gamblang serta kejelasan dalam menjawab pertanyaan moderator dan menjawab pertanyaan paslon lain.

“Pasangan nomor 3 jelas terlihat menguasai perrmasalahan dan tidak ada beban politik masa lalu. Sementara untuk paslon nomor 1 kurang paham dengan materi yang ditanyakan moderator dan paslon nomor 1 terlalu mengandalkan dengan jawaban-jawaban instan yang sudah disiapkan,” ungkap Tenaga Ahli Desk Pilkada Kemendagri (2017-2019).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *