Santri ‘Zaman Now’ Berdakwah Tanpa ‘Berdakwah’

DAKWAH - Husein Ja’far Al Hadar (tengah) dalam salah satu kegiatan dakwah kerja sama dengan Majelis Lucu Indonesia. INSTAGRAM @husein_hadar

Dalam era digital ini, banyak da’i muda lulusan pondok-pondok pesantren berdakwah dengan cara yang tidak tradisional. Umumnya, mereka menarget kaum muda agar lebih serius pada agama tanpa membuat mereka merengut.

Berdakwah diiringi musik, kerap dituding tidak serius. Berdakwah melibatkan komedian, dianggap nyeleneh. Berdakwah dengan menampilkan pemuda tersesat, menuai gelengan. Namun, bagi Husein Ja’far Al Hadar, semua adalah jalan dakwah, perkara serius yang ia tekuni dalam beberapa tahun ini.

“Misi dakwahnya justru dominan sebenarnya. Adapun canda yang dibawakan oleh stand-up komedian ataupun musik yang dibawakan oleh musisi-musisi yang saya ajak, itu hanya untuk mencairkan suasana dan untuk membuat delivery dakwahnya semakin mengena,” ujar pria berusia 32 tahun itu.

Husein mulai berdakwah lewat tulisan belasan tahun silam. Seiring berkurangnya minat baca pada media cetak, santri pondok pesantren tradisional Bangil, Jawa Timur itu, kemudian merambah media digital dan sosial.

Ia juga mengajak Majelis Lucu Indonesia, membuka panggung bagi pemuda tersesat, aktif dalam gerakan Islam Cinta, dan berdialog antaragama.

Gaya penyampaiannya yang tenang dan santai membuat anak muda, yang menurut Husein bukan pemuda masjid, berani mengajukan pertanyaan terkait Islam. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan diajukan kepada ustaz atau dalam majelis taklim.

Menurut Husein, di situlah ia merasa perlu ada. Kalau kemudian pemuda itu lebih serius beragama, dan mulai ke masjid, tugasnya beralih ke ustaz atau imam di masjid.

“Saya percaya bahwa dakwah kepada anak muda itu perlu disampaikan dengan cara yang sesuai dengan anak muda yaitu menyenangkan salah satunya,” ujar Husein.

Dakwah yang menyenangkan bagi anak muda juga menjadi pegangan Muchammad Yasir Arafat. Pemuda usia 28 tahun yang akrab dipanggil Aro ini mengelola ‘All About Santri’, disingkat ‘Ala Santri’. Ia memilih media sosial untuk memperkenalkan kehidupan sehari-hari santri, baik yang masih mondok maupun yang sudah lulus.

Dengan Ala Santri, pandangan miring banyak orang tentang santri, dan pondok pesantren berubah, kata Aro, yang sejak tingkat SD nyantri di Yayasan Ali Maksum di Krapyak, dekat Yogyakarta. Gaya dakwah Aro mengena sehingga banyak remaja yang mau menimba ilmu di pesantren atas keinginan sendiri. Bukan paksaan orangtua.

“Anak-anak yang mau masuk pesantren itu memang karena kemauannya sendiri. Dan itu, mereka lihat akun santri-santri itu. Akhirnya mereka ada keinginan untuk mondok di pesantren,” tuturnya.

Ahmad Romzi adalah asisten staf khusus presiden dengan gugus tugas pondok pesantren. Ia lulusan ponpes dan kini menjabat direktur ponpes Al Shighor yang berbasis di Cirebon, tetapi tersebar di Lampung dan Kalimantan. Bidang dakwah yang ia geluti adalah menggerakkan semangat wirausaha secara Islami.

Romzi menambahkan, profesi santri ke depan juga tidak melulu bidang agama. Begitu keluar dari ponpes, santri sekarang menyebar ke berbagai penjuru dunia, menimba ilmu bukan saja ke kawasan Timur Tengah, tetapi juga ke negara-negara Barat, memungkinkan mereka memilih profesi yang paling diminati.

“Ada yang start business, ada yang mulai jual beli online. Ada yang fokus mengelola website, kasih pelatihan ke UMKM untuk bikin website, sekaligus jadi konsultan. Jadi, sekarang sudah keren-kerenlah santri,” kata Romzi.

Dengan profesi pilihan, santri-santri zaman now itu kemudian berdakwah. Tanpa harus berada di masjid atau majelis taklim, tanpa mengenakan baju koko atau jubah, dan tanpa kopiah, mereka berdakwah tanpa ‘berdakwah.’ (voa indonesia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *