Aliansi Mahasiswa: Aparat Polda Kalbar Represif, 10 Mahasiswa Luka

AKSI - Aksi massa sesaat sebelum ricuh di Bundaran Digulis Untan, Pontianak, Rabu (28/10/2020) malam.

PONTIANAK, insidepontianak.com – Aliansi Mahasiswa Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) Kalbar menyebut 10 mahasiswa luka akibat tindakan represif aparat Polda Kalbar dalam aksi tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Bundaran Digulis Untan, Rabu (28/10/2020). Dari jumlah itu, tiga mengalami luka berat dan sempat dilarikan ke rumah sakit.

Dari data yang kami kumpulkan ada 16 orang mahasiswa yang di tangkap pada aksi dan sudah di lepaskan, dari 16 orang yang di tangkap sebanyak 10 orang mahasiswa mengalami luka ringan hingga berat. Yang mengalami luka berat ada 3 tiga korban dan sempat di larikan ke rumah sakit.

Bacaan Lainnya

“Menurut keterangan korban tindakan tersebut berasal dari aparat. Bahkan sampai saat ini ada yang masih dirawat di rumah sakit, karena mengalami luka serius, akibat tindak kekerasan oleh kepolisian,” kata korlap aksi, Ansarrudin, Kamis (29/10/2020) lewat siaran pers yang diterima insidepontianak.com.

Saat aksi, 16 rekan mereka juga ditangkap polisi. Namun telah dilepaskan. Dalam siaran pers berbeda, Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Donny menyebut ada dua mahasiswa yang dirawat di RS Bhayangkara. Mereka memiliki riwayat penyakit tifus dan asma. Polisi mengklaim tidak melakukan penganiayaan.

“Kami juga mengesalkan sikap Polda Kalbar yang seakan-akan cuci tangan dari kejadian aksi kemarin. Yang menyebutkan bahwa tindakan refresif itu bukan berasal dari kepolisian, lalu siapa lagi yang melakukan itu? Lalu kemudian membuat pernyataan seolah-olah korban aksi yang dilarikan ke rumah sakit bukan karena tindakan brutal aparat tapi karena penyakit bawaan,” tegas Ansarrudin.

Aliansi menegaskan, mahasiswa yang mengalami luka ringan dan berat hingga dibawa ke rumah sakit adalah korban tindakan refresif aparat yang brutal terhadap mahasiswa. Mereka tengah mengumpulkan beberapa fakta lapangan yang membuktikan tindakan refresif aparat tersebut.

“Tidak menutup kemungkinan kami akan mengambil langkah hukum untuk memperjuangkan keadilan bagi teman-teman kami,” katanya.

Aliansi Mahasiswa mengecam tindakan refresif aparat kepolisian yang secara brutal memukul dan menangkap paksa para massa aksi.

“Kami juga tidak akan berhenti bergerak dan melawan sampai Presiden memastikan UU Omnibus Law CILAKA ini betul-betul dibatalkan dengan mengeluarkan PERPPU,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *