Bertahan Hidup di Tengah Pandemi, Pak Torja Dapat Berkah Hari Sumpah Pemuda

Pak Torja saat melihat warungnya usai direnovasi. (Ist)

MEMPAWAH, insidepontianak.comPandemi Covid-19 dirasakan sulit bagi pelaku usaha. Terutama mereka yang punya modal usaha kecil dan pas-pasan. Pendapatan mereka juga berkurang.

Namun demikian, tak sedikit pelaku usaha kecil yang berusaha bertahan dan bangkit. Salah satunya adalah Busri, alias Pak Torja.

Bacaan Lainnya

Kakek berusia 66 tahun ini berdagang terasi dan cencalok di warung reot nyaris roboh di Jalan Gusti Sulung Lelanang, Dusun Bestari, Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalbar.

Selama ini Pak Torja hanya berjualan di warung tepi jalan berukuran 3×3 meter. Warung itu pun kondisinya memprihatinkan. Tiangnya sudah reot sana sini. Bahasa guyonan orang sekitar menyebutnya ‘ditiup angin saja roboh’.

Pak Torja merasa kesulitan merenovasi warung kecil miliknya tersebut. Apalagi sejak sapuan pandemi yang dimulai bulan Maret lalu.

Sudah nyaris delapan bulan penghasilan jualannya merosot. Bagaimana dia menyisihkan untuk merenovasi tempat usaha. Dapat untuk makan sehari-hari saja sudah bersyukur.

“Meskipun pendapatan berkurang. Tapi saya tetap berjualan. Saya yakin rezeki sudah diatur yang Maha Kuasa. Pandemi ini memang menyakitkan. Lebih sakit lagi bagi orang seperti saya,” katanya.

Rabu 28 Oktober 2020, “Selamat Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-92,” kata Pak Torja kepada Komandan Kodim 1201/Mempawah, Letkol Infanteri Dwi Agung Prihanto.

Saat itu, Komandan Kodim datang ke warung milik Pak Torja bersama Komunitas Satu Periok Mempawah. Mereka berencana membantu merenovasi tempat usaha yang sudah tidak layak itu dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda.

“Saya senang bisa bersinergi dengan Komunitas Satu Periok Mempawah. Mereka adalah orang-orang hebat yang memanfaatkan kemampuan mereka untuk orang-orang seperti Pak Torja,” kata Dandim.

Warung Pak Torja sebelum direnovasi. (Ist)

Mulai pukul 07.00 pagi WIB, 15 personel Kodim 1201/Mempawah bersama Komunitas Satu Periok bekerja. Papan dan seng diangkut. Kayu-kayu bersegi diukur sesuai kebutuhan.

“Sementara Pak Torja saya culik dulu bawa ke pasar. Saya ajak dia belanja, dengan memberi dia modal untuk membeli kebutuhan warung,” kata Dandim.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB lebih tipis, terhitung lima setengah jam berlalu warung sudah selesai direnovasi. Pak Torja yang diajak belanja kebutuhan warung dibawa pulang.

Sampai di depan warung dia menangis haru. Warung reot miliknya disulap menjadi semi permanen. Dindingnya yang dicat warna hijau sudah tidak ada kayu yang lapuk lagi. Tiang-tiangnya sudah kokoh.

“Atap daun rumbia sudah kami bongkar dan diganti dengan seng baru. Saya bangga sekaligus haru melihat kebahagiaan Pak Torja,” katanya.

Kini Pak Torja berjualan dengan hati yang bahagia. Dia tidak repot lagi memikirkan bagaimana menyisihkan penghasilan untuk merenovasi warung yang nyaris roboh itu.

“Saya rasa hal sederhana yang kami lakukan ini bisa menjadi contoh dan memberikan semangat bagi para pemuda,” pungkas Dandim. (yak)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *