Korban Tindakan Represif Polisi Minta Mahasiswa dan Masyarakat Tetap Fokus Tolak Omnibus Law

PONTIANAK, insidepontianak.com – Mahasiswa Fisip Untan, Riyoldi yang menjadi korban tindakan represif aparat kepolisian meminta Aliansi Mahaa untuk Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) dan masyarakat Kalbar fokus pada isu utama yaitu menolak Omnibus Law Cipta Kerja.

Riyoldi kini masih dirawat di rumah sakit dan sempat mendapat perawatan intensif karena mendapat perlakuan kasar dari polisi dalam aksi tolak Omnibus Law di Bundaran Digulis Untan, Rabu (28/10/2020).

Bacaan Lainnya

Selain Riyoldi, mahasiswa Fisip Untan lain, Winda Darmawan juga mengalami nasib sama. Aliansi Mahasiswa untuk Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) mencatat, ada 10 rekan mereka luka-luka karena tindakan represif aparat.

“Alhamdulillah saat ini saya sudah agak mendingan, walaupun masih dalam perawatan. Saya minta kawan-kawan Aliansi Mahasiswa dan keluarga besar Fisip Untan untuk fokus pada isu tolak Omnibus Law Cipta Kerja,” jelas Riyoldi kemarin.

Koordinator aksi BEM Fisip Untan ini mengalami luka, lebam, dan nyeri di tubuh. Perlakuan kasar polisi dirasakannya ketika mencoba mengamankan massa aksi agar tidak ditahan atau mengalami tindakan represif oleh kepolisian.

“Alhamdulillah mahasiswa Fisip yang lain yang ikut aksi, dalam keadaan baik-baik saja. Ini membuat saya lega,” katanya.

Aksi tepat di Hari Sumpah Pemuda itu merupakan demonstrasi kesekian dari mahasiswa Kalbar yang menuntut Omnibus Law Cipta Kerja dibatalkan. Aturan itu dibuat tergesa tanpa melibatkan publik dan terkesan menguntungkan pengusaha daripada masyarakat itu sendiri.

“Kami semua yang turun aksi konsisten menuntut presiden menerbitkan Perppu UU Cipta Kerja. Intinya saya dan kawan-kawan mahasiswa tidak akan bosan untuk turun ke jalan dan tetap menjegal UU Cipta Kerja sampai batal,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *