Ramli Rama: Anak Petani Karet Pengawal Pembangunan di Parlemen

Anggota DPRD Kalbar, Ramli Rama.

Anak petani karet dari kampung Manyuke itu, kini sudah jadi anggota parlemen Kalbar. Siap menjadi pejuang pembangunan masyarakat Landak sampai lima tahun ke depan. Sebagaimana tujuan awalnya terjun ke politik.

Pertengahan Oktober lalu, saya berkesempatan bertemu dengan pria 58 tahun bernama lengkap Ramli Rama tersebut. Saat itu, dia tampak sibuk sekali. Maklum saja, jadwal rapat dewan memang sedang padat-padatnya.

Bacaan Lainnya

Ia juga baru saja selesai mengikuti paripurna penyampaian pandangaan umum fraksi-fraksi terhadap rancangan APBD-2021 yang disampaikan Gubernur Kalbar. Saking padat kegiatannya, di pukul 13.30 WIB, Ramli baru bisa makan siang dengan nasi kotak di Ruang Rapat Komisi II.

Ramli merupakan politikus PDI Perjuangan pendatang baru. Meski begitu, ia tak canggung dengan jabatannya sekarang. Sebab ia memahami, tugas utama dewan adalah penyambung lidah konstituen, memastikan pemerataan pembangunan, membuat peraturan yang pro rakyat, dan mengawasi program kerja pemerintah agar berjalan tepat sasaran.

Sedari awal, Ramli sudah berniat masuk politik. Maju calon anggota DPRD Kalbar di Pemilu 2019 lalu, tujuannya murni untuk mengawal pembangunan di Kabupaten Landak. Bukan tanpa alasan. Selama sepuluh tahun belakangan, Manyuke tak memiliki wakil rakyat di DPRD Provinsi Kalbar.

Imbasnya, tidak ada yang mengawal pembangunan untuk masyarakat di sana. Akhirnya pembangunan menjadi tak merata. Kampung halamannya, seolah diabaikan. Dianaktirikan.

“Sehingga saya punya niat, mumpung saya masih merasa gagah, paling tidak lah saya duduk di dewan ini tahu, di mana saja uang yang pemerintah kasih untuk pembangunan di Kabupaten Landak,” ucapnya.

SILATURAHMI – Anggota DPRD Kalbar, Ramli Rama saat bersilaturahmi di rumah salah satu warga di Landak beberapa waktu lalu.

Ramli berpandangan, untuk mengawal pembangunan di suatu daerah, harus ada wakil rakyat yang duduk di parlemen. Pembangunan yang dibutuhkan masyarakat di akar rumput, harus diusulkan. Itulah tugas dewan yang dipilih rakyat.

“Dan mudah-mudahan saya duduk di dewan ini bisa menyuarakan aspirasi masyarakat dapil saya,” harapnya.

Sebagai orang yang tumbuh dan besar di kampung Manyuke, Ramli tahu betul pembangunan apa yang dibutuhkan masyarakat. Misalnya di bidang pertanian, harus dibangun irigasi. Supaya produksi pertanian berlimpah.

Selain itu, pembangunan jalan lingkungan sangat diperlukan. Sebab fasilitas jalan yang baik otomatis bakal berpengaruh dalam percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Ya, pokoknya saya akan berusaha bisa bermanfaat saat duduk sebagai wakil rakyat dengan memperjuangkan pembangunan-pembangunan dasar tersebut,” ujarnya.

Ramli memastikan, jadi dewan bukan untuk mengejar jabatan. Apalagi memperkaya diri. Itu bukan tujuannya. Gaji pensiunan sebagai General Manajer (GM) di PTPN XIII, sudah lebih dari cukup untuk hidup di masa tua. Pun tiga anaknya saat ini sudah sarjana. Semuanya sudah bekerja dan mandiri.

General Manajer dari Keluarga Petani

Pernah hidup susah, menjadi pengingat bagi Ramli untuk selalu berbagi dan saling menolong. Pria kelahiran tahun 1963 itu, memang tumbuh dari keluarga ekonomi pas-pasan. Orang tua hanya petani karet. Penghasilannya kecil. Sementara ada sembilan saudaranya yang harus dihidupi.

Ramli merupakan anak sulung. Kondisi kehidupan yang sulit saat itu membuatnya nekat berjuang untuk mengubah nasib. Setelah tamat SMP di Manyuke, pria yang karib disapa Ramli Gamok itu memutuskan meninggalkan kampung halaman.

Ia merantau ke Pontianak. Supaya bisa dapat sekolah SMA yang lebih baik. Ia pun daftar di STM 1 Pontianak. Diterima. Untuk bisa bayar SPP, Ramli nyambi kerja cuci mobil. Setengah hari kerja, hasilnya Rp500.

“Itu tahun 1978,” ungkapnya.

Hasil kerja cuci mobil, sebagian untuk makan, sebagian lagi ditabung untuk bayar SPP. Hidup di perantauan, membuat Ramli harus pandai-pandai mengurus diri. Harus disiplin mengelola keuangan. Sebab, tak mungkin mengharap kiriman orang tua di kampung yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari.

“Saya harus kerja keras. Bagaimana mencari uang sambil sekolah. Modal saya hanya nekat,” sebutnya.

Seiring berjalannya waktu, hidup di perantauan, Ramli kenal orang banyak. Kenal orang-orang hebat. Salah satunya Mahmud Akil. Mantan pembantu rektor III Untan.

KELUARGA – Ramli Rama berfoto dengan sang istri. Keluarga jadi penyemangatnya dalam mengabdi ke masyarakat.

“Saya sempat kerja tebas rumput di rumahnya. Kalau saya terlambat bayar SPP, saya bilang beliau. Beliau kasih. Beliau kan orang daerah dari Manyuke juga. Sangat baik dan peduli,” kenangnya.

Ramli menamatkan sekolah STM-nya pada 1981. Berbekal ijazah STM itu lah, dia mulai menapaki karier. Lewat Mahmud Akil, Ramli mendapat rekomendasi untuk bekerja di perusahaan kayu PT Alas Kusuma.

“Saya pun kerja. Setahun ditugaskan di Ketapang. Gajinya besar Rp200 ribu per bulan. Uang segitu saat itu banyak sekali,” ujarnya.

Suatu waktu, setahun kerja, tibalah momentum perayaan Natal. Ramli pun pulang ke kampung halaman. Di sela-sela liburan itu, dia dapat informasi ada penerimaan karyawan di PTPN XIII.

Sontak, dia tertarik. Sebab di satu sisi, tempatnya kerja jauh dari keluarga. Akhirnya, ia coba masukan surat lamaran. Sebagai buruh kasar. Gajinya memang lumayan. Upah per hari Rp1.000.

“Singkat cerita, saya pun diterima. Saya kerjalah di PTP tahun 1982,” katanya.

Setelah tiga bulan kerja, dia diangkat sebagai karyawan tetap. Otomatis gaji pun naik. Per bulan ia terima Rp48 ribu. Dari situ, Ramli berkarier. Ia sungguh-sungguh. Kerjanya pun dinilai baik oleh pimpinan.

Tepat lima tahun masa kerja, Ramli dikuliahkan oleh PTPN. Jurusan Perkebunan Diploma III (D3) di sebuah universitas di Yogjakarta. Tahun 1991, ia lulus. Lalu, kembali bekerja di PTPN dengan promosi jabatan baru sebagai asisten manajer.

Jabatan itu, dijalaninya selama 11 tahun. Kinerjanya dianggap baik. Atas penilaian itu, kariernya terus menanjak. Hingga akhirnya diangkat menjadi Manejer dan General Manejer di pabrik PTPN XIII yang berada di Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau sampai tahun 2019.

“2016 sampai 2019, saya mengemban jabatan sebagai GM. Setelah itu saya pensiun,” ucapnya.

Pintu Pengabdian

Di masa pensiun itulah, Ramli terpikir masuk politik aktif. Dunia baru. PDI Perjuangan dipilih sebagai perahu perjuangan. Berbekal pengalamannya sebagai pensiunan GM di PTPN XIII, Rami maju sebagai caleg DPRD Kalbar dapil Landak. Nasibnya mujur. Politisi pendatang baru itu pun terpilih. Dengan perolehan suara sebanyak 10.878 suara.

Menurut pandangannya, politik adalah jalan perjuangan untuk membantu menyejahterakan rakyat secara luas. Karena itu, politik tak boleh dicampuradukkan dengan urusan agama dan kelompok tertentu. Tidak pas. Politik tidak boleh diskriminasi.

“Masuk politik, saya tidak untuk memperkaya diri. Saya ingin berbuat membangun daerah dapil saya. Dasar itulah saya terjun ke politik,” katanya.

Ramli tak pernah menyangka jalan hidupnya bisa seberuntung sekarang. Bisa menjadi GM di perusahaan plat merah hingga kini menjadi politisi aktif duduk di DPRD Kalbar. Apalagi, jika melihat latar belakang keluarganya yang hidup di pedalaman dengan perekonomian pas-pasan.

“Saya dari keluarga susah. Dulu, hari-hari kami semata-mata berpikir apa yang mau dimakan besok. Tidak pernah terbayang punya mobil. Rupanya Tuhan melihat proses perjuangan hidup saya dan memberkati. Saya sangat bersyukur,” ucapnya.

SILATURAHMI – Anggota DPRD Kalbar, Ramli Rama saat bersilaturahmi di rumah salah satu warga di Landak beberapa waktu lalu.

Perjuangan Panjang

Sukses yang diraihnya hari ini merupakan perjuangan panjang. Hasil kerja keras dan disiplin. Berkah didikan orang tua yang selalu menanamkan nilai-nilai optimisme dan kejujuran.

“Orang tua saya tidak pernah menuntut kami harus menjadi sesuatu. Tidak. Mereka hanya mendidik kami agar bertanggung jawab. Menjadi pribadi yang jujur. Kerja keras. Tidak boleh merampas hak orang lain. Bersyukur,” katanya.

Nilai-nilai itu turut diajarkan ke tiga anaknya. Sebab kunci sukses bagi Ramli memang harus dimulai dari kepribadian yang baik. Kerja keras, disiplin, bertanggung jawab, bergaya hidup sederhana, dan harus bisa menghormati perbedaan. Sebab sumber rezeki datang dari relasi. Tak kalah penting adalah tidak takut membantu orang yang sedang kesusahan.

“Kalau sudah sukses harus bisa menolong orang susah. Jangan takut membantu orang. Karena kalau kita bantu 10 orang yang sedang susah, mungkin rezeki kita akan bertambah lebih banyak,” katanya.

Kepada anak muda, Ramli berpesan agar jadi orang yang kreatif. Bercita-cita tinggi. Bermental pengusaha. Jangan selalu berharap jadi pegawai (PNS). Sebab, di masa ini, wiraswastalah yang hebat.

“Kalau hanya sekadar untuk hidup, jadilah pegawai. Tapi untuk kaya tidak. Kalbar ini penduduk baru 5 juta. Lahan sangat luas. Potensi ini harus dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Jangan sampai potensi yang ada justru dinikmati oleh orang luar,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *